Patahan Surabaya Viral, Pakar Ungkap Fakta dan Minta Warga Tak Panik

Jumat, 11 Sep 2026, 15:10 WIB

Surabaya - Perbincangan mengenai patahan yang melintasi wilayah Surabaya, Sidoarjo, hingga Bangkalan, Jawa Timur, kembali ramai setelah informasi mengenai "patahan aktif" beredar di media sosial.

Masyarakat diminta tidak panik, tetapi tetap meningkatkan kesiapsiagaan karena keberadaan patahan tidak otomatis berarti gempa besar akan segera terjadi.

Ket. Foto: Ahli Mitigasi Bencana ITS Dr Ir Amien Widodo memaparkan bahwa patahan yang ada di video viral yaitu melewati Surabaya, Sidoarjo, hingga Bangkalan memang ada tetapi belum terverifikasi aktif. — Sumber: Antara

Pakar geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Dr Ir Amien Widodo mengatakan keberadaan patahan di wilayah Surabaya bukan informasi baru karena telah menjadi bagian dari penelitian sebelumnya.

"Keberadaan patahan di wilayah Surabaya telah menjadi bagian dari penelitian sebelumnya," kata dosen luar biasa Departemen Teknik Geofisika ITS tersebut di Surabaya, Kamis (10/9).

ITS bersama Pusat Survei Geologi, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI telah melakukan penelitian mengenai peta patahan di Jawa Timur yang dipublikasikan pada 2024.

"Hasil penelitian tersebut menunjukkan terdapat dua patahan, yaitu patahan Surabaya dan patahan Waru," katanya.

Menurut Amien, kedua patahan tersebut memiliki potensi aktif dan pernah mengalami pergerakan. Temuan itu juga sejalan dengan peta patahan Indonesia yang disusun Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen) pada 2024.

Namun, ia menegaskan jalur patahan yang melewati Surabaya, Sidoarjo hingga Bangkalan belum terverifikasi sebagai patahan aktif.

"Patahan yang melewati Surabaya, Sidoarjo hingga Bangkalan memang ada, tetapi belum terverifikasi aktif," ujarnya.

Amien menjelaskan keberadaan patahan tidak serta-merta dapat dikategorikan sebagai patahan aktif. Penetapan status tersebut membutuhkan penelitian lebih lanjut berdasarkan bukti dan kajian ilmiah.

"Kita harus memahami bahwa ada patahan yang aktif dan tidak aktif. Untuk menyebutnya sebagai patahan aktif, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut," katanya.

Karena itu, ia meminta masyarakat lebih kritis menyikapi informasi kebencanaan yang beredar di media sosial. Informasi yang belum terverifikasi secara ilmiah tidak seharusnya menimbulkan kepanikan.

Potensi Tetap Perlu Diwaspadai

Meski masyarakat diminta tidak panik, potensi gempa tetap perlu menjadi perhatian. Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia (PuSGeN) 2024 mencatat struktur patahan di wilayah Surabaya sebagai bagian dari sumber gempa yang perlu diperhitungkan dalam mitigasi.

Risiko gempa juga tidak hanya ditentukan oleh besar magnitudo. Kondisi tanah, jarak dan kedalaman sumber gempa, kualitas bangunan, kepadatan penduduk, serta kesiapan masyarakat turut menentukan dampak yang ditimbulkan.

Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN Prof Danny Hilman Natawidjaja mengatakan masih terdapat ketidakpastian mengenai sejumlah sumber gempa di Jawa sehingga penelitian perlu terus dilakukan untuk meningkatkan akurasi penilaian risiko.

"Pengetahuan kita mengenai sesar aktif di Jawa masih menyimpan banyak ketidakpastian. Ada sejumlah sesar yang sudah diketahui, tetapi karakteristik pentingnya seperti laju pergeseran, segmentasi, hingga magnitudo maksimum masih belum sepenuhnya dipahami," katanya.

Danny menyebut Jawa memiliki sistem sumber gempa yang kompleks. Selain zona subduksi atau megathrust di selatan Jawa, terdapat berbagai sesar di daratan yang berpotensi memicu gempa merusak.

Salah satu struktur yang menjadi perhatian adalah Java Back-Arc Thrust, sesar naik besar yang membentang di wilayah utara Jawa hingga sekitar Surabaya.

Menurut Danny, peta sesar aktif dan peta bahaya gempa tidak bersifat statis. Peta tersebut terus diperbarui seiring munculnya temuan baru dari penelitian geologi dan kegempaan.

"Setiap bukti geologi baru dapat mengubah pemahaman kita mengenai sumber gempa. Dampaknya mungkin tidak terlalu besar pada skala regional, tetapi dapat signifikan bagi penilaian bahaya di tingkat lokal," ujarnya.

Mitigasi Harus Diperkuat

Amien mendorong Pemerintah Kota Surabaya meningkatkan kesiapsiagaan dengan memasang alat pendeteksi pergerakan atau pergeseran tanah serta memperbarui peta kawasan rawan gempa.

Langkah tersebut penting untuk menjadi dasar kebijakan pembangunan, termasuk memastikan bangunan di kawasan berisiko memenuhi standar bangunan tahan gempa.

Mitigasi juga perlu mencakup pemeriksaan bangunan dan fasilitas publik, terutama sekolah, rumah sakit, pusat layanan darurat, serta fasilitas pemerintahan. Latihan evakuasi dan edukasi kebencanaan juga perlu dilakukan secara berkala.

Kesiapsiagaan tidak cukup hanya dengan memasang alat pemantau. Data hasil pemantauan perlu terhubung dengan tata ruang, standar bangunan, jalur evakuasi, sistem peringatan, dan komunikasi publik.

Dengan demikian, keberadaan patahan tidak perlu menjadi sumber kepanikan. Informasi tersebut justru dapat menjadi momentum bagi pemerintah dan masyarakat untuk memperkuat kesiapsiagaan.

Surabaya tidak harus menunggu gempa terjadi untuk belajar menghadapi gempa. Kota tersebut masih memiliki ruang untuk memperkuat bangunan, memperbarui peta risiko, meningkatkan edukasi, dan memastikan sistem mitigasi berjalan.

Pesan utamanya sederhana: jangan panik, tetapi jangan lengah. Kota yang tangguh bukan kota tanpa risiko, melainkan kota yang mengenali risikonya dan terus mengurangi kerentanannya.

  • Patahan Surabaya

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.