Ekosistem Energi Bersih Diperkuat, Kemandirian Energi Jadi Taruhan

Kamis, 03 Sep 2026, 00:00 WIB

JAKARTA – Pengembangan energi baru, terbarukan, dan konservasi energi (EBTKE) menjadi makin penting di tengah kebutuhan energi nasional yang terus meningkat dan ketidakpastian rantai pasok global. Karenanya, pemerintah perlu mempercepat transisi menuju energi bersih sekaligus memastikan ketahanan dan kemandirian energi nasional.

Melalui IndoEBTKE Convention and Exhibition (ConEx) 2026, pemerintah mendorong kolaborasi antara pelaku usaha, akademisi, dan pemangku kepentingan untuk memperkuat ekosistem EBTKE dan membuka peluang investasi di sektor energi berkelanjutan.

Ket. Foto: Energi baru, terbarukan, dan konservasi energi (EBTKE) — Sumber: afp

“Pemerintah menempatkan penguatan EBTKE sebagai bagian dari agenda prioritas untuk mencapai kemandirian energi nasional,” ujar Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot saat membuka penyelenggaraan ke-12 IndoEBTKE ConEx 2026 di Jakarta, Rabu (2/9).

IndoEBTKE ConEx 2026 digelar setelah tiga tahun vakum. Forum ini kembali menjadi ruang kolaborasi untuk membahas pengembangan energi baru dan terbarukan, sekaligus berbagai tantangan seperti regulasi, teknologi, infrastruktur, logistik, permodalan, riset, dan inovasi.

Yuliot menyatakan dinamika geopolitik global dinilai dapat mengganggu rantai pasok energi dan berdampak pada harga energi, inflasi, biaya produksi, serta beban subsidi dan kompensasi pemerintah. Dalam RUPTL 2025–2034, pemerintah menargetkan tambahan kapasitas pembangkit sekitar 70 GW, dengan sekitar 42,6 GW atau 62 persen berasal dari energi baru dan terbarukan.

“Selain pembangkit EBT, pemerintah mendorong implementasi B50, percepatan kendaraan listrik, pembangunan jaringan gas, pemanfaatan CNG sebagai substitusi LPG, serta penggunaan sumber energi bersih lainnya,” ujarnya.

Pemanfaatan sampah perkotaan juga menjadi bagian dari strategi energi bersih. Dari timbulan sampah nasional 2025 sebesar 52,6 juta ton atau sekitar 145 ribu ton per hari, baru sekitar 25 persen yang terkelola.

“Teknologi waste to energy dinilai dapat mengubah sampah menjadi listrik, biomassa, maupun bahan bakar minyak terbarukan, sekaligus mengurangi pencemaran dan meningkatkan kesehatan masyarakat,” jelasnya.

Kebergantungan Baru

Namun, pengembangan EBTKE masih menghadapi tantangan berupa belum terintegrasinya rantai pasok. Pemerintah menilai diperlukan penguatan sumber bahan baku, manufaktur, teknologi, dan sumber daya manusia agar transisi energi tidak justru menciptakan kebergantungan baru terhadap teknologi impor.

Indonesia memiliki sumber daya mineral seperti bauksit, nikel, silika, dan tembaga yang berpotensi mendukung industri panel surya, baterai, dan teknologi energi bersih lainnya. Karena itu, penguasaan teknologi, penguatan manufaktur dalam negeri, riset, inovasi, serta pengembangan pelaku usaha nasional menjadi kunci membangun ekosistem EBT yang lebih mandiri.

Melalui IndoEBTKE ConEx 2026, pemerintah berharap kolaborasi antara pemangku kepentingan dapat membantu mengatasi berbagai hambatan pengembangan EBTKE. Penguatan ekosistem energi bersih diharapkan memperkokoh ketahanan dan kemandirian energi nasional sekaligus mendukung target kemajuan Indonesia menuju 2045.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.