Laporan PBB Peringatkan Kerusakan Berskala Besar pada Es di Bumi Akibat Perubahan Iklim

Selasa, 03 Nov 2026, 19:40 WIB

PARIS – Perubahan iklim melampaui ambang batas pemanasan global 1,5° Celsius akan membawa konsekuensi yang tidak dapat dipulihkan bagi gletser, es laut, dan wilayah beku di Bumi. Demikian peringatan dalam dua laporan PBB yang dirilis pada Senin (2/11), yang juga menyerukan tindakan segera.

Perjanjian Paris tahun 2015 yang bersejarah berkomitmen untuk membatasi pemanasan global hingga jauh di bawah 2° Celsius, dengan upaya untuk menahannya di angka 1,5° Celsius guna menghindari dampak terburuk dari perubahan iklim.

Ket. Foto: — Sumber: AFP

Salah satu laporan tersebut menyatakan bahwa melampaui target 1,5° Celsius akan menimbulkan dampak berskala besar dan, dalam banyak kasus, tidak dapat dipulihkan terhadap seluruh bentuk es yang ada di Bumi atau kriosfer.

Mencairnya gletser dan es laut, mencairnya lapisan tanah beku (permafrost), serta percepatan kenaikan permukaan laut akan memicu dampak luas mulai dari banjir hingga krisis air. Beberapa dampak dari kenaikan suhu ini sudah terlihat seperti hilangnya 20 persen massa gletser di Swiss.

Namun, PBB memperingatkan bahwa meskipun target 1,5° Celsius tetap relevan, angka tersebut sebenarnya sudah terlalu tinggi bagi kriosfer. Tingkat pemanasan saat ini saja sudah dianggap tidak aman bagi wilayah Arktik, Antartika, gletser pegunungan, dan samudra kutub.

"Meskipun kembali ke angka 1,5° Celsius akan memperlambat hilangnya es, suhu yang benar-benar aman bagi es di Bumi diperkirakan mendekati 1°C atau bahkan lebih rendah dalam beberapa abad mendatang," tambah laporan tersebut.

Pemanasan global kini telah mencapai 1,37° Celsius di atas tingkat praindustri, dan menurut jaringan Copernicus Eropa, ambang batas 1,5° Celsius dapat terlampaui sekitar tahun 2030.

"Tidak ada dampak positif jika kita melampaui 1,5°C," ujar pakar glasiologi James Kirkham, penulis utama salah satu laporan berjudul Overshoot and the Cryosphere (Melampaui Batas dan Kriosfer) yang disusun bersama 80 ilmuwan lainnya.

"Untuk membendung dampak global dan kerusakan akibat hilangnya es di wilayah kutub dan pegunungan dunia, pelampauan batas suhu ini harus ditekan seminimal mungkin," tegas dia. "Setiap tambahan pecahan derajat suhu dan setiap tahun yang dihabiskan dalam kondisi melampaui batas aman (overshoot) berarti dampak yang jauh lebih menghancurkan."

Para ilmuwan juga secara khusus memperingatkan risiko melampaui titik kritis (tipping points) tertentu. Mereka menyatakan bahwa, bahkan jika suhu kembali ke bawah ambang batas 1,5° Celsius, proses pemulihannya akan berlangsung sangat lambat.

Menekan pemanasan hingga di bawah 1,5° Celsius atau bahkan 1° Celsius, dapat membantu sebagian gletser memulihkan diri, sekaligus memberikan manfaat bagi es laut.

Namun, Matthew England, seorang ahli kelautan dan klimatologi di University of New South Wales, Australia, mengatakan bahwa pemulihan tersebut bisa memakan waktu berdekade-dekade hingga berabad-abad.

Laporan kedua yang berjudul State of the Cryosphere 2026: The Cost of Overshoot, menunjukkan bahwa jika suhu melampaui 2,8° Celsius pada abad mendatang, dampaknya akan sangat signifikan.

Menjelang tahun 2150, permukaan laut bisa naik hingga lima sentimeter per tahun, jauh lebih tinggi dibandingkan kenaikan saat ini yang sebesar 0,45 sentimeter per tahun. Sementara itu, mencairnya lapisan tanah beku (permafrost) berpotensi melepaskan karbon dioksida dalam jumlah tahunan yang setara dengan total emisi Amerika Serikat, negara penyumbang polusi terbesar kedua di dunia.

Skenario terburuk yang bukan tidak mungkin terjadi adalah dunia menuju pemanasan sebesar 2,6° Celsius pada tahun 2100, meskipun negara-negara telah memenuhi komitmen iklim mereka.

"Melampaui ambang batas 1,5° Celsius untuk sementara waktu bukan berarti tujuan Perjanjian Paris menjadi tidak relevan; justru, hal ini membuat tujuan tersebut menjadi jauh lebih mendesak," tegas Kirkham.

"Kembali ke angka 1,5° Celsius atau lebih rendah pada tahun 2100 masih dimungkinkan, asalkan ada ambisi politik dan urgensi yang cukup, khususnya dengan mempercepat transisi meninggalkan bahan bakar fosil demi mencapai nol emisi bersih (net zero) pada pertengahan abad ini. Tindakan mendesak seperti itu dapat mencegah, bahkan memulihkan, sebagian kerusakan pada kriosfer (bagian bumi yang membeku)," pungkas dia. ils/AFP/I-1

  • Dampak Perubahan Iklim
  • Pemanasan Global
  • laporan pbb

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP, Ilham Sudrajat

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.