80% Pasar Masih di Pertamina Group, PDC Incar Pasar Eksternal Lewat Bisnis Baru
Sabtu, 26 Sep 2026, 09:42 WIBINDRAMAYUâ Dominasi pasar PT Patra Drilling Contractor (PDC) masih bertumpu pada Pertamina Group. Sekitar 80% pendapatan masih berasal dari internal, dengan rincian 50% dari PDSI dan 30% dari Pertamina Group lainnya, sementara pasar non-Pertamina baru 10-20%.
Kondisi itu mendorong PDC memperluas penguasaan pasar ke luar ekosistem Pertamina melalui strategi diversifikasi.
Direktur Utama PDC, Hery Lesmana, mengatakan pasar eksternal masih sangat luas untuk digarap, salah satunya lewat bisnis baru trading OCTG (Oil Country Tubular Goods).
"Yang pipa tubing itu trading, OCTG namanya. Selama ini kami hanya supply ke PDSI saat drilling. Padahal kebutuhan OCTG cukup banyak, di Pertamina Group saja banyak. Kami sedang mencoba membangun kapabilitas ke sana," ujar Hery di Indramayu, Kamis (25/9).
Model bisnis trading dinilai efektif untuk penetrasi pasar karena tidak membutuhkan aset besar. PDC cukup menggandeng manufaktur terpercaya untuk memasok ke pasar Pertamina Group maupun non-Pertamina.
Tak hanya OCTG, PDC juga mengembangkan divisi EPC dan konstruksi serta trading chemical production yang selama ini hanya menjadi pendukung proyek internal.
Meski gencar ekspansi, empat bisnis inti tetap menjadi penopang utama tahun ini, yakni Food and Lodging Services (FLS), manpower supply, heavy transport equipment, dan marine services.
Di sektor marine, PDC mencatat pertumbuhan lewat penyediaan oil boom untuk penanggulangan tumpahan minyak yang kini telah terpasang di wilayah Offshore Southeast Sumatra (OSES) dan Patra Niaga wilayah timur dan barat.
"Setiap perusahaan oil and gas wajib menyiapkan equipment yang ready jika terjadi insiden tumpahan minyak. Itu bentuk kesiapsiagaan," jelasnya.
Untuk memperkuat daya saing di pasar eksternal, PDC juga mengedepankan inovasi dekarbonisasi. Salah satunya teknologi Mikroalga di Subang berkapasitas 0,7 EPS yang mampu menekan emisi CO2 hingga hampir 200% dari target.
"Itu berhasil mengurangi CO2, capaiannya hampir 200 persen dari target. Teknologinya fit for purpose dan tidak makan kapital tinggi," ungkap Hery.
Teknologi yang merupakan inovasi Pertamina dan ditugaskan kepada PDC ini tengah direview bersama PHE dan Pertamina Persero untuk direplikasi di lokasi lain. Bahkan contohnya bisa dilihat di lobi kantor PDC Matraman berupa akuarium berwarna hijau.
Selain itu, PDC akan memulai program dual fuel untuk rig dan heavy equipment sebagai bagian dari efisiensi energi.
Dari sisi pendukung pasar, digitalisasi dan prinsip ESG terus diperkuat. Digitalisasi dipakai untuk pemasaran lewat website dan marketplace serta monitoring equipment. Sementara program ESG dijalankan melalui program Malika, pengolahan minyak jelantah dari catering FLS yang diolah kembali menjadi bagian dari program CSR.
"Setiap unit bisnis kami tidak akan buang limbah sembarangan. Limbah yang masih bisa dimanfaatkan seperti minyak jelantah justru kami jadikan CSR," pungkas Hery didampingi Corporate Secretary PDC Ani Aryani.
- Minyak dan Gas Bumi
- Pertamina Group
- Pertamina Drilling
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Viral Spot Bugenvil Danau Sarangan Mirip Lake Como Italia, Lokasi Syuting Star Wars Attack of the Clones
-
Dari Limbah Dapur Jadi Cuan! PDC Ubah Jelantah Jadi Sabun & Lilin di Rokan Hilir
-
Dorong Ekonomi Lokal, Warga Rokan Hilir Dilatih Sulap Minyak Jelantah Jadi Lilin dan Sabun
-
Hari Kedua Puluh Satu Penanganan Gempa NTT, TNI Kirim 1.201,5 Ton Bantuan.
-
PDC Sulap Pabrik Tempe Pesantren di Indramayu, Produksi Naik 3 Kali Lipat
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.