Korsel Desak Penghentian Program Nuklir dan Pelonggaran Sanksi Korut
📅 Rabu, 23 Sep 2026, 02:45 WIB | Oleh: Tim PenulisSEOUL – Pemimpin Korea Selatan (Korsel) dalam sebuah sesi wawancara dengan New York Times menyatakan Amerika Serikat (AS) seharusnya berupaya untuk membekukan, bukan langsung menghapus, program nuklir Korea Utara (Korut) dan menawarkan keringanan sanksi sebagai imbalannya.
Pernyataan Presiden Lee Jae-myung itu telah membalikkan pendirian pendahulunya, Yoon Suk-yeol, sejak ia menjabat pada Juni 2025, dengan menawarkan pembicaraan kepada Pyongyang tanpa prasyarat.
Kepemimpinan Korut sejauh ini belum menanggapi satu pun tawaran yang diajukannya.
Terlepas dari sanksi PBB yang telah berlangsung lama, Korut telah mengabadikan statusnya sebagai negara bersenjata nuklir dalam hukum, dengan para pemimpinnya berulang kali menyatakan persenjataan atomnya bersifat permanen dan tidak dapat diubah.
Pada saat yang sama, Pyongyang telah mengamankan dukungan penting dari Russia di samping sekutu tradisionalnya, Tiongkok, sehingga mengurangi keuntungan yang bisa diperoleh dari diplomasi yang diperbarui dengan Presiden AS, Donald Trump.
"Saya percaya ada nilai signifikan dalam pertukaran antara sanksi yang bagaimanapun juga tidak terlalu efektif dan penghentian pengembangan senjata nuklir tambahan dan teknologi misil balistik antarbenua," kata Presiden Lee seperti dikutip dalam sesi wawancara yang diterbitkan pada Senin (21/9).
"Mengupayakan denuklirisasi dalam keadaan saat ini dijamin tidak akan ada yang tercapai," kata Lee kepada surat kabar AS tersebut.
Presiden Korsel sebelumnya mengatakan bahwa membekukan kemampuan nuklir Pyongyang pada tingkat saat ini dengan menangguhkan produksi baru dan mencegah impor bahan nuklir itu sendiri akan menjadi keuntungan.
Para kritikus mengatakan pendekatan seperti itu berisiko karena secara diam-diam menerima Korut sebagai negara bersenjata nuklir sekaligus memungkinkan Pyongyang untuk mendapatkan keringanan sanksi tanpa melepaskan persenjataannya.
Senjata Baru
Sementara itu media pemerintah Korut pada Selasa (22/9) melaporkan bahwa pemimpin Korut, Kim Jong-un, telah meninjau uji coba sistem senjata tipe baru dan menyebutnya sebagai bukti kemajuan teknologi militer negara itu.
Informasi itu disampaikan dua hari setelah Korsel dan Jepang mengatakan Pyongyang telah meluncurkan dua misil balistik jarak pendek ke perairan di lepas pantai timurnya, yang dikecam oleh kedua negara tersebut sebagai ancaman terhadap perdamaian dan keamanan regional.
“Biro misil Korut berhasil menguji jenis senjata baru pada hari Minggu di hadapan pemimpin Kim Jong-un,” lapor kantor berita KCNA.
Pyongyang tidak merinci sistem senjata apa yang dimaksud, tetapi mengatakan Kim Jong-un amat puas dengan peluncuran senjata baru tersebut dan menyebutnya sebagai demonstrasi yang sangat mencolok dari teknologi pertahanan ultra-modern.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!