Kualitas Udara Memburuk akibat Karhutla, Warga Diminta Pantau ISPU Sebelum Beraktivitas
📅 Minggu, 06 Sep 2026, 06:30 WIB | Oleh: Tim PenulisJakarta - Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Prof Tjandra Yoga Aditama mengingatkan masyarakat di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) untuk menjadikan indikator kualitas udara sebagai patokan sebelum melakukan aktivitas di luar rumah.
Menurut Tjandra, informasi mengenai kualitas udara yang diperbarui secara berkala penting agar masyarakat mengetahui tingkat pencemaran udara, termasuk apakah kondisinya berada pada kategori merah, kuning, atau hijau.
"Ada penjelasan dari pemerintah ke masyarakat di lokasi itu kadarnya berapa saat ini, sesuai dengan indikator yang ada," ujar Tjandra, Sabtu (5/9).
Ia mengatakan apabila kualitas udara berada pada kategori merah, masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas di luar rumah. Kondisi tersebut, kata dia, dapat menjadi pertimbangan bagi sekolah untuk menerapkan pembelajaran dari rumah dan bagi pekerja untuk bekerja dari rumah.
"Kalau sudah merah ya jangan keluar rumah, itu pantas untuk sekolah dari rumah, kerja dari rumah. Tapi kalau yang masih kuning ya itu mungkin masih bisa dipertimbangkan tergantung juga apakah sekolahnya punya fasilitas yang cukup baik untuk membuat udara di dalam kelas itu cukup bersih," katanya.
Tjandra yang juga Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) mengatakan indikator kualitas udara merupakan salah satu anjuran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk memberikan informasi mengenai kadar polutan dari waktu ke waktu.
Informasi tersebut, menurut dia, penting menjadi acuan masyarakat, pengelola sekolah, maupun pemerintah daerah dalam menentukan langkah perlindungan dari paparan asap karhutla.
Bagi masyarakat yang berada di wilayah terdampak dan terpaksa melakukan aktivitas di luar rumah, Tjandra menyarankan penggunaan masker yang disesuaikan dengan tingkat kepekatan asap.
Petugas yang melakukan pemadaman kebakaran hutan, menurut dia, sebaiknya menggunakan respirator dan bukan masker kain. Sementara masyarakat umum yang harus bepergian ke kantor atau sekolah disarankan menggunakan masker dengan kualitas sebaik mungkin.
"Jadi anjurannya ya pakai masker sebagus mungkin, kalau bisa N95 lebih bagus," ujarnya.
Untuk mengurangi paparan asap saat berada di dalam ruangan, Tjandra juga mengimbau masyarakat menutup akses yang memungkinkan udara dari luar masuk ke dalam rumah atau bangunan.
Penggunaan air purifier juga dapat dilakukan apabila masyarakat telah memilikinya. Namun, ia mengingatkan masyarakat tidak perlu terburu-buru membeli alat tersebut karena efektivitasnya bergantung pada tingkat kepekatan asap dan kemampuan perangkat dalam menyaring polutan.
"Kalau punya air purifier silakan gunakan, tapi bukan artinya semua orang di dalam ruangan mesti beli air purifier sekarang. Karena sekali lagi tergantung dari berapa pekatnya asap," katanya.
Kelompok Rentan
Tjandra juga mengimbau masyarakat di daerah yang terdampak karhutla segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan seperti batuk atau pilek.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!