Zverev Taklukkan Shelton, Penantian Panjang Raih Gelar US Open Berakhir Manis
Senin, 14 Sep 2026, 07:50 WIBNEW YORK â Alexander Zverev akhirnya menuntaskan luka lama di US Open. Enam tahun setelah menyia-nyiakan peluang emas di final, petenis Jerman itu kembali ke partai puncak dan kali ini tidak membiarkan kesempatan berlalu.
Zverev, unggulan pertama, mengalahkan wakil Amerika Serikat Ben Shelton 6-3, 7-6(2), 5-7, 6-2 pada final US Open, Senin (14/9) dini hari WIB. Kemenangan tersebut sekaligus mengantarkannya meraih gelar di Flushing Meadows untuk pertama kalinya.
Gelar ini terasa semakin istimewa karena Zverev pernah mengalami salah satu kekalahan paling menyakitkan dalam kariernya di turnamen yang sama.
Pada final US Open 2020, ia sempat unggul dua set atas Dominic Thiem. Namun, keunggulan tersebut menguap dan Zverev akhirnya harus menerima kekalahan.
Enam tahun kemudian, Zverev datang dengan mental berbeda. Setelah memenangi Grand Slam pertamanya di Roland Garros pada Juni, ia tampil jauh lebih matang untuk menghadapi tekanan di partai terbesar.
"Saya rasa Tuhan melihat betapa keras kami bekerja, seberapa banyak kami menderita, dan seberapa besar rasa sakit yang kami lalui. Saya pikir 2026 adalah hasil dari semua tahun yang terjadi sebelumnya," ujar Zverev saat seremoni penyerahan trofi.
Kemenangan Zverev sekaligus menghancurkan harapan publik Amerika Serikat yang menginginkan Shelton mengakhiri penantian 23 tahun petenis putra mereka untuk kembali menjuarai Grand Slam.
Shelton, unggulan kedelapan, tampil dalam final Grand Slam pertama sepanjang kariernya. Namun, petenis berusia 23 tahun itu kesulitan menemukan permainan terbaik ketika menghadapi Zverev yang tampil lebih tenang dalam momen-momen krusial.
"Saya tahu hari ini 99,9 persen orang menginginkan Ben menang, jadi saya benar-benar minta maaf," kata Zverev.
"Meski saya tahu penonton mendukung lawan saya, mereka selalu sangat sportif. Kami sebagai pemain sangat menghargai itu."
Zverev bahkan begitu fokus hingga sempat tidak menyadari bahwa dirinya telah memenangkan pertandingan.
Ketika pengembalian servis Shelton melaju keluar lapangan, wasit langsung mengumumkan kemenangan Zverev. Namun, sang petenis Jerman justru berjalan kembali ke baseline, seolah bersiap menerima servis berikutnya.
Beberapa detik kemudian, ia baru menyadari bahwa pertandingan telah berakhir. Zverev tersenyum, kemudian berlari ke net untuk memeluk Shelton.
Pertandingan berlangsung sengit sejak awal, tetapi Zverev tampil lebih agresif.
Shelton langsung melakukan double fault pada break point di gim pembuka. Kesalahan tersebut menjadi gambaran awal betapa besar tekanan yang harus dihadapi petenis Amerika itu dalam final pertamanya.
Shelton sempat menghasilkan salah satu poin terbaik pertandingan pada gim keenam. Ia mengejar drop shot dan memenangkan pertukaran bola sengit di depan net.
Namun, Zverev tetap mampu menjaga kendali. Upaya Shelton mengubah ritme melalui pola serve-and-volley juga tidak banyak membantu.
Sebuah double fault dari Shelton akhirnya memberikan set pertama kepada Zverev.
Pada set kedua, penonton tuan rumah berusaha keras mengganggu konsentrasi petenis Jerman tersebut. Mereka bersorak setiap kali Zverev melakukan kesalahan.
Namun, Zverev tidak terpancing. Ia bahkan tampil dominan dalam tiebreak dan melaju 5-0 sebelum mengamankan set kedua 7-6(2).
Harapan Shelton sempat kembali hidup pada set ketiga. Zverev terlihat semakin dekat dengan kemenangan ketika mampu menyelamatkan break point melalui pukulan backhand winner. Namun, Shelton terus bertahan.
Petenis Amerika itu kemudian meningkatkan tekanan dari garis belakang. Pukulan-pukulan kerasnya akhirnya menghasilkan break dan memaksanya pertandingan berlanjut ke set keempat.
Shelton Melawan, Zverev Menutup Pintu
Kebangkitan Shelton ternyata hanya berlangsung sementara.
Zverev langsung meningkatkan intensitas pada set keempat. Dalam sebuah reli panjang yang berlangsung hingga 25 pukulan, ia berhasil menemukan celah untuk merebut break lebih awal.
Setelah itu, Zverev tidak memberikan kesempatan bagi Shelton untuk kembali ke pertandingan.
Ia mempertahankan keunggulan hingga akhir dan memastikan kemenangan dalam empat set.
Trofi US Open akhirnya berada di tangannya pada penampilan ke-11 di turnamen Grand Slam lapangan keras tersebut.
Meski gagal menjadi juara, Shelton tetap meninggalkan New York dengan catatan sejarah.
Ia menjadi petenis putra kulit hitam Amerika Serikat pertama dalam 54 tahun yang tampil di final US Open setelah Arthur Ashe pada 1972.
Shelton juga menjadi harapan besar Amerika untuk mengakhiri penantian panjang sejak Andy Roddick menjadi juara US Open pada 2003.
"Kesuksesan saya adalah sebuah hadiah, kegagalan juga sebuah hadiah, dan bisa berada di sini bermain di depan kalian semua adalah sebuah hadiah," ujar Shelton.
Sementara bagi Zverev, kemenangan ini menjadi jawaban atas berbagai kegagalan yang pernah menghantuinya di Grand Slam.
Ia kini telah mengoleksi dua gelar Grand Slam hanya dalam rentang tiga bulan setelah sebelumnya menjuarai Roland Garros.
"Kami menunggu 30 tahun tanpa memenangkan gelar Grand Slam, dan sekarang kami memenangkan dua gelar dalam rentang tiga bulan," kata Zverev.
- Alexander Zverev
- Ben Shelton
- US Open 2026
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Benny Mudesta Putra
Berita Terkait:
-
Basarnas: Tujuh Korban Luka Berat Gempa Manggarai Timur Dievakuasi ke Labuan Bajo
-
Sabalenka Kalahkan Pegula, Melaju ke Final US Open Keempat Kalinya Secara Beruntun
-
KOSMAK Desak Jampidsus Terbitkan Sprindik Baru Kasus Jiwasraya dan Asabri
-
Pemkot Banjarmasin Siaga Hadapi Ancaman Lonjakan Penyakit Diare
-
Rodri Resmi Gabung Barcelona, Transfer dari Manchester City Capai 1,5 Triliun Rupiah
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.