Demi Gelar Juara, Timnas Indonesia Harus Berikan Segalanya saat Lawan Thailand

Senin, 05 Okt 2026, 15:45 WIB

JAKARTA – Timnas Indonesia harus memberikan segalanya saat bertanding melawan Thailand di final FIFA ASEAN Cup 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) Jakarta, Senin (5/10) pukul 20.00 WIB.

Kendati Pelatih kepala Timnas Indonesia John Herdman berkali-kali mengatakan dia tak bisa mengendalikan hasil akhir pertandingan, baik soal menang atau kalah maupun menjadi juara atau tidak. Bahkan hasil pertandingan ibarat "misteri" bagi Herdman. Ada banyak faktor yang mempengaruhinya, di antaranya keputusan wasit dan "dewi fortuna" yang menjadi bagian tak terpisahkan dalam sepak bola.

Ket. Foto: Timnas Indonesia jalani latihan — Sumber: antara foto

Namun, dia meminta anak-anak asuhnya untuk memberikan segalanya di pertandingan puncak nanti. Inilah satu-satunya yang bisa Herdman janjikan kepada suporter, yang nanti malam akan membuat SUGBK "full house" setelah 67 ribu lembar tiket ludes terjual atau "sold out".

"Tim akan memasuki Stadion Utama Gelora Bung Karno untuk memberikan segalanya bagi negara," kata Herdman pada jumpa pers pra-pertandingan, Minggu.

Final ini merupakan final pertama Herdman untuk Indonesia, setelah ia ditunjuk menjadi nahkoda Garuda pada 10 bulan yang lalu. Bukan hanya bagi Herdman, final ini merupakan final pertama untuk sebagian besar skuad Indonesia.

Herdman sangat antusias memainkan final pertamanya, tetapi ia mengingatkan pasukannya untuk tetap menghormati lawan. Ia tak ingin laga final berlangsung kacau, sehingga rencana permainan yang ia susun tak berjalan dengan baik di lapangan.

Begitu juga dengan Kevin Diks, yang di turnamen ini menjadi kapten tim untuk menggantikan Jay Idzes yang absen karena cedera.

Pemain Borussia Moenchengladbach itu meminta rekan-rekannya untuk tidak terbawa emosi dan tetap menjaga fokus penuh sepanjang pertandingan.

Garuda tidak boleh kehilangan konsentrasi sedikit pun. Pertandingan seperti final memiliki karakter tersendiri karena satu momen saja bisa menjadi penentu hasil akhir.

"Jangan terbawa emosi atau apa pun, karena Anda harus tetap fokus selama 100 menit, bahkan mungkin lebih. Satu momen bisa menjadi penentu dalam final. Jika ada dua tim bagus yang saling berhadapan, satu momen saja sudah cukup dan satu momen bisa menentukan pertandingan," kata pemain yang memenangkan tiga gelar Liga Denmark bersama FC Copenhagen tersebut.

Putus Kutukan

Secara pengalaman, Thailand akan memasuki laga final dengan kepala yang lebih "dingin" karena memang mereka sudah berkali-kali memenangi trofi di Asia Tenggara.

Mental mereka sudah teruji di laga puncak. Thailand sudah menggondol trofi Piala AFF tujuh kali, sementara sejarah masih tak berpihak kepada Indonesia kendati sudah melangkah ke final sebanyak enam kali.

Pengalaman panjang Thailand di sepak bola Asia Tenggara juga diiringi memori indah ketika menghadapi Indonesia pada laga final di SUGBK. Itu terjadi 24 tahun lalu saat kedua tim bertemu di final Piala AFF 2002.

Dalam final yang dipenuhi penonton di SUGBK kala itu, gol Yaris Riyadi dan Gendut Doni Christiawan sempat membuat SUGBK bergemuruh pada babak kedua setelah mereka tertinggal dua gol lebih dulu di babak pertama lewat Chukiat Noosarung dan Therdsak Chaiman.

Namun, sayangnya momentum di babak kedua tak menjadi hasil manis di akhir laga setelah Thailand keluar sebagai juara berkat kemenangan adu penalti 4-2.

Herdman menyebut laga nanti malam sebagai kesempatan emas Indonesia untuk juara. Terakhir kali Indonesia menjuarai kompetisi sepak bola dengan tim senior adalah pada SEA Games 1991 di Manila, Filipina. Ketika itu, Indonesia mengalahkan Thailand melalui adu penalti 4-3 setelah kedua tim bermain imbang tanpa gol selama 120 menit.

