Hadapi Berbagai Ketidakpastian, Ketahanan Pangan Indonesia Harus Diperkuat

Selasa, 06 Okt 2026, 03:15 WIB

» Kalau tidak dimitigasi dengan baik, dampak El Nino yang berkepanjangan bisa mempengaruhi pasokan dan mengerek harga pangan.

JAKARTA - Catatan Organisasi Pangan Dunia (Food and Agriculture Organization/FAO) bahwa September 2026 merupakan rekor tertinggi harga pangan dunia harus jadi alarm bagi Indonesia agar tidak puas dengan pencapaian swasembada beras saat ini. 

Ket. Foto: Harga Kebutuhan - Ketika Harga Melambung Tinggi, Daya Beli Masyarakat Makin Tergerus — Sumber: istimewa

Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Eliza Mardian menilai keberhasilan masa tanam Oktober-Desember 2026 menjadi kunci menjaga kesinambungan pasokan pangan pada awal 2027.

Menurut dia, keterlambatan hujan dapat menggeser jadwal tanam dan panen yang seharusnya menopang pasokan pada Februari-April 2027, bertepatan dengan peningkatan kebutuhan pangan saat Ramadhan dan menjelang Idul Fitri.

“Sebenarnya risiko terbesar saat ini bukan cuma produksi yang dipanen, tetapi keberhasilan tanam Oktober-Desember 2026 yang akan menentukan pasokan awal 2027 nanti,” kata Eliza kepada Antara di Jakarta, Senin (5/10).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) produksi padi Januari-Agustus 2026 mencapai 43,89 juta ton gabah kering giling (GKG), naik 0,07 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Eliza mengatakan panen yang masuk saat ini merupakan hasil penanaman pada bulan-bulan sebelumnya. Karena itu, perkembangan luas tanam hingga akhir tahun akan menentukan kesinambungan produksi pada awal 2027.

Jika jadwal tanam mundur atau terjadi gagal panen (puso), panen yang seharusnya menopang pasokan pada Februari-April berpotensi ikut bergeser.

“Hal yang dikhawatirkan selama Februari belum panen raya, tetapi permintaan tinggi. Ini yang perlu diantisipasi agar harga-harga pangan tidak melonjak ketika Ramadhan 2027,” kata Eliza.

Intensitas Sangat Kuat

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 5 Oktober mencatat indeks El Nino-Southern Oscillation (ENSO) periode Juli-Agustus-September sebesar plus 2,70, yang menunjukkan El Nino dengan intensitas sangat kuat.

BMKG juga memprakirakan El Nino bertahan hingga awal 2027. Awal musim hujan di 529 zona musim atau 61,08 persen wilayah Indonesia diprakirakan mundur dibandingkan kondisi normal.

Eliza pun mengingatkan pengalaman El Nino 2023 yang menggeser masa tanam dan waktu panen pada tahun berikutnya. BPS mencatat harga beras pada Maret 2024 meningkat 20,07 persen dibandingkan Maret 2023.

Pada periode tersebut, Bank Indonesia (BI) mencatat inflasi kelompok harga bergejolak (volatile food) mencapai 10,33 persen secara tahunan, antara lain dipengaruhi faktor musiman Hari Besar Keagamaan Nasional dan pergeseran musim tanam akibat El Nino.

“Kalau tidak dimitigasi, dampak El Nino bisa mempengaruhi pasokan dan mengerek harga. Ketika harga-harga melambung tinggi, daya beli masyarakat dapat semakin tergerus,” katanya.

Bank sentral juga mencatat inflasi volatile food September 2026 sebesar 5,03 persen secara tahunan, meningkat dari 4,06 persen pada Agustus.

Tekanan terutama berasal dari cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, beras, dan telur ayam ras seiring penurunan produksi di sejumlah sentra akibat gangguan cuaca serta kenaikan biaya input produksi.

Penanganan kekeringan juga dilakukan Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Hingga 24 September 2026, penanganan telah dilakukan di 3.288 lokasi, termasuk 358 lokasi persawahan yang mencakup sekitar 141.440 hektare.

Langkah tersebut antara lain berupa pemompaan air, normalisasi saluran irigasi, pengaturan giliran air, dan pemasangan pipa.

Pemerintah juga memperkuat stabilisasi pasokan. Badan Pangan Nasional menambah penugasan Perum Bulog untuk menyalurkan 74,18 ribu ton beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) hingga 20 November 2026. Stok Cadangan Beras Pemerintah yang dikelola Bulog tercatat 4,48 juta ton per 30 September 2026.

Lebih lanjut Eliza menilai pompanisasi membantu petani mengakses air, tetapi efektivitasnya tetap bergantung pada ketersediaan sumber air serta jarak antara sumber tersebut dan lahan pertanian.

“Pompanisasi membantu akses air, tetapi tidak menjamin airnya tersedia. Kalau sungai dan embung menyusut, pompa hanya memindahkan kelangkaan dan menambah biaya,” katanya.

Selain pengelolaan air, ia menyarankan kalender tanam disesuaikan dengan prakiraan cuaca dari BMKG serta benih berumur pendek disiapkan bagi daerah yang terpaksa mengundurkan masa tanam.

Ia menambahkan pengaturan waktu tanam secara bertahap antarsentra juga dapat mengurangi kemungkinan sejumlah daerah belum panen secara bersamaan, dengan penerapan yang disesuaikan dengan karakter komoditas.

Untuk cabai, pengaturan waktu tanam, informasi cuaca lokal, serta distribusi dari sentra yang masih panen dinilai penting. Pada beras, cadangan pangan, distribusi dari wilayah surplus ke defisit, dan insentif petani perlu dijaga.

Adapun pada ayam ras dan telur, dampak El Nino cenderung lebih tidak langsung, antara lain melalui biaya jagung pakan dan tekanan panas pada peternakan.

Pada kesempatan terpisah, pengamat pertanian dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Jawa Timur, Surabaya, Ramdan Hidayat, mengatakan,kenaikan indeks harga pangan global FAO ke level tertinggi dalam empat tahun tersebut menjadi sinyal bahwa ketahanan pangan Indonesia perlu diperkuat, terutama menghadapi gangguan logistik, perubahan cuaca, dan ketidakpastian perdagangan global.

“Ini sebenarnya sinyal bahwa pangan global sedang tidak benar-benar aman. Produksi masih tinggi, tetapi begitu logistik terganggu dan cuaca ikut berubah, harga bisa langsung bergerak naik,” kata Ramdan.

  • Daya Beli Masyarakat

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.