Kabut Asap Tak Kunjung Hilang, BMKG Kotim Ungkap Penyebabnya
📅 Kamis, 01 Okt 2026, 14:50 WIB | Oleh: Tim PenulisSAMPIT - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kotawaringin Timur (Kotim), kalimantan Tengah tak kunjung reda.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan dinamika atmosfer yang dipengaruhi Siklus Walker menjadi salah satu faktor penyebab kabut asap akibat karhutla di wilayah tersebut sulit terurai.
“Ketika terjadi updraft atau udara naik, biasanya dalam kondisi cuaca yang labil, kondensasi akan naik ke atas sehingga terbentuk awan. Namun, kondisi sekarang lebih cenderung terjadi daya dorong atmosfer ke bawah. Akibatnya, asap seperti terkurung di permukaan,” kata Kepala BMKG Kotim melalui Stasiun Meteorologi Haji Asan, Mulyono Leo Nardo di Sampit, Kamis (1/10).
Ia menjelaskan, kondisi atmosfer saat ini membuat proses pengangkatan uap air ke lapisan atas tidak berlangsung optimal. Hal ini berkaitan dengan Siklus Walker yang merupakan pola sirkulasi atmosfer di wilayah tropis.
Perubahan suhu permukaan laut di kawasan Pasifik dapat mempengaruhi pola sirkulasi tersebut sehingga Indonesia pada kondisi tertentu lebih banyak mengalami gerakan udara turun. Keadaan ini juga berkaitan dengan rendahnya labilitas atmosfer yang menghambat pertumbuhan awan dan peluang terjadinya hujan.
Gerakan udara turun atau downdraft menyebabkan pembentukan awan hujan menjadi kurang signifikan. Dalam kondisi normal, uap air yang mengalami kondensasi akan terdorong naik, membentuk awan dan selanjutnya berpotensi menghasilkan hujan.
“Sekarang kondensasi tidak bisa naik karena uap airnya tidak cukup dan labilitas atmosfer juga rendah. Gerakan udara yang lebih dominan dari atas ke bawah justru menekan pembentukan awan,” ujar Mulyono.
Kondisi atmosfer tersebut membuat asap hasil karhutla bertahan lebih lama di permukaan. Situasi semakin sulit apabila kecepatan angin relatif rendah karena asap tidak segera terbawa keluar dari wilayah terdampak.
“Kalau anginnya tidak terlalu kencang, asap tidak bisa terbawa ke mana-mana. Akhirnya berkumpul dan terkurung di wilayah tersebut. Kalau ada angin yang lebih kencang, biasanya asap bisa terbawa,” katanya.
Selain menyebabkan asap bertahan lebih lama, kondisi tersebut dapat berdampak terhadap jarak pandang masyarakat. Penurunan jarak pandang menjadi lebih sulit diprediksi karena sumber asap yang mempengaruhi suatu wilayah tidak selalu berasal dari lokasi setempat.
Berdasarkan pengamatan historis BMKG Kotim, tingkat kepekatan kabut asap cenderung meningkat pada pagi hingga subuh. Kondisi biasanya mulai membaik sekitar pukul 08.00 WIB hingga menjelang tengah hari.
Namun, setelah sekitar pukul 12.00 WIB, kepekatan asap kembali berpotensi meningkat hingga sore hari. Pola tersebut berkaitan dengan dinamika atmosfer harian dan kondisi sumber asap di sekitar wilayah terdampak.
“Kalau melihat historis kami, kecenderungannya kabut asap lebih pekat pada pagi atau subuh. Sekitar pukul 08.00 WIB mulai membaik hingga sekitar pukul 12.00 WIB. Setelah itu mulai pekat lagi sampai sore,” ujarnya.
Mulyono mengingatkan pola tersebut tidak selalu terjadi. Pada kondisi tertentu, tingkat kepekatan kabut asap dapat bertahan relatif sama sejak pagi hingga sore sehingga jarak pandang berpotensi tetap terbatas dalam waktu lebih panjang.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!