Taman Budaya Dituntut Jadi Penggerak Ekosistem Kebudayaan
📅 Selasa, 29 Sep 2026, 16:00 WIB | Oleh: Eko SYOGYAKARTA – Taman Budaya di berbagai daerah di Indonesia didorong mengambil peran lebih luas dalam menghidupkan ekosistem kebudayaan. Fungsinya tidak sebatas menyediakan ruang pertunjukan, tetapi juga perlu mendukung regenerasi pelaku budaya, pengembangan kreativitas, hingga terbukanya peluang ekonomi bagi masyarakat.
Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X menyampaikan hal tersebut saat membacakan sambutan Gubernur DIY dalam Opening Ceremony Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia (TKTB) XXV 2026 di Taman Budaya Yogyakarta, Senin (28/9) malam.
TKTB XXV 2026 berlangsung pada 28 September hingga 1 Oktober 2026. Forum tersebut mempertemukan pengelola Taman Budaya dari berbagai daerah untuk bertukar gagasan, karya, pengalaman, serta strategi dalam menjaga sekaligus mengembangkan kehidupan kebudayaan.
Dalam sambutannya, Paku Alam X menyoroti tantangan agar kebudayaan mempunyai daya yang mampu menghidupi para pelakunya. Tidak hanya seniman, tetapi juga maestro dan pewarisnya, kreator muda, hingga masyarakat yang menjadi bagian dari ekosistem kebudayaan.
“Bagaimana kebudayaan memiliki daya untuk menghidupi? Menghidupi senimannya. Menjaga keberlanjutan maestro dan pewarisnya. Membuka kemungkinan bagi kreator muda. Menggerakkan usaha masyarakat. Melahirkan pekerjaan. Dan pada akhirnya, meninggikan martabat manusia yang menjaga nyala kebudayaan,” tuturnya.
Menurut Paku Alam X, ekonomi kreatif mempunyai relevansi dalam upaya tersebut. Pengembangannya dapat menjadi jembatan untuk memberikan nilai tambah ekonomi terhadap kekayaan budaya, dengan tetap mempertahankan nilai dan identitas yang menjadi sumber kekuatannya.
“Akar memberi identitas. Kreativitas menumbuhkan cabang. Kesejahteraan adalah buah yang semestinya dapat dipetik bersama. Di sanalah ingatan bertemu imajinasi. Maestro bertemu generasi. Tradisi memperoleh kemungkinan baru melalui teknologi. Dan karya menemukan masa depannya,” katanya.
Karena itu, pertemuan Taman Budaya se-Indonesia diharapkan tidak berhenti sebagai forum pertukaran gagasan. Pertemuan tersebut juga menjadi ruang untuk menerjemahkan gagasan ke dalam proses penciptaan, pengembangan, dan perawatan kehidupan kebudayaan.
Paku Alam X mengatakan kebudayaan merupakan sungai panjang ingatan peradaban. Kebudayaan mengalir dari masa lalu dengan membawa pengetahuan lintas generasi, kemudian mencari muara di tengah perubahan zaman.
Menurutnya, kebudayaan perlu terus dirawat dan diolah agar dapat berbicara kepada zamannya tanpa kehilangan ingatan mengenai asal-usulnya. Gagasan tersebut menjadi bagian dari makna tema TKTB XXV 2026, Gyaning Rasa Mantraning Nusantara, Srawung Karya, Gulawenthah Budaya.
“Srawung mempertemukan. Gulawenthah mematangkan. Karya memberi tubuh kepada gagasan. Maka sesungguhnya, kebudayaan bukanlah kata benda. Kebudayaan adalah kata kerja. Budaya hidup karena terus dilakukan, diwariskan, ditafsirkan, diciptakan kembali, dipertemukan dengan zaman, lalu diteruskan kepada generasi berikutnya. Inilah ruh gulawenthah, ketika kebudayaan terus diolah, agar mampu berbicara kepada zamannya, tanpa kehilangan ingatan tentang asalnya,” jelasnya.
Melalui TKTB XXV 2026, Paku Alam X berharap kebudayaan tidak hanya terus lestari, tetapi juga semakin mempunyai arti bagi kehidupan masyarakat saat ini dan memiliki daya untuk menghidupi masa depan.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menilai Taman Budaya memiliki posisi penting dalam kebudayaan nasional. Menurutnya, Taman Budaya berada di titik temu sejumlah fungsi strategis, yakni sebagai daya ikat kohesi bangsa (binding power), sumber jati diri (source of identity), penggerak pertumbuhan (engine of growth), serta sarana diplomasi soft power di tingkat global.
Fadli mengatakan Taman Budaya tidak lagi hanya dapat dipandang sebagai gedung pertunjukan. Keberadaannya merupakan infrastruktur kebudayaan yang dapat menjadi ruang produksi pengetahuan, regenerasi talenta, sekaligus pusat penggerak ekosistem kebudayaan nasional.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!