Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Bukan Sekadar Sampah, Botol Plastik hingga Kardus di Makassar Punya Nilai Ekonomi.

📅 Selasa, 06 Okt 2026, 12:07 WIB | Oleh:

Cerita serupa datang dari Atma Yualita, pengelola Bank Sampah Kemuning RW17 di kawasan BTN Minasa Upa. Dalam salah satu transaksi, bank sampah yang dikelolanya menjual 959 kilogram sampah senilai Rp2,37 juta.

Penghasilannya dari kegiatan tersebut berkisar Rp1 juta hingga Rp2 juta per bulan, bahkan pernah mencapai Rp16,4 juta dalam setahun. Sebagian hasilnya digunakan untuk membeli emas, memperbaiki rumah serta menabung untuk umrah dan haji.

Ancaman mikroplastik

Di balik nilai ekonomi yang dapat dihasilkan, persoalan sampah juga menyimpan ancaman lingkungan yang lebih besar.

Pakar mikroplastik dari Universitas Hasanuddin Prof Dr Shinta Werorilangi mengingatkan sekitar 90 persen sampah yang berasal dari aktivitas di daratan berpotensi mencemari laut dan menjadi sumber mikroplastik.

Sampah rumah tangga yang tidak tertangani dapat bocor melalui kanal, drainase dan sungai sebelum akhirnya bermuara ke laut. Plastik yang berada lama di lingkungan dapat mengalami pelapukan dan terfragmentasi menjadi partikel berukuran sangat kecil.

Mikroplastik tersebut dapat tertelan biota laut, seperti ikan, udang, dan kepiting, lalu berpotensi masuk ke rantai makanan manusia.

Karena itu, menurut Shinta, persoalan mikroplastik harus ditangani sejak dari sumber. Pemilahan sampah kering dan basah, organik dan anorganik, menjadi langkah penting untuk memudahkan pengolahan dan daur ulang sekaligus mempertahankan nilai ekonomi material yang masih dapat dimanfaatkan.

Kini, tantangan terbesar bank sampah bukan hanya membangun tempat pengumpulan, tetapi menjaga konsistensi masyarakat untuk terus memilah.

Ada bank sampah yang berkembang dan konsisten, namun ada pula yang aktivitasnya melemah. Ketergantungan terhadap bank sampah sektoral atau pusat, keterbatasan modal, kepastian pasar dan minimnya sumber daya manusia menjadi sejumlah tantangan yang masih harus diatasi.

Saharuddin menilai pengelolaan sampah di Makassar membutuhkan sistem terpadu dari hulu hingga hilir. Rumah tangga, permukiman, pasar, perkantoran, fasilitas publik, bank sampah, TPS3R, vendor, industri, dan pemerintah harus berada dalam satu rantai pengelolaan.

Karena itu, keberlanjutan pengelolaan sampah sedikitnya membutuhkan lima aspek: regulasi, kelembagaan, pembiayaan, pemberdayaan masyarakat, dan teknologi.

Pada akhirnya, keberhasilan pengelolaan sampah tidak semestinya hanya diukur dari berapa banyak sampah yang berhasil diangkut menuju TPA. Ukuran yang lebih penting adalah berapa banyak sampah yang berhasil dikurangi, dipilah, digunakan kembali, dan diolah sebelum menjadi residu.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kemenperin Catat Sektor Industri Mainan Indonesia Serap 15.663 Naker
    Pencapaian surplus ekspor industri mainan nasional yang tembus ...
  • Timnas Indonesia Juara FIFA Asean Cup 2026, Tundukkan Thailand 4-2 Lewat Adu Penalti
    final ideal, kekuatan berimbang, pertandingan yg menguras tenaga ...
  • Memahami Kaum Furry, Orang-orang yang Mengidentifikasi Dirinya sebagai Binatang
    Nah thats right thank you ~
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
Ekonomi
Imbas Harga Kedelai Naik, M...

Setu Babakan Mulai Ditata, Banyak UMKM Harus Dipindahkan

44 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Setu Babakan Mulai Ditata, ...
Olahraga
Para Pemain Timnas Indonesi...
Advertisement
Kacau, Malaysia dan Vietnam Melontarkan  Rencana Pembunuhan atas Keluarga Justin Hubner

Kacau, Malaysia dan Vietnam Melontarkan  Rencana Pembunuhan atas Keluarga Justin Hubner

06 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.