Bukan Sekadar Sampah, Botol Plastik hingga Kardus di Makassar Punya Nilai Ekonomi.
📅 Selasa, 06 Okt 2026, 12:07 WIB | Oleh: Yebdi TrismarDi BSS Tallo, misalnya, sebanyak 322 anggota kini tidak hanya memiliki buku tabungan sampah. Mereka juga dapat memantau tabungan dan harga sampah secara digital.
Harga pun bergantung pada kualitas pemilahan. Botol plastik yang telah dibersihkan dari label dan dipisahkan tutupnya dapat dihargai Rp17 ribu per kilogram. Sementara botol plastik campur hanya sekitar Rp5 ribu per kilogram. Artinya, semakin baik warga memilah, semakin tinggi pula nilai ekonomi yang dapat diperoleh.
Dimulai dari rumah
Kebijakan Pemerintah Kota Makassar untuk memilah sampah dari rumah menjadi bagian penting dalam perubahan tersebut.
Kepala UPT Bank Sampah Pusat DLH Makassar Veronika mengatakan sampah rumah tangga idealnya dipilah sejak dari sumbernya, bukan ketika sudah berada di tempat pembuangan.
Sebab, ketika sampah telah bercampur, proses pemanfaatannya menjadi lebih sulit. Sebaliknya, sampah yang sudah dipilah sejak rumah lebih mudah dikelola dan memiliki peluang lebih besar untuk memiliki nilai ekonomi.
Konsep itu tidak hanya berlaku untuk sampah anorganik. Sampah organik, seperti sisa makanan, juga mulai diarahkan untuk diolah menjadi kompos maupun dimanfaatkan dalam budi daya maggot.
TPS3R Panambungan di Kecamatan Mariso menjadi salah satu contoh. Setelah kebijakan pemilahan dari rumah diberlakukan pada 1 Agustus 2026, volume sampah yang diterima meningkat dua kali lipat, dari rata-rata satu ton menjadi 2,6 ton per hari. Sampah tersebut kemudian diolah menjadi maggot, kompos, dan eco-enzyme.
Di Kecamatan Biringkanaya, pola serupa, bahkan berdampak langsung terhadap kebutuhan armada pengangkut ke TPA. Setelah sampah terlebih dahulu dipilah di TPS3R, sampah organik diolah menjadi kompos, sedangkan anorganik dan residu ditangani sesuai jenisnya. Kebutuhan armada menuju TPA turun dari rata-rata empat armada menjadi satu armada.
Bagi sebagian warga, bank sampah bukan sekadar tempat menyetorkan botol plastik atau kardus. Ia dapat menjadi sumber daya untuk menopang kebutuhan keluarga. Nur Chasanah, 62 tahun, adalah salah satu contohnya.
Setelah suaminya terdampak PHK pada masa pandemi COVID-19 pada 2020, ia membantu ekonomi keluarga dengan mengumpulkan botol plastik, gelas plastik, dan kardus.
Selama tujuh tahun menjadi nasabah bank sampah di Perumahan Permata Sudiang Raya, sampah yang ia kumpulkan telah berubah menjadi tabungan emas sebanyak 10 gram. Hasil tabungan sampah itu juga digunakan untuk membayar uang kuliah tunggal (UKT) anaknya.
Ia memilih tidak langsung mengambil uang dari hasil setoran sampah. Tabungan dikumpulkan selama enam bulan hingga cukup untuk membayar UKT. Sebagian lainnya ditabung dan setiap mencapai Rp100 ribu dikonversi menjadi tabungan emas melalui kerja sama bank sampah dengan PT Pegadaian.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!