Es Antartika Menyusut ke Level Terendah Ketiga, Ilmuwan Peringatkan Dampak Baru
📅 Kamis, 01 Okt 2026, 00:01 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SBOULDER - Es laut Antartika kembali mencatat kondisi ekstrem. Data terbaru menunjukkan luas maksimum es laut pada musim dingin 2026 menjadi yang terendah ketiga sejak pencatatan satelit dimulai pada 1979.
Menurut laporan The Guardian, luas es laut Antartika mencapai maksimum pada 14 September 2026, dengan cakupan sekitar 17,59 juta kilometer persegi. Angka tersebut sekitar 1 juta kilometer persegi di bawah rata-rata jangka panjang.
Ilmuwan senior National Snow and Ice Data Center (NSIDC), Dr Walt Meier, sebelumnya menunda konfirmasi puncak karena masih terdapat kemungkinan perubahan dalam siklus pertumbuhan es.
Namun, setelah luas es terus menyusut sejak 14 September, Meier menyatakan puncak musim dingin kemungkinan telah tercapai.
Catatan tersebut menambah daftar anomali dalam beberapa tahun terakhir. Empat maksimum musim dingin terendah sepanjang sejarah pencatatan justru terjadi dalam empat tahun terakhir.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ahli Samudra Selatan dari Monash University, Ariaan Purich, mengatakan pola tersebut menjadi indikasi bahwa kondisi es laut Antartika mulai mengalami perubahan yang lebih konsisten.
“Ini bukan lagi peristiwa yang terjadi sekali saja. Es laut tidak lagi menutupi wilayah laut seluas dulu,” kata Purich.
Menurut dia, berulangnya musim dingin dengan cakupan es yang rendah menunjukkan adanya perubahan perilaku sistem es laut seiring menghangatnya iklim.
“Ini bukan masalah di masa depan. Ini masalah saat ini,” ujarnya.
Kondisi tersebut terjadi setelah sejumlah anomali cuaca ekstrem di kawasan Antartika. Pada Juni 2026, Semenanjung Antartika mengalami gelombang panas dengan suhu mencapai sekitar 20 derajat Celsius di atas normal.
Sementara pada awal Agustus, ketika es laut seharusnya masih mengalami pertumbuhan, sebagian wilayah Laut Amundsen justru mengalami kehilangan es yang signifikan.
Purich mengatakan perubahan pola angin yang berkaitan dengan El Niño di Pasifik tropis kemungkinan ikut memengaruhi kondisi tersebut.
Phil Reid dari Biro Meteorologi Australia menjelaskan bahwa El Niño dapat mengubah pergerakan sistem badai di sekitar Antartika. Kondisi itu dapat membuat badai bertahan di wilayah tertentu dan mengaduk es laut.
Namun, menurut Reid, faktor iklim tidak hanya bergantung pada fenomena El Niño.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!