- Home
-
- Megapolitan
-
- Mikroba Bumi Mampu Bertaha...
Mikroba Bumi Mampu Bertahan Hidup dalam Simulasi Lingkungan Bulan Planet Saturnus
Minggu, 27 Sep 2026, 00:03 WIBMUNICH - Eksperimen terbaru memperkuat dugaan bahwa Enceladus, salah satu bulan Saturnus, memiliki lingkungan yang berpotensi mendukung kehidupan.
Dari The Guardian, peneliti berhasil menunjukkan bahwa mikroba Bumi yang hidup di sekitar lubang hidrotermal laut dalam dapat bertahan dalam kondisi yang dibuat menyerupai lautan asin di bawah kerak es Enceladus.
Mikroba yang digunakan merupakan kelompok metanogen yang ditemukan di dekat lubang hidrotermal di Palung Okinawa, antara Jepang dan Taiwan. Organisme tersebut memperoleh energi dengan mengubah hidrogen dan karbon dioksida menjadi metana.
Para ilmuwan dari Universitas Ludwig-Maximilian di Munich menciptakan simulasi lingkungan Enceladus dengan mencampurkan air, garam, karbonat dan material batuan. Kondisi tersebut dibuat untuk meniru lingkungan yang sangat basa serta reaksi antara air dan dasar laut berbatu yang diperkirakan berlangsung di bawah permukaan Enceladus.
Reaksi batuan dan air dalam eksperimen menghasilkan hidrogen. Kondisi tersebut kemudian digunakan untuk menguji apakah mikroba metanogen mampu bertahan dan berkembang.
Hasilnya mengejutkan. Mikroba tetap tumbuh meski tingkat keasaman larutan mencapai pH 11, kondisi yang jauh lebih basa dibandingkan batas yang sebelumnya diketahui dapat ditoleransi organisme tersebut.
Mikroba juga diketahui mampu menyesuaikan metabolismenya ketika menghadapi konsentrasi karbon dioksida yang rendah.
âJika kita menggunakan definisi seluler kehidupan yang kita pahami di Bumi saat ini, eksperimen menunjukkan bahwa jika organisme ini, atau sesuatu yang mirip dengannya, berada di Enceladus, ada kemungkinan besar ia dapat bertahan hidup,â kata William Orsi, profesor geomikrobiologi Universitas Ludwig-Maximilian di Munich.
Enceladus selama ini menjadi salah satu target utama pencarian kehidupan di luar Bumi. Pengamatan wahana Cassini milik NASA sejak 2000-an, serta teleskop James Webb, mengungkap adanya semburan uap air dan butiran es dari wilayah kutub selatan bulan tersebut.
Semburan itu juga memberikan bukti mengenai keberadaan samudra air asin yang berada di bawah kerak es Enceladus. Dasar samudra tersebut diperkirakan memiliki aktivitas hidrotermal yang dapat menyediakan energi bagi kehidupan mikroba.
David Rothery, profesor ilmu kebumian planet di Open University, mengatakan eksperimen tersebut menghilangkan salah satu hambatan terhadap kemungkinan kehidupan mikroba di Enceladus.
Namun, para peneliti menegaskan bahwa eksperimen ini belum membuktikan adanya kehidupan di Enceladus. Percobaan hanya berlangsung selama beberapa hari sehingga belum diketahui apakah mikroba dapat bertahan dalam jangka waktu jauh lebih lama.
âBisakah mereka bertahan selama setahun? Bisakah mereka bertahan selama satu juta tahun? Kita tidak tahu,â kata Orsi.
Penelitian lain yang diterbitkan bersamaan juga menunjukkan bahwa material dari lautan Enceladus dapat terdistribusi secara tidak merata ketika membeku menjadi butiran es dalam semburan. Jika terdapat mikroorganisme di dalamnya, sebagian kecil partikel es berpotensi mengandung konsentrasi material biologis yang lebih tinggi.
Kondisi tersebut dinilai dapat membantu pencarian tanda-tanda kehidupan tanpa harus mengebor kerak es Enceladus.
Ketertarikan terhadap bulan Saturnus itu pun semakin besar. Badan Antariksa Eropa tengah mengusulkan misi yang menggabungkan pengorbit Saturnus dengan pendarat Enceladus untuk mencari biosignatur dari semburan samudra bawah permukaannya.
Dengan jadwal peluncuran yang diusulkan sekitar 2042, misi tersebut diperkirakan baru akan mencapai sistem Saturnus pada dekade 2050-an.
- Bulan Saturnus
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.