Kabut Asap Selimuti Bukittinggi, Anak dan Lansia Diminta Gunakan Masker

Jumat, 04 Sep 2026, 00:04 WIB

Bukittinggi - Pemerintah Kota (Pemkot) Bukittinggi, Sumatera Barat, melalui Dinas Kesehatan Kota (DKK) mengimbau masyarakat menggunakan masker sebagai langkah antisipasi gangguan pernapasan akibat memburuknya kualitas udara, terutama bagi anak-anak dan lanjut usia (lansia).

"Kondisi saat ini dan hasil pemantauan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) menunjukkan masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan masih dapat melaksanakan kegiatan. Namun, untuk anak-anak, lansia, serta orang yang mengalami gangguan pernapasan disarankan mengurangi kegiatan di luar ruangan. Jika sangat dibutuhkan, maka dianjurkan menggunakan masker," kata Kepala DKK Bukittinggi Ramli Andrian di Bukittinggi, Kamis (3/9).

Ket. Foto: Suasana berkabut asap di Kota Bukittinggi, Kamis (3/9). Pemerintah daerah setempat menyarankan pemakaian masker untuk antisipasi dampak penurunan kualitas udara yang saat ini terjadi akibat kebakaran lahan di sejumlah daerah di Pulau Sumatra. — Sumber: Antara

Kabut asap mulai terasa di sejumlah wilayah Kota Bukittinggi. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan titik panas yang terpantau di beberapa daerah di Pulau Sumatra berdasarkan pemantauan Stasiun Pemantau Atmosfer Global (Global Atmosphere Watch/GAW) Bukit Kototabang.

Ramli mengatakan sumber pencemaran diduga terbawa angin dominan dari arah tenggara, selatan, atau bagian timur Sumatera Barat, yang mencakup wilayah Sumatera Selatan dan Jambi. Potensi asap juga dapat berasal dari wilayah yang berbatasan dengan Riau, seperti Kabupaten Lima Puluh Kota, Sijunjung, dan Dharmasraya.

Menurut dia, kondisi kualitas udara tersebut masih bersifat sementara dan dapat membaik maupun memburuk bergantung pada pergerakan konsentrasi ISPU. DKK akan terus memantau perkembangan kualitas udara dan berkoordinasi dengan Stasiun GAW Bukit Kototabang.

"Masyarakat diharapkan untuk tetap tenang dan memantau segala informasi secara resmi serta tetap menjaga kesehatan di tengah kondisi udara terkini," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Stasiun GAW Bukit Kototabang Sugeng Nugroho mengatakan hasil pemantauan menunjukkan prakiraan konsentrasi PM2.5 di Kota Bukittinggi mencapai 20,5 mikrogram per meter kubik dengan kategori kualitas udara sedang. Konsentrasi maksimum diprakirakan mencapai 42 mikrogram per meter kubik.

"Sedangkan untuk prakiraan tanggal 4 September, konsentrasi PM2,5 sebesar 35,8 mikrogram/M3 kategori kualitas udara 'sedang' dengan konsentrasi PM2,5 maksimum sebesar 67,2 mikrogram/M3 kategori kualitas udara 'tidak sehat' yang diprakirakan terjadi pada dinihari nanti," ujarnya.

PM2.5 merupakan partikel halus berdiameter hingga 2,5 mikrometer yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Stasiun GAW Bukit Kototabang memang melakukan pemantauan berbagai parameter aerosol, termasuk PM2.5, yang dapat berasal antara lain dari kebakaran hutan dan pembakaran bahan bakar.

Karena itu, masyarakat terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan warga yang memiliki gangguan pernapasan diminta lebih waspada terhadap paparan udara saat beraktivitas di luar ruangan.

Pemkot Bukittinggi juga mengingatkan masyarakat agar tidak panik dan tetap mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan kualitas udara. Pemantauan akan terus dilakukan untuk mengetahui perubahan konsentrasi polutan dan kondisi atmosfer di wilayah tersebut.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.