Kurang Pasokan, Harga Beberapa Jenis Cabai di Purwokerto Kembali Melonjak
📅 Minggu, 27 Sep 2026, 14:02 WIB | Oleh: Tim PenulisPURWOKERTO – Harga beberapa jenis cabai di Pasar Manis, Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, kembali melonjak seiring berkurangnya pasokan dari petani karena faktor regenerasi tanaman serta kekeringan yang menyebabkan tanaman lama cepat mengering dan rusak.
“Harga cabai rawit merah hari ini kembali naik menjadi Rp80.000 per kilogram setelah sempat bertahan di kisaran Rp75.000 per kg dalam satu pekan terakhir,” kata salah seorang pedagang sayuran, Anjar di Pasar Manis, Purwokerto, Minggu (27/9).
Menurut dia, kenaikan harga juga terjadi pada cabai rawit hijau, yakni dari Rp60.000 per kg menjadi Rp70.000 per kg serta cabai merah besar naik dari Rp55.000 per kg menjadi Rp60.000 per kg.
Sementara untuk harga cabai merah keriting dalam satu pekan terakhir masih bertahan di kisaran Rp65.000 per kg setelah mengalami kenaikan dari Rp60.000 per kg pada pekan sebelumnya.
“Kenaikan harga beberapa jenis cabai ini dipengaruhi oleh minimnya pasokan dari petani,” katanya.
Dalam kesempatan terpisah, Kepala Dinas Perdagangan Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (DPKUKM) Kabupaten Banyumas Gatot Eko Purwadi mengakui harga aneka cabai di wilayah itu mengalami kenaikan tetapi tidak terlalu signifikan seperti yang terjadi di sejumlah daerah.
Menurut dia, kenaikan harga itu terjadi karena faktor regenerasi tanaman cabai atau masa peralihan dari tanaman lama menuju tanaman baru.
“Aneka cabai yang dijual saat ini merupakan sisa panen dari tanaman lama karena tanaman baru belum produksi,” katanya.
Sementara itu, petani pegiat Asosiasi Champion Cabai Indonesia (ACCI) Kabupaten Banjarnegara Teguh Suprapto mengakui saat sekarang petani di berbagai sentra cabai, termasuk Banjarnegara, sedang meregenerasi atau peremajaan tanaman.
Ia memperkirakan produksi cabai dari tanaman baru tersebut dapat dipetik mulai akhir Oktober 2026, sehingga harga aneka cabai di pasaran masih berpotensi melonjak kembali karena pasokan dari petani mengandalkan tanaman lama yang tidak lagi produktif.
“Di sisi lain, faktor kekeringan menyebabkan tanaman cepat kering dan rusak. Hasil panen pun kurang maksimal karena air yang terbatas,” katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!