Diet Cuma Andalkan Makanan Rebus? Dokter Bongkar Kesalahan yang Sering Dilakukan
Selasa, 29 Sep 2026, 01:55 WIBJAKARTA - Dokter spesialis gizi klinik lulusan Universitas Indonesia dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK menyebut diet sehat tidak cukup hanya dengan sekadar mengonsumsi makanan rebusan saja.
âBoleh makan rebusan mungkin kalau di pagi lebih mudah. Tapi saya selalu rekomendasikan kalau bisa tetap lengkap. Ada proteinnya," kata Juwalita dalam konferensi pers di Jakarta, Senin.
Juwalita yang kini praktik di Rumah Sakit Pusat Pertamina itu menyampaikan makanan rebusan dapat menjadi salah satu pilihan, terutama pada pagi hari. Namun, ia mengingatkan agar menu tetap dilengkapi dengan sumber protein.
Hal ini dikarenakan menu seperti kentang, ubi, singkong, dan jagung tidak dengan sendirinya memenuhi kebutuhan protein.
Dia menekankan tubuh juga membutuhkan asupan protein seperti telur, edamame atau tahu yang dikukus. Selain protein, lemak juga tetap dibutuhkan saat seseorang menjalani diet.
âJadi lemak tetap kita perlukan. Jadi gak selamanya harus makanannya itu blend hanya rebus-rebusan, kemudian tanpa lemak, tanpa minyak sama sekali,â ujarnya.
Juwalita menambahkan minyak tetap dapat digunakan dalam makanan, tetapi dalam batas yang wajar. Sementara itu, konsumsi makanan yang seluruhnya dimasak dengan cara deep fried (digoreng dengan banyak minyak) tidak dianjurkan.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan intervensi lulusan Universitas Andalas dr. Bobby Arfhan Anwar, Sp.JP (K), FIHA menambahkan bahwa untuk hidup dengan sehat, tiap individu perlu memperhatikan makanan dan minuman yang dikonsumsi.
"Kita perlu memperhatikan apa yang kita makan dan minum. Rendah gula, rendah lemak, rendah garam. Apalagi di usia 30-an, jangan samakan dengan anak-anak yang lebih muda," kata Bobby.
Faktor lain yang akan mendukung tubuh menjadi lebih sehat menurutnya adalah menghirup udara yang bersih dengan menjauhi penyebab polusi udara atau asap rokok dan vape, rajin berolahraga dan menerapkan gaya hidup aktif seperti berjalan kaki atau kardio, menjaga jam tidur dan mengelola stres.
Seluruh faktor itu, katanya, tidak hanya akan berkaitan dengan kesehatan tubuh, tetapi juga menjaga kondisi jantung dan mencegah terkena obesitas atau kegemukan.
"Kalau ada kegemukan itu pada umumnya terjadi ketika faktor-faktor itu tidak seimbang, akhirnya kita menjadi gemuk dan gemuk itulah yang nanti berdistribusi menyebabkan penyakit jantung," tambahnya.
Redaktur: Marcellus Widiarto
Penulis: Marcellus Widiarto
Berita Terkait:
-
Panglima TNI Lantik 51 Perwira Muda Keahlian Khusus Siber TA 2025
-
Celios: Utang Swasta Melambat, Pemerintah Meningkat!
-
Kasus ISPA di Lampung Melonjak Akibat Erupsi Anak Krakatau
-
Akses Kerja Formal Dinilai Krusial Dongkrak Konsumsi Rumah Tangga
-
Sulawesi Utara, Daerah Tutuyan, Diguncang Gempa Magnitudo 5,7
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.