Kimi Antonelli Hadapi Ujian Berat di Monza

Jumat, 04 Sep 2026, 06:47 WIB

MONZA - Pembalap Italia Kimi Antonelli datang ke Monza dengan status istimewa sekaligus beban berat. Pembalap Mercedes itu memimpin klasemen Formula 1, tetapi harus mengawali Grand Prix Italia dari barisan paling buncit. Ironisnya, di tengah euforia pendukung tuan rumah, Antonelli justru akan menjalani balapan dengan tugas mengejar, bukan dikejar.

Antonelli yang baru genap berusia 20 tahun pekan lalu itu mencatat sejarah sebagai pembalap Italia pertama dalam 73 tahun yang memimpin klasemen Formula 1 saat memasuki balapan di Monza, yang dikenal sebagai Temple of Speed. Antonelli kini berada di jalur untuk menjadi juara dunia Italia pertama sejak Alberto Ascari merebut gelar keduanya pada tahun 1953.

Ket. Foto: Pembalap asal Italia dari tim Mercedes, Kimi Antonelli, tersenyum saat parade pembalap menjelang Grand Prix Formula Satu Belanda di Sirkuit Zandvoort, Belanda bagian barat, pada 23 Agustus 2026. — Sumber: JOHN THYS / AFP

Setelah 12 seri, dia unggul 59 poin atas rekan setimnya, George Russell, dan pembalap Ferrari Lewis Hamilton. Juara dunia bertahan Lando Norris berada 24 poin di belakang Antonelli setelah memenangi dua seri terakhir di Hungaria dan Belanda.

Namun, keunggulan itu akan diuji keras di Monza. Penggantian mesin membuat Antonelli harus menerima penalti yang memaksanya start dari belakang. Kondisi tersebut membuka peluang bagi Russell, Hamilton, Norris, dan Charles Leclerc untuk memangkas jarak di klasemen.

“Ini mengecewakan bagi dia dan para penggemar yang ingin melihatnya bertarung dari depan dalam balapan kandang. Tetapi olahraga ini tidak memberikan penghargaan berdasarkan sentimen,” ujar bos Mercedes Toto Wolff. Menurut Wolff, keputusan tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang Mercedes dalam perebutan gelar. Antonelli kini dituntut memaksimalkan setiap peluang untuk merebut posisi dan poin.

Monza memang memberikan ruang bagi pembalap untuk melakukan pemulihan. Lintasan berkarakter kecepatan tinggi dengan trek lurus panjang dan chicane (sudut belok) lambat memungkinkan aksi salip terjadi. Namun, penggunaan unit tenaga baru juga menghadirkan persoalan tersendiri dalam pengelolaan energi karena terbatasnya zona pengereman untuk melakukan regenerasi.

Situasi itu membuat strategi aerodinamika dan slipstream berpotensi menjadi faktor penting. Di sisi lain, Ferrari datang dengan optimisme tinggi. Tim berlogo kuda jingkrak tersebut membawa pembaruan unit tenaga demi mengejar kemenangan di hadapan tifosi. Monza juga menjadi momentum khusus karena Ferrari memperingati 30 tahun kemenangan pertama Michael Schumacher di Grand Prix Italia bersama tim pada tahun 1996.

Leclerc sudah dua kali menang di Monza bersama Ferrari. Hamilton bahkan memiliki lima kemenangan di sirkuit itu bersama McLaren dan Mercedes. “Balapan di depan tifosi memberikan energi luar biasa kepada seluruh tim. Tahun ini ada dimensi tambahan karena kami merayakan Michael Schuma­cher dan warisan yang ditinggalkannya di perusahaan kami,” ujar bos Ferrari Fred Vasseur.

McLaren juga tidak datang tanpa senjata. Tim tersebut membawa sejumlah pembaruan aerodinamika serta sayap belakang yang dapat berputar, dijuluki H Wing, yang sebelumnya diuji dalam latihan di Hungaria. Sementara itu, Max Verstappen datang tanpa berani memasang target tinggi. Juara dunia empat kali yang memenangi Monza tahun lalu itu masih mencari keseimbangan mobil terbaik setelah gagal finis di kandang sendiri di Zandvoort. ben/G-1

  • Kimi Antonelli

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.