Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Warga Swiss Memilih Tetap Netral Tanpa Harus Terisolasi dari Dunia

📅 Senin, 28 Sep 2026, 20:17 WIB | Oleh:
Warga Swiss Memilih Tetap Netral Tanpa Harus Terisolasi dari Dunia Doc: AFP/FABRICE COFFRINI/GETTY IMAGES

BERN - Warga Swiss memberikan suara pada Minggu (27/9) mengenai usulan yang banyak diperdebatkan untuk memperketat netralitas negara mereka yang sangat dijunjung tinggi, dengan hasil jajak pendapat menunjukkan bahwa mayoritas akan menolak inisiatif yang didukung oleh sayap kanan ekstrem dan dijuluki “pro-Rusia” oleh para penentangnya.

Pemungutan suara langsung mengenai topik tersebut dan topik lainnya dimulai pada pukul 10.00 pagi (08.00 GMT) sebagai bagian dari sistem demokrasi langsung Swiss, meskipun sebagian besar warga memberikan suara lebih awal melalui pos.

Masyarakat Swiss secara luas menerima netralitas mereka, namun inisiatif untuk mengukuhkan definisi yang ketat ke dalam konstitusi telah memunculkan perbedaan pendapat yang mendalam mengenai apa yang dimaksud dengan netralitas tersebut.

Posisi tradisional Swiss adalah netralitas militer yang didukung oleh persenjataan yang memadai, namun perang Rusia di Ukraina kembali memunculkan pertanyaan mengenai sikap netralitasnya dalam konflik-konflik luar negeri.

Merespons keputusan Bern untuk mendukung tekanan ekonomi Uni Eropa, organisasi pro-kedaulatan Pro Switzerland berhasil mengumpulkan cukup banyak tanda tangan untuk memicu pemungutan suara publik—sesuai sistem demokrasi langsung negara tersebut—tentang pengukuhan netralitas secara lebih tegas dalam konstitusi.

Usulan tersebut telah ditolak mentah-mentah oleh hampir seluruh kalangan politik, dengan jajak pendapat menunjukkan bahwa sebagian besar pemilih akan melakukan hal yang sama.

Moskow, yang telah mengecam Swiss karena bergabung dengan sanksi UE dan menuduh Bern mengabaikan netralitasnya, justru memuji inisiatif tersebut — yang dijuluki “pro-Rusia” oleh beberapa penentang.

Usulan tersebut menyerukan agar konstitusi menjamin bahwa netralitas Swiss bersifat “terlindungi dan abadi”.

Hal itu akan mencegah Swiss—yang netralitasnya telah ada sejak tahun 1516 dan diakui secara internasional sejak tahun 1815—untuk menjalin hubungan yang lebih erat dengan NATO, serta akan mengesampingkan segala bentuk aliansi militer kecuali jika negara tersebut diserang.

Selain itu, hal itu akan melarang penerapan sanksi kecuali jika diminta oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Semua pihak dalam perdebatan ini berargumen bahwa mereka ingin mempertahankan netralitas Swiss. Baik pemerintah maupun parlemen Swiss telah menolak usulan tersebut, dengan alasan bahwa usulan itu terlalu dogmatis dan akan membatasi ruang gerak negara di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.

“Netralitas selalu diterapkan dengan tingkat fleksibilitas tertentu,” tegas Menteri Luar Negeri Swiss Ignazio Cassis dalam debat yang disiarkan televisi baru-baru ini.

Meskipun Swiss tidak berencana mencabut larangan penjualan senjata ke negara-negara yang sedang berkonflik, termasuk Ukraina, ia menekankan bahwa “netralitas tidak berarti ketidakpedulian”.

Negara ini, katanya, “tidak akan berpaling ketika melihat pelanggaran terhadap aturan internasional yang justru memungkinkan kita hidup dalam damai”.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
  • Mentan Bidik Investasi Besar, Industri Bioetanol Nasional Mulai Digenjot
    Langkah strategis dari pemerintah pusat, khususnya melalui jaminan ...
  • Kemenperin Perkuat Kemitraan IKM Singkong dan Industri Nasional
    Langkah Kemenperin mengintegrasikan IKM olahan singkong melalui Program ...
  • Industri Bioetanol Indonesia Mau Digenjot, Mentan Bidik Investasi BUMN dan Swasta
    Potensi penghematan devisa negara hingga mencapai Rp500 triliun ...
Advertisement
FIFA Asean Cup 2026: Drama VAR! Thom Haye Kartu Merah, Indonesia Vs Malaysia Masih 0-0 di Babak Pertama

FIFA Asean Cup 2026: Drama VAR! Thom Haye Kartu Merah, Indonesia Vs Malaysia Masih 0-0 di Babak Pertama

28 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.