Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Review 'Samakdo': Horor Sekte dengan Atmosfer Mencekam, tapi Klimaksnya Mengecewakan

📅 Rabu, 02 Sep 2026, 00:01 WIB | Oleh:
Review 'Samakdo': Horor Sekte dengan Atmosfer Mencekam, tapi Klimaksnya Mengecewakan Doc: Istimewa
Ket. Bagi penggemar horor Korea bertema sekte, ritual, desa terpencil, dan misteri supernatural, film ini masih layak dicoba tapi jangan mengharapkan misteri dengan jawaban yang rapi dan pembangunan cerita yang kuat.

"Samakdo" atau dirilis dengan judul barat, "Three Evil Islands", datang dengan bahan yang sebenarnya sangat potensial: sekte misterius, desa terpencil, sejarah kolonial Jepang, ritual kuno, serta sebuah investigasi jurnalistik yang perlahan membawa para tokohnya menuju sesuatu yang jauh lebih mengerikan.

Film arahan Chae Ki-jun ini mengikuti Chae So-yeon (Jo Yun-seo), produser program investigasi yang bersama timnya mendatangi sebuah desa terpencil untuk menyelidiki keberadaan sekte Samseondo. Sekte tersebut diyakini telah menghilang setelah peristiwa pada masa pendudukan Jepang, tetapi ternyata meninggalkan jejak yang masih hidup di tengah masyarakat.

Masalahnya, Samakdo memiliki ide yang lebih menarik daripada cara film ini disampaikan.

Sejak awal, film sudah memiliki atmosfer yang cukup kuat. Desa terpencil, masyarakat yang menyimpan rahasia, ritual yang sulit dipahami, serta informasi mengenai sekte yang perlahan dibuka membuat bagian awal terasa seperti sedang menuju sebuah film folk horror yang serius.

Tetapi ketegangan tersebut tidak selalu berhasil dipertahankan.

Samakdo terlalu sering meminta penonton untuk penasaran tanpa memberikan informasi yang cukup sebagai imbalannya. Misteri memang sengaja disimpan, tetapi perbedaan antara misteri yang membuat penasaran dan cerita yang terasa kurang jelas cukup tipis. Sejumlah penonton bahkan menilai film ini membangun ekspektasi besar tetapi tidak memberikan garis cerita yang cukup kuat untuk mengikat semua elemennya.

Kelemahan paling terasa ada pada struktur ceritanya.

Film memiliki beberapa gagasan besar sekaligus: sekte sesat, sejarah kolonial, ramalan, ritual penyegelan, investigasi jurnalistik, serta kekuatan supernatural. Masing-masing sebenarnya bisa menjadi fondasi film horor tersendiri. Namun, Samakdo justru mencoba memasukkan semuanya dalam durasi sekitar 100 menit, sehingga beberapa gagasan terasa hanya disentuh di permukaan. LSF sendiri mencatat durasi film ini sekitar 99 menit.

Akibatnya, karakter juga tidak memperoleh ruang yang cukup.

So-yeon menjadi pusat cerita, tetapi perjalanan psikologisnya tidak selalu terasa sekuat potensi premisnya. Tim investigasi di sekelilingnya pun lebih sering berfungsi sebagai bagian dari mekanisme cerita daripada karakter dengan motivasi yang benar-benar berkembang.

Jo Yun-seo tetap menjadi salah satu alasan film ini masih menarik untuk diikuti. Ia mampu membawa So-yeon sebagai sosok yang awalnya rasional dan profesional ketika menghadapi sesuatu yang semakin sulit dijelaskan secara logis. Perubahan atmosfer di sekitar karakternya juga membantu menjaga keterlibatan penonton.

Kwak Si-yang sebagai Matsuda memberikan lapisan lain melalui keterkaitan karakter tersebut dengan investigasi sekte. Namun, hubungan antarkarakter belum sepenuhnya memperoleh pengembangan yang cukup sehingga beberapa dinamika terasa datang dan pergi sesuai kebutuhan plot.

Masalah terbesar kemudian muncul ketika film memasuki bagian akhir.

Tanpa membocorkan detail penting, penyelesaian konflik utama terasa terlalu tergesa-gesa dibandingkan proses pembangunan misteri sebelumnya. Film sudah menanam cukup banyak pertanyaan, tetapi tidak semuanya mendapatkan jawaban yang sebanding.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kemenperin Perkuat Kemitraan IKM Singkong dan Industri Nasional
    Langkah Kemenperin mengintegrasikan IKM olahan singkong melalui Program ...
  • Industri Bioetanol Indonesia Mau Digenjot, Mentan Bidik Investasi BUMN dan Swasta
    Potensi penghematan devisa negara hingga mencapai Rp500 triliun ...
  • Pertamina dan Jababeka Berkolaborasi Menuju Kawasan Hijau dan Nol Emisi
    Melihat tren positif pemasangan infrastruktur panel surya yang ...
  • Kemenperin Pacu Industri Halal Tembus Pasar Global Lewat Halal Indo 2026
    Langkah mendorong penyerapan 60 persen vendor lokal di ...
  • Bukan Sekadar Ekspor, Industri Pangan Indonesia Kejar Posisi di Rantai Nilai Global
    Ulasan yang sangat komprehensif mengenai posisi manufaktur Indonesia ...
Advertisement
Art Jakarta Detail Sidebar

BMKG Ungkap Puncak Musim Hujan Terjadi Desember 2026

49 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Nasional
BMKG Ungkap Puncak Musim Hu...

Mendukbangga Sebut Tiga Isu Ancam Masa Depan Remaja

59 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Nasional
Mendukbangga Sebut Tiga Isu...
Megapolitan
Pemkot Tangerang Normalisas...
Megapolitan
BPBD Kota Tangerang Siapkan...
Advertisement
Mengagetkan, Ombudsman RI Temukan Fasilitas Berstandar Apartemen di Lapas Cibinong, Kabupaten Bogor

Mengagetkan, Ombudsman RI Temukan Fasilitas Berstandar Apartemen di Lapas Cibinong, Kabupaten Bogor

23 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.