Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Krisis RAM Menggila Gara-Gara AI Bikin Harga Smartphone Meroket, Ini Solusi Terbarunya!

📅 Kamis, 01 Okt 2026, 17:55 WIB | Oleh:
Krisis RAM Menggila Gara-Gara AI Bikin Harga Smartphone Meroket, Ini Solusi Terbarunya! Doc: ANTARA/Farhan Arda Nugraha
Ket. Chief Marketing Officer Qualcomm Inc. Don McGuire (kanan) menjawab pertanyaan wartawan dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta, Kamis (1/10).

JAKARTA - Executive Vice President and Chief Marketing Officer Qualcomm Incorporated Don McGuire menyebut lonjakan harga memori yang terjadi di tengah keterbatasan pasokan memori belakangan ini sebagai penyebab anomali kenaikan harga ponsel pintar.

Dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (1/10), dia mengemukakan bahwa harga ponsel baru biasanya terutama ditentukan berdasarkan inovasi atau fitur yang ditawarkan oleh ponsel, seperti performa perangkat, dukungan kamera, dan daya tahan baterai.

"Setiap kali ponsel baru diluncurkan oleh produsen, apakah itu Samsung, Oppo, Xiaomi, atau siapapun, mereka menetapkan harga perangkat mereka sesuai dengan inovasi yang mereka hadirkan," katanya.

"Yang menyebabkan anomali adalah biaya memori," katanya merujuk pada biaya memori yang kini jauh lebih tinggi dari kondisi normal.

Don mengatakan bahwa harga memori saat ini dapat melonjak hingga sekitar 10 kali lipat dan kondisi itu berdampak signifikan terhadap biaya produksi ponsel.

Menurut dia, memori kini menjadi komponen yang membutuhkan biaya lebih besar dari keseluruhan biaya produksi ponsel. Kondisi yang demikian tidak pernah terjadi sebelumnya.​​​​​​​

Don memperkirakan bahwa dalam jangka pendek biaya memori masih menjadi faktor yang paling menentukan dalam penetapan harga ponsel.

"Ketika anomali tersebut terkoreksi, saya pikir kita akan kembali ke kurva harga dan biaya produksi yang normal," katanya.

Solusi hadapi kelangkaan

Pada kesempatan yang sama, Qualcomm menyiapkan arsitektur High Bandwidth Compute (HBC) sebagai solusi untuk menghadapi kelangkaan dan kenaikan harga memori yang saat ini menekan industri teknologi.

Chief Marketing Officer Qualcomm Inc. Don McGuire mengatakan bahwa pasokan memori saat ini menjadi terbatas karena sebagian besar suplainya diserap oleh pusat data untuk kecerdasan buatan.

"Akibatnya, sektor elektronik konsumen dalam bisnis ini menghadapi tantangan dalam mendapatkan memori," katanya dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis.

"Biaya memori terus meningkat karena suplainya semakin langka. Itulah yang memicu masalah ekonomi dan membuat harga ponsel pintar ikut naik," ia menambahkan.

Guna menghadapi persoalan tersebut, Qualcomm mengembangkan HBC agar penggunaan konfigurasi memori bisa lebih efisien.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
Megapolitan
Pemprov Dorong Segala Proye...
Megapolitan
Epicentrum Events Gairahkan...
Nasional
Pemerintah Dorong Keamanan ...
Advertisement
Hasil Akhir Persija vs Arema FC: Macan Kemayoran Sikat Singo Edan 5-1, Rebut Puncak Klasemen Super League

Hasil Akhir Persija vs Arema FC: Macan Kemayoran Sikat Singo Edan 5-1, Rebut Puncak Klasemen Super League

21 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.