Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Festival Babad Siti Kemantren 2026 Digelar Serentak, 14 Wilayah Yogyakarta Pamer Potensi Budaya

1 Minggu, 30 Agu 2026, 16:25 WIB | Oleh: Tim Penulis
Festival Babad Siti Kemantren 2026 Digelar Serentak, 14 Wilayah Yogyakarta Pamer Potensi Budaya Festival Babad Siti Kemantren 2026 Digelar Serentak, 14 Wilayah Yogyakarta Pamer Potensi Budaya Doc: Antara
Ket. Tugu Yogyakarta yang ada di Kota Yogyakarta.

Yogyakarta - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta kembali menggelar Festival Babad Siti Kemantren secara serentak di 14 kemantren pada 31 Agustus 2026 sebagai upaya mengangkat sejarah, budaya, dan potensi wilayah untuk mendukung pengembangan ekonomi kreatif serta pariwisata.

Kepala Dinas Kebudayaan Yogyakarta Yetti Martanti mengatakan festival yang memasuki tahun keempat tersebut tidak hanya diarahkan sebagai agenda pelestarian kebudayaan, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi untuk mengembangkan potensi di masing-masing wilayah.

"Memasuki tahun ke empat, Babad Siti Kemantren tidak hanya diarahkan sebagai agenda pelestarian kebudayaan, tetapi juga sebagai ruang membangun kolaborasi dan mengembangkan potensi wilayah," kata Yetti di Yogyakarta, Minggu (30/8).

Festival yang merupakan bagian dari rangkaian Peringatan Hari Keistimewaan Yogyakarta tersebut melibatkan pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, komunitas budaya, dan lembaga pendidikan melalui pendekatan pentahelix.

Menurut Yetti, setiap kemantren memiliki karakter dan cerita sejarah yang berbeda, mulai dari tradisi, cerita rakyat hingga warisan budaya yang masih hidup di tengah masyarakat.

Penguatan narasi sejarah dan budaya tersebut diharapkan dapat mendorong masyarakat mengenali potensi wilayah sekaligus mengembangkannya menjadi daya tarik ekonomi kreatif, produk lokal, kemitraan, maupun pariwisata berbasis pengalaman (experience-based tourism).

"Dengan demikian, Babad Siti Kemantren 2026 tidak hanya mengajak masyarakat mengenang masa lalu, tetapi menjadikan sejarah dan budaya sebagai pijakan untuk membangun masa depan wilayah yang lebih mandiri, berdaya saing, dan tetap berakar pada identitas sejarahnya," ujarnya.

Yetti mengatakan konsep festival tahun ini juga mengajak masyarakat melihat Kota Yogyakarta melalui 14 kemantren yang menjadi bagian dari mozaik kebudayaan kota.

"Setiap wilayah memiliki karakter dan cerita yang berbeda, sekaligus menjadi bagian dari mozaik kebudayaan Kota Yogyakarta," katanya.

Ia menambahkan, pengemasan sejarah melalui storytelling yang menarik dan komunikatif menjadi salah satu cara agar cerita masa lalu lebih mudah dipahami sekaligus semakin dekat dengan masyarakat.

"Melalui Babad Siti Kemantren, kami ingin memperkuat narasi sejarah dan budaya di setiap wilayah sekaligus mengemasnya melalui storytelling yang menarik dan komunikatif, sehingga sejarah menjadi lebih hidup dan dekat dengan masyarakat," katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
Luar Negeri
Polandia Menegang, Tatanan ...
Advertisement
Kerusuhan Migran Menjalar ke Swiss, Citra sebagai Negara Paling Stabil di Eropa Terancam

Kerusuhan Migran Menjalar ke Swiss, Citra sebagai Negara Paling Stabil di Eropa Terancam

01 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.