Mengingat Luka Mei 1998 dalam Ketika Nalar Bertanya, Mampukah Ingatan Pahit Dihapus Layaknya Catatan Sejarah?
Rabu, 02 Sep 2026, 11:30 WIBJAKARTA - Kalau sejarah bisa dihapus, apakah luka manusia juga bisa ikut menghilang?
Pertanyaan tersebut kembali mencuat ketika cerpen âClara atawa Wanita yang Diperkosaâ karya Seno Gumira Ajidarma kembali dihadirkan dalam bentuk pertunjukan teater. Hampir tiga dekade sejak pertama kali ditulis pada 1998, kisah tentang kekerasan, diskriminasi, prasangka, dan trauma tersebut ternyata masih memiliki daya gugah yang kuat.
Kali ini, Salindia Teater membawa cerita tersebut ke atas panggung melalui pertunjukan bertajuk âKETIKA NALAR BERTANYA.â yang digelar pada 22â23 Agustus 2026 di Gedung Kesenian Jakarta.
Pertunjukan ini didukung oleh Jakarta Directors Lab. Adaptasi cerpen ditulis oleh Deandra Syarizka dan Muhamad Habib Koesnady, sedangkan penyutradaraannya ditangani Nadine Nadilla.
Kehadiran kembali âClaraâ bukan sekadar menghidupkan karya lama. Lebih dari itu, pertunjukan ini seperti membuka kembali sebuah halaman sejarah yang mungkin dianggap sudah selesai, tetapi meninggalkan pertanyaan yang belum benar-benar terjawab.
âClaraâ dan Luka Kelam Mei 1998
Cerpen âClara atawa Wanita yang Diperkosaâ lahir ketika Indonesia berada dalam salah satu periode paling bergejolak dalam sejarah modernnya. Reformasi 1998 diwarnai kerusuhan dan kekerasan, termasuk kekerasan seksual yang menyasar perempuan keturunan Tionghoa.
Melalui sosok Clara, Seno menghadirkan pengalaman seorang perempuan yang berada dalam posisi rentan. Namun, yang membuat cerita ini semakin menusuk bukan hanya tragedi yang dialami tokohnya.
Cara narasi memandang Clara juga menjadi bagian penting dari persoalan.
Tokoh yang menjadi narator digambarkan sebagai seorang lelaki berseragam yang diasosiasikan dengan aparat. Dari sudut pandangnya muncul prasangka, sinisme, serta cara pandang diskriminatif terhadap korban.
Dengan begitu, âClaraâ tidak hanya berbicara mengenai kekerasan terhadap perempuan. Cerita ini sekaligus menyentil bagaimana kekuasaan, rasialisme, dan prasangka dapat memengaruhi cara seseorang melihat sebuah tragedi.
Korban tidak hanya menghadapi kekerasan yang dialaminya, tetapi juga berpotensi berhadapan dengan lingkungan yang justru mempertanyakan, menghakimi, atau mengabaikan penderitaannya.
Ketika Sastra Menolak Sejarah untuk Dilupakan
Salah satu kekuatan âClaraâ terletak pada kemampuannya membawa sebuah peristiwa besar ke dalam pengalaman manusia yang sangat personal.
Sejarah biasanya dikenang lewat angka, tanggal, pergantian kekuasaan, demonstrasi, kerusuhan, dan berbagai keputusan politik. Namun, di balik catatan tersebut terdapat manusia yang harus menghadapi ketakutan, kehilangan, kekerasan, hingga trauma.
Di titik inilah sastra memiliki peran penting.
âClaraâ seolah mengingatkan bahwa sebuah tragedi tidak otomatis berakhir ketika situasi politik berubah atau kerusuhan berhenti. Bagi korban dan orang-orang yang terdampak, pengalaman tersebut dapat terus hidup dalam ingatan.
Waktu mungkin berlalu.
Generasi mungkin berganti.
Namun, trauma tidak selalu mengikuti kalender.
Dari Halaman Buku ke Atas Panggung
Hampir 30 tahun setelah cerpen tersebut lahir, pertanyaan yang sama kini disampaikan melalui medium teater.
Dalam pertunjukan âKETIKA NALAR BERTANYA.â, kisah âClaraâ tidak lagi hanya dibaca melalui tulisan. Konflik dan ketegangan cerita diterjemahkan melalui tubuh aktor, suara, dialog, ekspresi, tata panggung, serta atmosfer pertunjukan.
Perubahan medium ini memberikan pengalaman yang berbeda bagi penonton.
Jika membaca memungkinkan seseorang membangun gambaran melalui imajinasi, teater menghadirkan konflik secara langsung di depan mata. Tubuh manusia menjadi bagian dari narasi, sementara suara dan ekspresi dapat membuat pengalaman tokoh terasa lebih dekat.
Karena itu, membawa âClaraâ ke panggung pada 2026 menjadi menarik. Karya yang lahir dari konteks sejarah hampir tiga dekade lalu kembali berhadapan dengan penonton dari generasi yang berbeda.
Pertanyaannya kemudian bukan hanya apa yang terjadi pada 1998, tetapi juga bagaimana kita memilih untuk mengingatnya hari ini.
Bisakah Ingatan Pahit Benar-Benar Dihapus?
Mungkin catatan sejarah bisa diubah.
Mungkin sebuah peristiwa bisa perlahan dilupakan.
Namun, apakah ingatan manusia bisa dihapus semudah mengganti halaman buku?
Jawabannya tidak sesederhana itu.
Luka memiliki cara sendiri untuk bertahan. Trauma dapat melekat jauh lebih lama daripada sebuah peristiwa berlangsung. Bahkan ketika sebuah tragedi tidak lagi menjadi pembicaraan utama, dampaknya bisa terus hidup dalam diri mereka yang pernah mengalaminya.
Karena itu, kehadiran âKETIKA NALAR BERTANYA.â dapat dilihat sebagai sebuah ajakan untuk tidak buru-buru menganggap sejarah sebagai sesuatu yang telah selesai.
Pertunjukan ini membuka ruang untuk mempertanyakan kembali posisi manusia ketika berhadapan dengan tragedi.
Apakah kita memilih untuk memahami korban?
Apakah kita berani mempertanyakan narasi yang selama ini dianggap benar?
Atau justru tanpa sadar ikut mempertahankan prasangka yang membuat korban kembali terluka?
Pada akhirnya, âClaraâ bukan hanya cerita tentang seorang perempuan. Ia merupakan pengingat bahwa sejarah memiliki wajah manusia.
Salindia Teater melalui âKETIKA NALAR BERTANYA.â menghadirkan panggung sebagai ruang untuk menghidupkan kembali ingatan, membicarakan luka, dan mengajak penonton menengok kembali bagian sejarah yang mungkin terasa pahit.
Sebab, jika menghapus ingatan semudah menghapus catatan sejarah, mungkin manusia tidak akan pernah belajar dari luka yang sama. Selama luka itu masih menyisakan pertanyaan, nalar pun akan terus bertanya.
- Luka Mei 1998
- Ketika Nalar Bertanya
- mei 1998
- Salindia Teater
- Clara atawa Wanita yang Diperkosa
- Clara atawa Wanita yang Diperkosa karya Seno Gumira Ajidarma
- Seno Gumira Ajidarma
Redaktur: Alfina Febriyana
Penulis: Alfina Febriyana
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.