• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Evolusi Panggul dan Risiko...

Evolusi Panggul dan Risiko Cedera Atlet Pria dan Wanita

Selasa, 01 Sep 2026, 07:33 WIB

PERBEDAAN struktur panggul antara pria dan wanita bukan sekadar variasi bentuk tubuh, tetapi merupakan hasil evolusi yang dipengaruhi kebutuhan bergerak dan reproduksi.

Petunjuk mengenai proses tersebut datang dari penelitian yang diterbitkan dalam Scientific Reports pada 31 Juli 2026. Studi berjudul Neandertal pelvis reveals specialized walking apparatus in human males membandingkan dua panggul Neanderthal jantan dari Gua Kebara, Israel, dan Sima de los Huesos, Spanyol, dengan puluhan panggul manusia modern.

Ket. Foto: Dua konfigurasi. Satu dengan sendi pinggul anterior (mewakili panggul pria Homo sapiens) (Kiri) dan yang lainnya adalah panggul wanita manusia dan pria Neanderthal (Kanan). — Sumber: Foto Universitas Tel Aviv

Penelitian yang dilakukan Yoel Rak dan koleganya menunjukkan bahwa panggul Neanderthal jantan dalam sejumlah ukuran dan proporsi justru lebih menyerupai panggul perempuan modern daripada panggul pria modern. Temuan ini mengarah pada dugaan bahwa panggul pria Homo sapiens mengalami perubahan evolusioner yang lebih signifikan.

Panggul sebagai Sistem Pegas

Salah satu perbedaan utama terletak pada posisi acetabulum atau sendi panggul. Pada pria modern, sendi ini berada lebih ke depan dibandingkan perempuan modern dan Neanderthal jantan.

Menurut model biomekanik penelitian, perubahan tersebut memungkinkan otot paha bekerja seperti pegas. Ketika tubuh bergerak turun saat berjalan, sistem ini membantu menyerap beban, menyimpan sebagian energi, kemudian mengembalikannya untuk membantu mengangkat tubuh pada langkah berikutnya.

Para peneliti menggambarkan perubahan tersebut sebagai mekanisme yang dapat mengubah panggul pria modern menjadi semacam sistem peredam kejut dan pengembalian energi. Mereka menduga mekanisme ini terutama dapat memberikan keuntungan ketika manusia berjalan dalam jarak jauh. Namun, para peneliti juga menegaskan bahwa dugaan tersebut masih perlu diuji secara empiris.

Dalam penelitian tersebut, Rak dan koleganya menulis bahwa posisi sendi panggul yang lebih ke depan pada pria modern diduga “cushions the drop of the center of mass with every step” sekaligus menyimpan energi potensial pada otot fleksor paha.

Mengapa Panggul Pria dan Wanita Berbeda?

Para peneliti menduga kebutuhan persalinan menjadi salah satu alasan panggul perempuan tidak mengalami perubahan yang sama. Kanal kelahiran membutuhkan ruang yang memadai sehingga terdapat batasan terhadap perubahan bentuk panggul yang dapat terjadi.

Akibatnya, panggul perempuan modern kemungkinan mempertahankan sejumlah karakteristik yang lebih dekat dengan konfigurasi leluhur, sebagaimana terlihat pada panggul Neanderthal jantan. Dalam penelitian tersebut, penulis menyebut konfigurasi pada perempuan Homo sapiens sebagai bentuk ancestral yang masih dipertahankan.

Temuan ini memberikan perspektif baru mengenai dimorfisme seksual, yakni perbedaan anatomi antara pria dan wanita. Selama ini, perbedaan panggul sering terutama dikaitkan dengan fungsi reproduksi. Studi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan lokomosi atau pergerakan juga mungkin memainkan peran dalam evolusinya.

Dari Evolusi ke Biomekanika Modern

Kaitan penelitian ini dengan tubuh manusia masa kini juga disoroti Ella Been, salah satu penulis penelitian. Menurut Been, pemahaman mengenai evolusi mekanisme berjalan tidak hanya penting untuk menjelaskan masa lalu, tetapi juga dapat berkontribusi terhadap penelitian modern.

“Understanding the evolution of our walking mechanism can contribute to contemporary research in biomechanics, musculoskeletal medicine, rehabilitation, and injury prevention.”

Dalam konteks tersebut, struktur panggul dapat dipahami sebagai bagian dari sistem biomekanik yang lebih luas. Bentuk dan posisi sendi memengaruhi bagaimana gaya diteruskan melalui tubuh ketika seseorang berjalan atau melakukan aktivitas fisik.

Hubungan antara struktur panggul dan cedera olahraga perlu dilihat secara hati-hati. Penelitian Neanderthal tersebut tidak meneliti atlet maupun cedera ACL. Studi itu terutama membahas evolusi dan mekanisme ­berjalan. hay

  • situs arkeologi

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.