Rupiah Sulit Stabil? Indonesia Diminta Perkuat Ekspor dan Cadangan Devisa

Senin, 31 Agu 2026, 05:00 WIB

Jakarta - Nilai tukar rupiah dinilai membutuhkan fondasi ekonomi eksternal yang lebih kuat agar tetap stabil dalam jangka panjang. Penguatan ekspor dan cadangan devisa menjadi kunci untuk memperbesar pasokan valuta asing sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasar domestik.

Ekonom Senior Didik J Rachbini menilai kebijakan ekonomi Indonesia perlu lebih berorientasi keluar (outward looking) dengan memperkuat sektor eksternal.

Ket. Foto: Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Prof. Dr. Didik Junaidi Rachbini. — Sumber: Antara

Menurut Didik, Indonesia membutuhkan lebih banyak transaksi bisnis yang menghasilkan pendapatan dari luar negeri, bukan hanya mengandalkan konsumen domestik. Dominasi pasar dalam negeri memang mendorong aktivitas ekonomi, tetapi sebagian besar hanya menghasilkan perputaran rupiah.

“Ekonomi perlu mengembangkan kebijakan ekonomi yang berbasis ekspor yang akan mendatangkan cadangan devisa dolar yang besar. Ini yang sebenarnya dibutuhkan Indonesia untuk mendukung nilai tukar yang kuat,” kata Didik dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (30/8).

Menurut dia, ketergantungan pada pasar domestik yang ditopang jumlah penduduk dan kelas menengah yang besar menjadi salah satu kelemahan mendasar perekonomian Indonesia.

Ketika masyarakat membeli produk di dalam negeri, aktivitas tersebut memang menciptakan lapangan kerja, memberikan keuntungan bagi perusahaan, dan mendorong pertumbuhan produk domestik bruto (PDB). Namun, transaksi tersebut pada dasarnya hanya menggerakkan perekonomian domestik dan tidak secara langsung mendatangkan devisa baru.

“Dengan struktur ekonomi yang berorientasi ke dalam dan lemah dalam orientasi keluar, maka wajar cadangan devisa Indonesia tergolong paling lemah dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya,” ujar Didik.

Ia mencatat cadangan devisa Indonesia mencapai sekitar 145,3 miliar dolar AS pada akhir Juli 2026. Angka tersebut, menurut dia, masih jauh di bawah Singapura yang memiliki cadangan devisa sekitar 426,2 miliar dolar AS.

Thailand, yang mata uangnya pernah mengalami tekanan berat pada 1998, kini memiliki cadangan devisa sekitar 279,2 miliar dolar AS atau hampir dua kali lipat Indonesia. Sementara itu, Malaysia yang memiliki jumlah penduduk lebih sedikit mencatat cadangan devisa sekitar 132,6 miliar dolar AS.

“Bagi negara sebesar Indonesia, cadangan devisa sebesar ini tidak cukup dan bahkan terlalu kecil untuk menjadi penyangga eksternal,” jelas Didik.

Ia mengatakan besarnya pasar domestik memang memungkinkan perekonomian Indonesia tetap tumbuh meskipun nilai tukar rupiah mengalami depresiasi.

Namun, tanpa fondasi daya saing yang kuat di sektor eksternal, Indonesia akan kesulitan menjaga stabilitas rupiah dalam jangka panjang.

“Tetapi, tanpa fondasi daya saing di sektor luar negeri dan hanya dengan fondasinya pasar domestik, maka lima tahun ke depan jangan harap BI bisa menjadikan rupiah menjadi stabil dan kuat. Apalagi hanya dengan memainkan instrumen kebijakan suku bunga,” katanya.

Ketergantungan Komoditas

Didik menilai Indonesia memiliki potensi besar untuk menghasilkan devisa melalui kekayaan sumber daya alam. Ekspor batu bara, minyak kelapa sawit, dan nikel selama ini mampu mendatangkan devisa dalam jumlah besar.

Namun, ia mengingatkan ketergantungan pada ekspor komoditas mentah atau setengah jadi membuat penerimaan devisa Indonesia sangat dipengaruhi pergerakan harga global.

“Ekspor komoditas ini berjalan sangat baik ketika harga global sedang tinggi. Namun, Indonesia sendiri masih belum menjadi harga global untuk komoditas-komoditas tersebut,” ujarnya.

Menurut Didik, harga komoditas akan selalu mengalami fluktuasi. Ketika harga turun, penerimaan devisa Indonesia ikut tertekan sehingga dapat memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Pada saat yang sama, Indonesia tetap membutuhkan devisa untuk mengimpor barang modal dan bahan baku bagi kebutuhan domestik. Kondisi tersebut dapat memperlemah nilai tukar dan membuat upaya Bank Indonesia menjaga rupiah menjadi semakin berat.

Di sisi lain, Didik mengatakan investasi asing yang seharusnya dapat menjadi salah satu sumber devisa juga menghadapi berbagai tantangan.

Menurut dia, sejumlah faktor seperti persoalan korupsi, kepastian hukum, dan tingginya biaya transaksi dapat memengaruhi keputusan investor untuk menanamkan modal di Indonesia.

Indonesia, kata dia, tetap membutuhkan modal asing karena investasi dapat membawa masuk dana segar dalam bentuk devisa. Namun, investor memiliki banyak pilihan negara berkembang sebagai tujuan investasi.

“Persepsi risiko berinvestasi di Indonesia tidak dijaga dengan baik sehingga investasi berpikir dua tiga kali untuk masuk ke Indonesia. Jika negara lain menawarkan lingkungan bisnis yang lebih baik dan hukum yang lebih dipercaya, maka dana investasi bisa kabur dan pindah ke negara tersebut,” kata Didik.

Berdasarkan analisis terhadap kondisi sektor moneter, sektor riil, sektor domestik, dan sektor eksternal, Didik memperkirakan Bank Indonesia akan menghadapi tantangan dalam lima tahun ke depan untuk menciptakan nilai tukar rupiah yang lebih stabil dan kuat.

Kedaulatan rupiah

Sementara itu, mantan Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi mengatakan kecintaan terhadap rupiah dapat menjadi salah satu wujud nyata dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional sekaligus mencerminkan upaya masyarakat menjaga kedaulatan negara melalui kekuatan ekonomi.

Retno menilai dinamika global saat ini membuat ketahanan atau resiliensi semakin penting bagi suatu negara. Dalam konteks tersebut, ketahanan ekonomi menjadi salah satu unsur yang menentukan kemampuan Indonesia mempertahankan kedaulatannya.

“Kedaulatan rupiah dan rasa cinta kita kepada rupiah artinya adalah bahwa kita memiliki ruang yang cukup untuk menentukan kepentingan ekonomi kita tanpa tergantung secara berlebihan kepada pihak lain,” katanya.

Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Isu Air itu mengatakan kecintaan terhadap rupiah dapat diwujudkan melalui penggunaan rupiah dalam transaksi sehari-hari.

Menurut Retno, penggunaan rupiah akan semakin memberikan dampak apabila uang yang dibelanjakan digunakan untuk membeli produk-produk dalam negeri karena turut memperkuat aktivitas dan ketahanan ekonomi nasional.

  • nilai tukar rupiah

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.