Pengusaha Mongolia Bidik Kerja Sama Baru, Farmasi hingga Energi Jadi Incaran
📅 Rabu, 30 Sep 2026, 05:34 WIB | Oleh: Marcellus WidiartoULAN BATOR - Pelaku usaha dari Mongolia ingin memperluas kerja sama di bidang farmasi hingga energi dengan Indonesia.
"Kami melihat adanya peluang untuk memperluas kerja sama di bidang farmasi, manufaktur terkait kesehatan, barang konsumsi, dan produk pangan maupun peluang menjanjikan di sektor-sektor yang berorientasi masa depan, seperti energi terbarukan, teknologi hijau, dan efisiensi energi," kata Presiden Kamar Dagang dan Industri Nasional Mongolia (Mongolian national Chamber of Commerce and Industry atau MNCCI) Baatarjav Lkhagvajav di Ulan Bator, Mongolia pada Selasa.
Baatarjav mengungkapkan hal tersebut dalam forum bisnis yang bertajuk "70 years of Partnership: A New Era of Cooperation" yang dihadiri sekitar 35 pelaku usaha baik dari Indonesia maupun Mongolia secara langsung maupun daring.
Mongolia dan Indonesia menjalin hubungan diplomatik sejak 21 Desember 1956 dan memperingati 70 tahun hubungan diplomatik pada 2026.
"Saat ini, daya saing bisnis global tidak lagi semata-mata ditentukan oleh biaya produksi yang rendah. Faktor-faktor seperti teknologi, efisiensi energi, standar lingkungan, keandalan rantai pasok, dan produksi berkelanjutan menjadi semakin penting," ungkap Baatarjav.
Perkembangan tersebut menurut dia menciptakan peluang baru bagi kerja sama antara perusahaan Mongolia dan Indonesia.
"Tahun ini menandai peringatan 70 tahun terjalinnya hubungan diplomatik antara Mongolia dan Republik Indonesia. Selama 70 tahun terakhir, hubungan persahabatan antara kedua negara kita telah berkembang secara stabil di berbagai bidang, mulai dari politik, ekonomi, budaya, hingga kemanusiaan," tambah Baatarjav.
Baatarjav mengungkapkan meski Mongolia dan Indonesia terpisah jarak geografis yang jauh, perekonomian kedua negara memiliki potensi besar untuk saling melengkapi.
"Pada tahun 2025, total perdagangan bilateral antara kedua negara mencapai 47,4 juta dolar AS. Dari jumlah tersebut, ekspor Mongolia hanya mencakup sekitar 168.000 dolar AS, sementara impor dari Indonesia ke Mongolia mencapai sekitar 47,25 juta dolar AS. Angka-angka ini menyoroti satu fakta penting: tingkat perdagangan bilateral saat ini masih jauh di bawah potensi maksimalnya," jelas Baatarjav.
Oleh karena itu, ia menyebut tujuan utama forum bisnis kali ini bukan sekadar membahas angka perdagangan saat ini, melainkan menjajaki bagaimana kedua negara dapat membawa hubungan ekonomi kita ke tingkat yang lebih tinggi, misalnya kerja sama di bidang pangan, pertanian, dan produk peternakan, khususnya dalam pengembangan rantai pasok daging dan produk olahan daging yang memenuhi standar halal.
"Mongolia memiliki keunggulan signifikan dalam hal bahan baku berbasis peternakan dan produk alam. Sementara itu, Indonesia, dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa, merupakan salah satu pasar terbesar di Asia Tenggara serta konsumen utama produk pangan dan olahan," tambah Baatarjav.
Bidang lainnya adalah sektor pertambangan, peralatan pertambangan, teknologi, dan jasa.
"Dengan menghubungkan kebutuhan sektor pertambangan Mongolia dengan kemampuan manufaktur, teknologi, dan pasokan Indonesia, kita dapat melangkah lebih jauh dari sekadar perdagangan barang biasa menuju pengembangan kerja sama di bidang teknologi, jasa, investasi, dan proyek bersama," ungkap dia.
Bidang lain adalah sektor pariwisata karena Indonesia dikenal secara internasional karena pantai, pulau-pulau, lanskap tropis, budaya yang unik, serta beragam produk wisatanya. Sebaliknya, Mongolia menawarkan padang rumput luas yang terbuka, budaya nomaden, sejarah yang kaya, alam yang masih asli, wisata petualangan, dan tradisi yang khas.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!