Miris, 2.200 Lebih Perempuan dan Anak di DKI Jakarta Jadi Korban Kekerasan pada 2025

Kamis, 01 Okt 2026, 13:43 WIB

JAKARTA – Kekerasan terhadap perempuan dan anak di DKI Jakarta masih sangat tinggi. Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) DKI Jakarta sedikitnya menerima lebih dari 2.200 aduan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak sepanjang 2025, di mana sebagian di antaranya merupakan kekerasan di ranah digital.

Kepala Dinas PPAPP DKI Jakarta, dr. Dwi Octavia Handayani, M.Epid, mengungkapkan jumlah korban perempuan dan anak dalam aduan tersebut terbagi seimbang, masing-masing sekitar 50 persen.

Ket. Foto: Kepala Dinas PPAPP DKI Jakarta, dr. Dwi Octavia Handayani — Sumber: antara foto

“Dalam satu tahun, tahun 2025 lalu, itu kita terima aduan ada 2.200 lebih anak dan perempuan yang menjadi korban kekerasan di DKI Jakarta. Perempuan dan anak kasusnya berimbang, sekitar 50 persen-50 persen, dan sebagian di antaranya merupakan kekerasan di dunia digital,” kata Dwi usai menghadiri Pelatihan HerTech: Perempuan Berdaya AI di Kantor LKBN ANTARA, Jakarta, Kamis (1/10).

Menurut Dwi, data tersebut menegaskan pentingnya upaya pencegahan dini serta peningkatan literasi digital bagi perempuan agar mampu mendeteksi dan mengantisipasi risiko kejahatan siber.

Salah satu bentuk kekerasan yang kian marak dan menyasar kalangan pelajar adalah Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO), termasuk manipulasi foto dan wajah menggunakan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) ke dalam konten tak senonoh.

“Orang tua, khususnya kaum ibu, harus paham teknologi ini supaya kita bisa menyelamatkan diri kita, anak-anak, dan keluarga dari risiko kekerasan, baik yang sifatnya fisik maupun di dunia maya,” ujarnya.

Kendati menyimpan ancaman, Dwi menekankan bahwa perkembangan AI tidak boleh dipandang secara negatif semata. Teknologi ini justru memiliki potensi besar untuk menunjang kehidupan sehari-hari, memberdayakan ekonomi keluarga, hingga memperluas jangkauan pasar produk UMKM rumahan.

Karena itu, ia mendorong kaum perempuan untuk memosisikan diri sebagai pengendali teknologi, bukan korban dari kemajuan digital.

“Kita jangan sampai menjadi objek yang dimanfaatkan oleh AI. Sebaliknya, kita harus menjadi subjek yang bisa mengendalikan dan memanfaatkan AI dengan sebaik-baiknya,” tegas Dwi.

Pelatihan bertajuk HerTech: Perempuan Berdaya AI ini diselenggarakan oleh Federasi Bisnis dan Profesional Wanita Indonesia (BPW Indonesia) berkolaborasi dengan Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) DKI Jakarta, Dinas PPAPP DKI Jakarta, dan ICT Watch.

Redaktur: Sriyono

Penulis: Sriyono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.