Kopi Sajang Dipacu, BI NTB Bidik Produksi dan Kualitas Makin Tinggi
📅 Jumat, 02 Okt 2026, 21:00 WIB | Oleh: Tim PenulisMATARAM – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Nusa Tenggara Barat terus mendampingi petani kopi di Desa Sajang, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, untuk meningkatkan kualitas dan produksi kopi secara berkelanjutan.
Konsultan Pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Kantor Perwakilan BI NTB, Edy Suhardiman, Jumat (2/10), mengatakan pendampingan tersebut dilakukan untuk memperkuat kapasitas petani sekaligus menjaga kontinuitas pasokan kopi.
"Kebutuhan pasar domestik masih cukup besar sehingga produksi kopi Sajang memiliki peluang untuk terus dikembangkan, termasuk untuk memenuhi permintaan pasar ekspor," katanya.
Ia mengatakan Bank Indonesia telah memberikan berbagai bentuk pendampingan kepada anggota Koperasi Produsen Bumi Tani Lestari Indonesia yang menaungi petani kopi di Desa Sajang.
Bank Indonesia, kata Edy, sebelumnya juga telah memberikan pendampingan melalui kegiatan studi tiru, pelatihan, hingga onboarding. Pendampingan tersebut tidak hanya diarahkan untuk memperluas pasar ekspor, tetapi juga memenuhi kebutuhan kopi di dalam negeri.
"Tidak hanya orientasi untuk ekspor tapi untuk kebutuhan lokal sendiri juga karena belum terpenuhi," ujarnya.
Edy mengatakan kopi Arabika menjadi salah satu komoditas yang masih terus dikembangkan di Desa Sajang.
Untuk itu, Bank Indonesia telah memberikan dukungan terhadap pengembangan benih kopi pada 2023. Benih tersebut dikembangkan melalui kerja sama dengan Kopi Malabar, Jawa Barat.
Anggota Koperasi Produsen Bumi Tani Lestari Indonesia, Ruslan, mengatakan peluang pasar ekspor kopi Sajang mulai terbuka. Selain Korea Selatan, terdapat penawaran dari Jepang meskipun proses negosiasi harga masih berlangsung.
"Kemarin ada penawaran dari Jepang, cuma masih dari apa tawar-menawar terkait harga dan barang juga belum ready, enggak banyak, makanya masih tawar-tawar saja gitu. Masih bentuk green bean," katanya.
Ruslan mengatakan ketersediaan kopi Arabika saat ini masih lebih banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal. Sementara itu, kopi Robusta memiliki produksi yang lebih besar sehingga sebagian dapat dipasarkan ke luar daerah.
"Kalau Arabika kita dominan di dalam. Karena kebutuhan teman-teman masih banyak di sini belum bisa kita penuhi. Kecuali Robusta, karena memang kuantitasnya besar, jadi masih bisa kita bagi ke luar," ujarnya.
Ruslan menyebut produksi kopi robusta di kelompoknya mencapai sekitar 50 ton, sedangkan produksi arabika baru sekitar 5 ton.
Petani juga memasok kopi kepada pembeli dari Kota Mataram yang datang langsung ke Sajang untuk mendapatkan biji kopi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!