Asian Games 2026 di Jepang Berakhir: Rekor, Kontroversi, dan Hujan Mewarnai Pesta Olahraga Asia
Senin, 05 Okt 2026, 00:30 WIB | Oleh: Benny Mudesta Putra
Doc: Asian Games 2026
NAGOYA – Asian Games di Jepang resmi berakhir pada hari Minggu (4/10) setelah berlangsung selama dua pekan yang diwarnai kemunculan bintang-bintang muda pemecah rekor, tetapi juga dibayangi berbagai persoalan, mulai dari buruknya penyelenggaraan, minimnya penonton, hingga cuaca hujan yang mengganggu sejumlah pertandingan.
Lebih dari 17.000 atlet dan ofisial memadati Nagoya dan Prefektur Aichi untuk mengikuti pesta olahraga terbesar di Asia tersebut. Jumlah peserta itu bahkan lebih banyak dibandingkan Olimpiade.
Salah satu sorotan utama datang dari perenang muda Tiongkok, Yu Zidi. Baru berusia 13 tahun, Yu mencuri perhatian dengan meraih tiga medali emas, seluruhnya sekaligus menghasilkan rekor baru Asian Games.
Penampilan luar biasa tersebut membuat Yu diprediksi menjadi salah satu ancaman serius dalam perebutan medali pada Olimpiade Los Angeles 2028.
Siswi tersebut dinobatkan sebagai salah satu MVP Asian Games setelah tampil gemilang dengan merebut emas nomor 200 meter gaya kupu-kupu serta menyapu bersih nomor gaya ganti perorangan 200 dan 400 meter.
Meski tampil fenomenal, Yu tetap merendah. “Saya tidak merasa seperti apa yang orang-orang gambarkan sebagai anak ajaib,” kata Yu.
Dari kolam renang, rekor dunia juga tercipta melalui perenang Jepang Shin Ohashi. Atlet berusia 17 tahun itu memecahkan rekor dunia nomor 200 meter gaya dada, sekaligus menghidupkan antusiasme publik tuan rumah.
Di cabang atletik, hujan deras mengguyur selama beberapa hari pertandingan. Namun, kondisi tersebut tidak menghentikan sprinter Thailand berusia 20 tahun, Puripol Boonson, yang meraih emas nomor 100 dan 200 meter. Ia kemudian dinobatkan sebagai MVP putra.
Upacara penutupan berlangsung pada malam yang cerah, penuh warna dan pertunjukan musik. Jepang kemudian secara resmi menyerahkan tongkat estafet tuan rumah kepada Doha yang akan menjadi penyelenggara Asian Games 2030.
“Malam ini kita menutup sebuah Asian Games yang akan membentuk generasi berikutnya dari olahraga Asia,” kata Presiden Olympic Council of Asia (OCA), Sheikh Joaan Bin Hamad Al-Thani.
Namun, di balik pencapaian olahraga tersebut, persoalan penyelenggaraan terus menjadi sorotan hingga hari terakhir.
Direktur Jenderal OCA Husain Al-Musallam berusaha membela penyelenggaraan dengan menunjuk fakta bahwa terdapat 50 rekor dunia yang tercipta setelah Asian Games dibuka pada 19 September. “Angka-angka adalah fakta,” ujar Al-Musallam.
Ia juga menekankan pentingnya fasilitas dasar bagi para atlet.
“Para atlet tidak bisa tampil jika mereka tidak tidur dengan baik. Para atlet tidak bisa tampil jika mereka tidak memiliki transportasi yang baik,” katanya.
Asian Games edisi ke-20, yang pertama kali digelar pada 1951, tidak menyediakan kampung atlet tradisional. Langkah tersebut diambil untuk menekan biaya.
Sebagai gantinya, para peserta ditempatkan di unit kayu sementara, kapal pesiar Costa Serena, serta sejumlah hotel.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!