Dari Tunai ke Pindai: QRIS Jadi Motor Baru UMKM Wisata Perbatasan Temajuk
📅 Selasa, 15 Sep 2026, 04:18 WIB | Oleh: OpikDi sektor pariwisata, keberadaan QRIS memberikan keuntungan lain, pelaku usaha kecil yang sebelumnya bergantung pada uang tunai dapat menerima pembayaran secara digital. Wisatawan tidak perlu selalu membawa uang tunai dalam jumlah besar, terlebih transaksi tercatat dan dapat dilakukan lebih cepat.
Bagi kawasan seperti Temajuk, manfaat tersebut menjadi semakin penting ketika jumlah wisatawan dari Malaysia berpotensi meningkat.
BI Kalbar bahkan mengembangkan QRIS Betang atau Bangun Ekosistem Transaksi Antar Negara sebagai pendekatan untuk memperluas pemanfaatan QRIS Antarnegara.
Program tersebut mencakup QRIS Betang Perbatasan, QRIS Betang Perbankan serta QRIS Betang Kegiatan dan Komunitas. Melalui QRIS Betang Perbatasan, digitalisasi pembayaran didorong di kawasan PLBN, pasar wisata, perhotelan serta sektor makanan dan minuman. Pada 2026, program tersebut diperluas ke tiga PLBN, yakni Entikong, Badau dan Jagoi Babang.
Bagi Temajuk, arah kebijakan tersebut menjadi penting karena kawasan ini sedang berada di persimpangan antara pertumbuhan pariwisata dan konektivitas lintas negara. Menariknya, penguatan rupiah tidak berarti menutup diri dari transaksi dengan wisatawan negara tetangga. Sebaliknya, teknologi pembayaran memungkinkan hubungan ekonomi lintas negara berlangsung lebih mudah sekaligus tetap berada dalam sistem yang teratur.
"QRIS Antarnegara menjadi salah satu instrumen yang dikembangkan BI untuk menjawab kebutuhan tersebut," kata Doni.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat Doni Septadijaya memberikan keterangan pers pada kegiatan Media Berkabar di kantor BI Kalbar beberapa waktu lalu. (Antara/Rendra Oxtora)
Menjaga rupiah
Bank Indonesia juga melihat wilayah perbatasan seperti Temajuk memiliki posisi strategis karena menjadi beranda terdepan Indonesia sekaligus pintu masuk aktivitas ekonomi lintas negara.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat Reynaldi Akbar Ariesha mengatakan penguatan layanan kebanksentralan di kawasan perbatasan dilakukan melalui berbagai program, termasuk edukasi Cinta, Bangga dan Paham Rupiah, digitalisasi sistem pembayaran serta penyediaan uang Rupiah layak edar.
Menurut dia, masyarakat perbatasan perlu memperoleh akses terhadap layanan keuangan yang semakin kuat dan inklusif. Upaya tersebut diwujudkan melalui berbagai program, salah satunya Layanan Perbankan Nusantara atau Lentera Batas Negeri.
Hingga Juni 2026, BI Kalimantan Barat telah melaksanakan layanan kas keliling di 12 titik wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar dengan nilai penukaran uang mencapai Rp2,78 miliar.
Melalui Ekspedisi Rupiah Berdaulat, BI juga menjangkau lima pulau terluar Kalimantan Barat, yakni Pulau Karimata, Pulau Maya, Pulau Cempedak, Pulau Pelapis dan Padang Tikar, dengan total layanan penukaran uang sebesar Rp15,6 miliar. Pada saat yang sama, edukasi mengenai rupiah terus dilakukan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!