Seraf Naro dan Perjuangan Satu Setengah Bulan Menuju Perunggu

Minggu, 20 Sep 2026, 15:39 WIB

NAGOYA, JEPANG -- Medali perunggu yang diraih atlet wushu Indonesia Seraf Naro Siregar pada nomor changquan putra Asian Games Aichi-Nagoya 2026 menjadi buah perjuangan panjang setelah ia harus berpacu dengan waktu untuk memulihkan cedera kedua kakinya.

Sekitar satu setengah bulan sebelum pertandingan, Naro mengalami cedera pada meniskus kaki kiri dan tendon patela kaki kanan.

Ket. Foto: Pewushu Indonesia Seraf Naro Siregar berpose dengan medali yang diraihnya pada wushu nomor taolu changquan putra Asian Games Aichi-Nagoya 2026 di Aichi Prefectural Martial Arts Hall, Aichi, Jepang, Minggu (20/9). — Sumber: ANTARA/Fauzan

Kondisi tersebut sempat mengganggu persiapannya karena nomor changquan menuntut atlet melakukan berbagai gerakan lompatan dan pendaratan dengan tingkat kesulitan tinggi.

Namun, keterbatasan fisik tidak membuat Naro menyerah. Dengan program pemulihan khusus serta dukungan tim pelatih, ia akhirnya mampu tampil pada kondisi terbaik yang bisa dicapainya dan mengamankan medali perunggu sekaligus memastikan medali pertama bagi kontingen Indonesia di Asian Games Aichi-Nagoya.

"Memang tidak parah, tetapi cukup mengganggu karena ada rasa nyerinya. Ketika saya mencoba melompat seperti biasa, ada trigger point dan rasa nyeri itu muncul. Otomatis otak mengirim sinyal ke otot untuk pindah ke tempat yang tidak sakit," kata Naro seusai pertandingan di Aichi Prefectural Martial Arts Hall, Jepang, Minggu.

Cedera tersebut membuat persiapan Naro jauh dari kondisi ideal.

Dalam persiapan normal menjelang pertandingan, ia dapat menjalani latihan teknik sekitar 10 kali dalam sepekan. Namun, kali ini intensitas latihan harus dikurangi karena kaki mudah terasa kencang dan kehilangan tenaga setelah menjalani latihan.

"Kalau latihan sedikit saja, kaki sudah kencang. Kaki sudah tidak bisa buat lompat, kaki sudah tidak ada tenaga," ujarNaro.

Sebagai gantinya, tim pelatih menyusun program pemulihan yang lebih banyak berfokus pada penguatan dan terapi. Naro menjalani latihan penguatan, terapi tusuk jarum, hingga shockwave therapy yang dilakukan secara rutin.

Untuk latihan teknik, ia bahkan hanya mampu berlatih sekitar dua hingga tiga kali dalam sepekan. Kondisi itu menjadi tantangan tersendiri mengingat kebutuhan latihan seorang atlet wushu meningkat ketika memasuki masa persiapan pertandingan.

Naro mengapresiasi dukungan para pelatih dan tim pendukung yang membantu menyesuaikan program latihan dengan kondisi fisiknya. Ia secara khusus menyebut “Ci Susiana, Coach Raka, Chang Laosi, dan Ko Haris” yang banyak mendampinginya selama proses pemulihan.

"Terima kasih atas segala pengertiannya. Mereka membantu saya banyak, terutama dalam menyesuaikan program latihan dengan kondisi kaki saya," kata Naro.

Perjuangan Naro semakin tidak mudah karena changquan bukan merupakan nomor utamanya. Nomor tersebut sebelumnya dikenal sebagai nomor andalan seniornya, Edgar Xavier Marvelo, yang meraih medali perak pada edisi sebelumnya.

Karena itu, Naro mengaku sempat diliputi keraguan sebelum pertandingan. Namun, dukungan keluarga dan para pelatih membuatnya mampu membangun kembali kepercayaan diri untuk menghadapi persaingan.

"Ini memang pengalaman yang cukup baru bagi saya. Sebenarnya ini bukan nomor utama saya, jadi sempat ada keraguan sebelum pertandingan. Tetapi saya mendapat dukungan dari keluarga dan para pelatih sehingga cukup yakin untuk tampil maksimal," ujar Naro.

Tantangan lain muncul karena Naro mendapat giliran tampil sebagai atlet pertama. Menurut dia, tampil lebih awal memberikan tekanan tersendiri karena penampilannya dapat menjadi tolok ukur bagi atlet yang tampil setelahnya.

"Untuk nervous pasti semua atlet mengalaminya. Main pertama itu memang tidak mudah karena kita merasa menjadi bahan tolok ukur. Puji Tuhan saya bisa mengontrolnya cukup baik," kata Naro.

Ia kemudian menjalankan rangkaian gerakannya dengan baik dan mengumpulkan skor 9,720 poin untuk menempati posisi ketiga dari 21 atlet. Ia memperoleh nilai 5,00 untuk kualitas gerakan, 2,720 untuk performa keseluruhan, dan 2,00 untuk tingkat kesulitan.

Hasil tersebut sempat menempatkannya di posisi teratas sebelum dua atlet Makau menggeser posisinya. Kuong Chi Hin meraih emas dengan 9,723 poin, sedangkan Song Chi Kuan mendapatkan perak dengan 9,720 poin.

Persaingan ketat dengan selisih nilai yang sangat tipis membuat Naro merasa lega sekaligus bangga dapat menyumbangkan medali untuk Indonesia.

"Saya merasa sangat lega bisa mempersembahkan medali pertama untuk Indonesia. Persaingan di nomor ini sangat-sangat ketat dan penilaiannya juga sangat dekat," ujar Naro.

Medali perunggu tersebut menjadi medali kedua Naro di Asian Games. Sebelumnya, ia juga meraih perunggu pada Asian Games Hangzhou 2022 dari nomor kombinasi daoshu dan gunshu putra.

Medali tersebut juga menambah koleksi prestasinya setelah meraih medali perak pada The World Games 2025 di Chengdu, China, dari nomor kombinasi changquan-daoshu-gunshu putra.

Bagi Naro, pencapaian di Aichi-Nagoya memiliki arti khusus karena Asian Games merupakan salah satu ajang terbesar yang menjadi impian atlet.

"Ini buat saya segalanya karena pertandingan Asian Games ini bukan pertandingan biasa bagi atlet. Jadi atlet mana pun untuk berkompetisi di sini saja sudah banyak yang bermimpi, apalagi dapat medali," kata Naro.

Ia menegaskan medali tersebut tidak diraihnya seorang diri, melainkan berkat dukungan keluarga dan seluruh tim yang telah mendampinginya sejak awal karier.

"Ini bukan karena kekuatan saya sendiri, tetapi karena kalian semua yang memberikan saya kekuatan sehingga saya berani maju dan tampil yang terbaik untuk Indonesia," ujar Naro.

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Antara, Sujar

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.