• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Sulit Buang Air Kecil, Kap...

Sulit Buang Air Kecil, Kapan Pria Perlu Memeriksakan Prostat?

Selasa, 22 Sep 2026, 12:10 WIB

JAKARTA — Gangguan prostat merupakan salah satu masalah kesehatan yang kerap dialami pria, terutama ketika memasuki usia lanjut. Keluhan seperti sulit buang air kecil, pancaran urine melemah, lebih sering buang air kecil, hingga merasa kandung kemih belum kosong sepenuhnya sering dianggap sebagai bagian dari proses penuaan. Padahal, keluhan tersebut dapat disebabkan oleh berbagai kondisi medis yang membutuhkan penanganan berbeda.

Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Onkologi RS Pondok Indah – Pondok Indah, dr. Andar R. Siregar, Sp.U, Subsp.Onk.(K), menjelaskan bahwa gangguan prostat tidak hanya berkaitan dengan pembesaran prostat jinak atau benign prostatic hyperplasia (BPH), tetapi juga dapat berupa prostatitis dan kanker prostat. Hal tersebut disampaikan dr. Andar dalam acara media briefing di Jakarta.

Ket. Foto: Edukasi Kesehatan Prostat — Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Onkologi RS Pondok Indah – Pondok Indah, dr. Andar R. Siregar, Sp.U, Subsp.Onk.(K), saat menyampaikan paparan dalam media briefing di Jakarta mengenai pentingnya mengenali gejala dan penanganan gangguan prostat sejak dini. — Sumber: Koran Jakarta - Haryo Brono

Prostat merupakan kelenjar berukuran kurang lebih sebesar buah kenari yang terletak tepat di bawah kandung kemih dan mengelilingi uretra, yakni saluran yang membawa urine keluar dari tubuh. Salah satu fungsi utama kelenjar ini adalah menghasilkan cairan semen yang membantu memberikan nutrisi dan membawa sperma. Seiring bertambahnya usia, prostat secara alami dapat mengalami pembesaran akibat pengaruh hormon testosteron. Jika jaringan prostat yang membesar tersebut menekan uretra, aliran urine dapat terganggu dan memicu berbagai keluhan.

“Namun, tidak semua gangguan buang air kecil disebabkan oleh pembesaran prostat. Karena itu, mengenali jenis gangguan prostat dan melakukan pemeriksaan ketika muncul keluhan menjadi penting,” ungkapnya.

Salah satu gangguan prostat yang paling umum adalah BPH, yakni kondisi pembesaran kelenjar prostat yang bersifat jinak dan bukan kanker. Menurut dr. Andar, BPH dapat dialami oleh sekitar 50 persen pria pada usia 60-an dan hingga 90 persen pria berusia di atas 80 tahun. Ketika prostat semakin membesar, jaringan tersebut menekan uretra sehingga memunculkan gejala seperti sulit memulai buang air kecil, pancaran urine melemah, harus mengejan, lebih sering buang air kecil, terbangun pada malam hari untuk buang air kecil, serta merasa buang air kemih belum tuntas. Seluruh keluhan ini dikenal sebagai lower urinary tract symptoms (LUTS) atau gejala saluran kemih bagian bawah.

Risiko gangguan prostat juga meningkat seiring pertambahan usia, riwayat keluarga, faktor genetik tertentu seperti mutasi BRCA, serta gaya hidup tidak sehat seperti kurang aktivitas fisik, obesitas, hipertensi, dan pola makan tinggi lemak jenuh. Selain BPH, terdapat pula kondisi prostatitis, yakni peradangan atau pembengkakan pada prostat yang sering kali berkaitan dengan infeksi bakteri. Berbeda dengan BPH yang umum pada lansia, prostatitis lebih sering ditemukan pada pria usia muda atau paruh baya, sehingga penanganannya pun memerlukan terapi yang berbeda.

Kondisi lain yang patut diwaspadai adalah kanker prostat, yang terjadi ketika sel ganas tumbuh pada jaringan prostat. Tantangan utama dari kanker prostat adalah sifatnya yang kerap tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Ketika keluhan mulai muncul, gejalanya sering kali menyerupai gangguan saluran kemih akibat BPH. Oleh karena itu, munculnya gangguan buang air kecil tidak bisa langsung disimpulkan sebagai pembesaran prostat jinak tanpa pemeriksaan medis yang akurat.

Perkembangan teknologi urologi kini membuat pilihan penanganan BPH semakin beragam, disesuaikan dengan tingkat keparahan gejala, ukuran prostat, dan kondisi pasien. Metode konvensional yang kerap digunakan adalah transurethral resection of the prostate (TURP), di mana jaringan prostat yang menyumbat diangkat melalui uretra menggunakan energi listrik untuk ukuran prostat di bawah 80 gram. Pilihan lainnya adalah anatomical endoscopic enucleation of the prostate (AEEP), termasuk teknik Holmium laser enucleation of the prostate (HoLEP) dan thulium laser enucleation of the prostate (ThuLEP) yang memanfaatkan energi laser. Teknik AEEP dinilai efektif untuk berbagai ukuran prostat dengan risiko perdarahan yang lebih rendah dan masa pemulihan yang lebih cepat.

Selain itu, tersedia pula metode rezum water vapor therapy yang menggunakan energi panas dari uap air steril untuk mengecilkan jaringan prostat secara bertahap tanpa pengangkatan langsung, yang cocok untuk prostat di bawah 80 gram dengan prosedur rawat jalan. Sementara untuk penanganan kanker prostat, pilihannya meliputi radical prostatectomy dengan bantuan robotik, terapi fokal seperti high-intensity focused ultrasound (HIFU) atau cryotherapy, hingga terapi hormonal atau androgen deprivation therapy (ADT) untuk kasus yang sudah menyebar.

Menjaga kesehatan prostat sejak dini dapat dilakukan melalui penerapan pola hidup sehat, rutin berolahraga, menjaga asupan nutrisi seimbang, serta melakukan pemeriksaan kesehatan berkala, terutama bagi pria di usia berisiko atau memiliki riwayat keluarga. Konsultasi dengan dokter urologi sangat dianjurkan apabila keluhan berkemih mulai menetap, sehingga penanganan yang tepat dapat diberikan sejak dini tanpa harus selalu berujung pada tindakan operasi.

  • kanker prostat
  • Kesehatan Pria
  • urologi
  • pembesaran prostat
  • TURP
  • Rezum
  • Operasi robotik
  • Gangguan prostat
  • BPH
  • Prostatitis
  • Gejala prostat
  • HoLEP
  • ThuLEP
  • Kesehatan pria lanjut usia

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.