Setelah itu, kata juara seperti "haram" disentuh Indonesia. Tak ada lagi euforia bahagia setelah final. Di Piala AFF, Indonesia enam kali menjadi runner-up, yakni pada 2000, 2002, 2004, 2010, 2016, dan 2020. Enam final, enam kali pula langkah terakhir menuju gelar harus berakhir dengan kekecewaan.

Sejatinya, Indonesia memang kembali merasakan gelar sepak bola di SEA Games 2023 Kamboja. Namun, gelar tersebut diraih oleh tim U-22, bukan tim senior.

Selain soal 35 tahun belum juara lagi, laga nanti juga memotivasi Herdman untuk membalikkan tren melawan Thailand, setelah sejarah rekor pertemuan kedua tim lebih berpihak kepada tim yang kini diasuh Anthony Hudson tersebut.

Menurut catatan Kita Garuda, dari 35 pertandingan terakhir di berbagai kompetisi, Indonesia meraih 13 kemenangan, sementara Thailand mengantongi 19 kemenangan. Adapun, kemenangan terakhir Indonesia atas Thailand juga sudah terjadi sangat lama, yaitu satu dekade yang lalu di leg pertama final Piala AFF 2016.

"Jadi, saya yakin mereka akan percaya diri. Mereka memiliki sejarah kemenangan atas Indonesia. Bagi kami, itu merupakan langkah penting yang harus diambil para pemain ini untuk membalikkan tren tersebut," tegas pelatih yang pernah mengantarkan Kanada kembali ke Piala Dunia setelah penantian 36 tahun itu.

"Don't change the winning team"

Start Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 terbilang lamban. Tim Garuda memang mengawali turnamen dengan kemenangan 2-0 atas Singapura, tetapi permainan yang ditampilkan cenderung monoton dan belum menunjukkan identitas permainan yang diinginkan Herdman.

Pada laga kedua, Indonesia ditahan imbang Malaysia tanpa gol. Kartu merah Thom Haye melawan Malaysia membuat Indonesia gagal mengalahkan Malaysia, namun Herdman malah mengambil sisi positif dari situasi tersebut.

Di atas kertas itu sebuah kerugian untuk Indonesia, tetapi Herdman mengambil pandangan lain yang menyebut itu sebagai "anugerah" karena memberikan kesempatan para pemainnya mempererat persaudaraan tentang bagaimana rasanya berjuang bersama.

Baginya, perjalanan sebuah tim tidak selalu dibentuk dari kemenangan yang berjalan mulus. Ada kalanya sebuah tim justru menemukan ikatan yang lebih kuat ketika dipaksa menghadapi kesulitan bersama. Inilah pengalaman yang ia tularkan saat dulu mengarsiteki berbagai tim nasional Kanada di sebuah turnamen besar.

"Kami membutuhkan momen-momen seperti itu," ucap pelatih asal Inggris itu.

Setelah melewati dua laga pertama, Indonesia kemudian tampil lebih meyakinkan menghadapi Bangladesh. Garuda seperti menemukan identitasnya yang selama dua pertandingan awal masih dicari-cari.

Permainan tim lebih cair, agresif, dan tidak monoton. Kekuatan utama tetap dari sisi sayap, tetapi lebih variatif. Sembilan gol berhasil disarangkan, dengan Mitchell Baker sebagai bintangnya karena mengemas lima gol.

Di laga itu, Herdman melakukan dua perubahan besar. Rizky Ridho kembali dipasang di area pertahanan, sementara Calvin Verdonk tak lagi mengisi lini tengah karena dikembalikan ke posisi naturalnya sebagai bek sayap kiri.

Perubahan tersebut terbukti memberikan dampak positif dan oleh karena itu Herdman perlu mempertahankannya. Tidak ada alasan untuk mengubah-ubah the winning team di final, kecuali dengan mengganti Ole Romeny yang diragukan tampil.

Satu gol dan empat assist adalah kontribusi Ole untuk Indonesia di FIFA ASEAN Cup. Namun, jika penyerang Fortuna Sittard itu tak bisa tampil, bukan berarti Indonesia kehilangan peluang untuk menang.

Masih ada Rayhan Hannan, Luke Vickery, hingga Egy Maulana Vikry yang bisa mengambil peran besar. Egy bahkan menunjukkan kontribusinya ketika memberikan umpan kunci dalam proses terciptanya gol yang memastikan Indonesia melaju ke final.

Redaktur: Sriyono

Penulis: Sriyono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.