Bukan Sekadar Gangguan Kesuburan, Mengenal PMOS dan Risikonya
📅 Rabu, 30 Sep 2026, 23:22 WIB | Oleh: Haryo BronoJAKARTA — Istilah Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) yang selama ini dikenal sebagai salah satu gangguan hormonal pada perempuan kini memasuki babak baru. Melalui konsensus global yang dipublikasikan dalam jurnal medis The Lancet pada Mei 2026, para ahli menyepakati nama Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS) sebagai nama baru untuk kondisi tersebut.
Perubahan nama itu bukan sekadar pergantian istilah. Konsensus internasional yang melibatkan pasien, tenaga kesehatan multidisiplin, dan organisasi dari berbagai wilayah dunia menilai istilah PCOS kurang menggambarkan kompleksitas kondisi tersebut.
Proses penyusunan nama baru dilakukan melalui survei global, metode Delphi, lokakarya, serta analisis implementasi dan komunikasi. Dalam proses tersebut, 14.360 orang dengan PCOS dan tenaga kesehatan ikut memberikan masukan.
Menurut Dr. dr. Gita Pratama, Sp.O.G, Subsp.F.E.R., M.Rep.Sc., Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Fertilitas Endokrinologi Reproduksi RS Pondok Indah IVF Centre, perubahan istilah tersebut penting karena kondisi ini tidak hanya berkaitan dengan ovarium dan kesuburan.
“Selama ini, PCOS kerap dipahami sebagai gangguan yang ditandai oleh adanya ‘kista’ pada ovarium. Padahal, gambaran pada pemeriksaan ultrasonografi umumnya berupa banyak folikel kecil yang berkaitan dengan gangguan perkembangan folikel dan ovulasi, bukan kista ovarium patologis,” ucapnya.
Nama PMOS dinilai lebih mencerminkan karakter kondisi yang melibatkan berbagai sistem tubuh, termasuk gangguan endokrin, metabolik, dan fungsi ovarium. Dalam konsensus The Lancet, istilah polyendocrine, metabolic, dan ovarian dipilih untuk menggambarkan aspek-aspek tersebut.
Bukan Hanya Masalah Kesuburan
PMOS sebelumnya dikenal luas sebagai PCOS dan diperkirakan memengaruhi sekitar satu dari delapan perempuan secara global. Kondisi ini berkaitan dengan gangguan hormonal dan ovulasi, tetapi manifestasinya dapat meluas ke berbagai aspek kesehatan.
“PMOS merupakan gangguan kompleks yang melibatkan banyak sistem, bukan hanya gangguan pada ovarium, tetapi juga hormonal dan sistem metabolik,” ujar Gita.
Aspek metabolik yang dapat menyertai kondisi tersebut antara lain resistensi insulin, gangguan kadar gula darah, diabetes tipe 2, gangguan kadar lemak darah, hipertensi, hingga peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Gangguan tidur seperti sleep apnea juga dapat berkaitan dengan kondisi ini.
Sementara dari sisi reproduksi, PMOS dapat menyebabkan gangguan ovulasi, siklus menstruasi tidak teratur, kesulitan memperoleh kehamilan, serta komplikasi tertentu selama kehamilan. Kondisi ini juga dapat disertai masalah dermatologis seperti jerawat, pertumbuhan rambut berlebih atau hirsutisme, dan kerontokan rambut. Aspek psikologis seperti kecemasan, depresi, serta penurunan kualitas hidup juga menjadi bagian dari spektrum kondisi tersebut.
Dengan demikian, perubahan nama menjadi PMOS sekaligus menegaskan bahwa penanganan kondisi ini tidak semestinya hanya berfokus pada masalah menstruasi atau kesuburan.
Faktor Genetik dan Metabolik
Penyebab PMOS belum sepenuhnya diketahui. Faktor genetik diketahui berperan, sementara berbagai faktor lingkungan dan gaya hidup dapat berkontribusi terhadap munculnya atau memburuknya gangguan metabolik.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!