SMK Go Global Perlu Perkuat Kesiapan Kerja Generasi Muda
📅 Rabu, 30 Sep 2026, 00:32 WIB | Oleh: Tim PenulisJakarta - Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) menyatakan bahwa sebanyak 100 peserta mengikuti pelatihan barista yang diadakan Balai Latihan Kerja (BLK) selama 16 hari, sebagai bagian dari program SMK Go Global.
"Melalui program SMK Go Global ini, lulusan SMK bisa mendapatkan pelatihan skill, kemudian mendapatkan sertifikat yang itu bisa menunjang kemampuan dan nilai jualnya ketika nanti berada di tempat kerja," kata instruktur Barista BLK Kabupaten Garut, Aline Novita Dewi, dalam keterangan KP2MI, Jakarta, Selasa (29/9).
Aline menilai pelatihan dalam program SMK Go Global tidak hanya meningkatkan kemampuan peserta untuk menghasilkan secangkir kopi yang enak.
Lebih dari itu, peserta, katanya, dipersiapkan agar memiliki sikap dan kebiasaan kerja yang dibutuhkan ketika memasuki dunia industri. Peserta juga perlu dibekali kedisiplinan, etika, kemampuan berkomunikasi, dan sikap kerja agar mampu beradaptasi ketika berada di lingkungan kerja yang baru.
Selama 160 jam pelajaran, peserta mempelajari berbagai kompetensi, mulai dari mengelola bahan dan peralatan, mengelola area kerja, menggunakan alat manual brew dan mesin espresso, menangani pelanggan, hingga menerapkan keselamatan dan kesehatan kerja, kata Aline lebih lanjut.
Komposisi pembelajaran juga tidak hanya berfokus pada keterampilan teknis. Sekitar 70 persen pelatihan diarahkan pada hard skill, sementara 30 persen lainnya merupakan soft skill yang mendukung kesiapan peserta di lingkungan kerja.
Kemudian, pada dua hari terakhir, peserta mengikuti simulasi open kedai. Mereka bergantian menjalankan peran sebagai barista, kasir, pelayan, maupun pelanggan. Simulasi tersebut memberikan pengalaman menghadapi situasi yang lebih mendekati kondisi kerja sebenarnya.
"Selain itu, kedisiplinan juga menjadi bagian dari proses pembentukan karakter peserta. Seluruh peserta jam tujuh pagi harus sudah sampai di sini. Jadi kita ada kegiatan rutin apel pagi jam setengah delapan, itu semuanya wajib hadir," kata Aline.
"Kalau tidak hadir, ada konsekuensinya. Jadi itu adalah untuk membentuk etos kerja dan kedisiplinan peserta. Kalau kita permudah, 'kan kita tidak tahu ya nanti di tempat kerjanya seperti apa," tambah Aline.
Saat disinggung mengenai perbedaan lulusan SMK dengan yang lain, Aline mengatakan bahwa lulusan SMK lebih unggul karena sudah dipersiapkan untuk memasuki dunia kerja. Hal itu bisa terlihat dari kemampuan dasar pesertanya.
"Memang yang dari lulusan-lulusan SMK ini lebih sigap kalau bisa dikatakan. Jadi ketika praktik dan menerima materi, mereka sudah lebih paham bagaimana harus bersikap. Mereka saat belajar di SMK sudah diajarkan untuk siap bekerja, jadi ketika mendapat pelatihan di sini, mereka memang sudah siap," katanya.
"Kalau saya sebagai instruktur itu melihatnya memang berbeda dari etos kerjanya, dari mulai kedisiplinannya dan kemandiriannya. Intinya memang kalau dari lulusan SMK itu memang sudah siap untuk bekerja," kata Aline lebih lanjut.
Aline mengakui kelebihan program SMK Go Global memberikan kesempatan kepada para peserta, baik itu lulusan SMK maupun SMA, untuk mendapatkan kesempatan kerja. Apalagi saat ini mendapatkan pekerjaan tidak mudah, terlebih bagi yang belum memiliki pengalaman kerja.
Bagi peserta yang belum memiliki pengalaman, lanjut Aline, proses belajar membutuhkan latihan berulang. BLK Garut menerapkan praktik dan evaluasi melalui battle barista untuk melihat kemampuan peserta sekaligus mengetahui bagian yang masih perlu ditingkatkan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!