No Paradise If You Are Killed by a Woman: Misi Sniper Perempuan Kurdi Menembus Pusat Kekuasaan ISIS Demi Selamatkan Adiknya, Tayang Perdana Festival Film Venice
Jumat, 28 Agu 2026, 06:01 WIBFilm garapan sutradara Kurdish-Norwegia Halkawt Mustafa, "No Paradise If You Are Killed by a Woman" akan melakukan pemutaran perdana dunia di Venice International Film Festival ke-83 di Sala Grande pada 7 September 2026 pukul 23.50 waktu setempat.Â
Film berdurasi 110 menit dengan bahasa utama bahasa Kurdi tersebut masuk program Venice Open â Out of Competition. Pemutaran berikutnya tercatat pada 11 September di Astra 1 dan 12 September di Sala Darsena.
Drama aksi-thriller ini membawa kisah perempuan Kurdi dan pengalaman konflik dengan ISIS ( (Islamic State of Iraq and Syria) ke panggung festival film internasional.
Avan Jamal berperan sebagai Vyan, seorang penembak jitu perempuan Kurdi yang pernah menghadapi perang. Kehidupannya berubah setelah ia mengetahui bahwa adik perempuannya, yang diyakini hilang dalam serangan ISIS pada 2014, kemungkinan masih hidup di Mosul.
Vyan kemudian kembali ke kota yang berada di bawah kekuasaan ISIS untuk mencari dan menyelamatkan adiknya.
Namun, perjalanan tersebut bukan hanya misi penyelamatan. Menurut sinopsis resmi festival, Vyan selama bertahun-tahun berusaha menekan emosi dan trauma akibat perang. Kepulangannya ke Mosul membuat pengalaman tersebut kembali muncul dan memaksanya menghadapi masa lalu yang selama ini berusaha ia pendam.
Dari materi trailer yang telah diperkenalkan, No Paradise If You Are Killed by a Woman tidak hanya menempatkan perang sebagai latar aksi. Ceritanya berpusat pada seorang perempuan yang kembali ke lingkungan kekerasan yang pernah ia tinggalkan.
Trailer memperlihatkan suasana Mosul yang hancur, ketegangan bersenjata dan aksi Vyan sebagai penembak jitu. Film ini menggunakan pendekatan thriller aksi, tetapi konflik personal antara Vyan dan pengalaman masa lalunya menjadi bagian penting dari cerita.
Mustafa menyebut film tersebut sebagai gambaran tentang perempuan yang menolak menyerah terhadap kekerasan dan kegelapan yang mengelilinginya.
Daya tarik utama film ini bukan semata-mata pada adegan baku tembak. Cerita dibangun melalui dua tujuan Vyan: menemukan adiknya dan menghadapi trauma yang muncul kembali setelah ia memasuki kota yang berkaitan dengan masa lalunya.
Mustafa mengatakan film ini terinspirasi dari pertemuannya dengan perempuan Kurdi yang pernah bertempur melawan ISIS.
No Paradise If You Are Killed by a Woman memiliki konsep yang cukup jelas: menggunakan format thriller aksi untuk membawa kisah perang dari sudut pandang seorang perempuan Kurdi.
Pendekatan tersebut membuat konflik personal Vyan menjadi pusat cerita. Alih-alih hanya menampilkan perang sebagai rangkaian pertempuran, film berusaha menggabungkan misi penyelamatan dengan persoalan trauma dan kehilangan.
Trailer juga menunjukkan bahwa Mustafa menggunakan bahasa visual film perang dan thrillerâkehancuran kota, senjata, penyergapan dan situasi penuh tekananâuntuk membangun ketegangan.
Namun, penilaian terhadap kualitas akting, ritme cerita, koreografi aksi dan kedalaman karakter masih perlu menunggu pemutaran film secara utuh. Film tersebut baru akan menjalani pemutaran perdana dunianya di Venesia pada September 2026.
Bagi Mustafa, cerita Vyan juga berkaitan dengan pengalaman kehilangan rumah dan hidup dalam ketidakpastian. Ia mengatakan melalui karakter tersebut ingin memberikan penghormatan kepada perempuan yang memilih melawan dan memperjuangkan kebebasan orang lain.
Dengan latar Mosul, karakter penembak jitu perempuan dan misi menyelamatkan anggota keluarga, No Paradise If You Are Killed by a Woman menempatkan konflik bersenjata, kehilangan dan trauma personal dalam satu cerita thriller yang akan pertama kali diuji di hadapan penonton internasional di Festival Film Venesia.
Dalam pernyataan resminya untuk Venice Film Festival, Mustafa mengatakan ia bertemu perempuan-perempuan di garis depan sejak 2014. Pengalaman mereka menghadapi ketakutan, kehilangan dan ketidakpastian menjadi salah satu sumber inspirasi untuk karakter Vyan.
Sutradara kelahiran Kurdistan Irak tersebut juga memiliki pengalaman sebelumnya mengangkat isu perempuan Kurdi yang berhadapan dengan ISIS. Pada 2015, ia menyutradarai dokumenter The Women Isis Fears, sementara film dokumenternya Hiding Saddam Hussein dirilis pada 2023.
Pemeran dan kru
Avan Jamal menjadi pemeran utama sebagai Vyan. Ia beradu akting dengan Thorbjørn Harr, Kanar Sarchl dan Kader Jalal.
Mustafa menulis sekaligus menyutradarai film ini. John Erling H. Fredriksen menangani sinematografi, Wibecke Rønseth bertugas sebagai editor, sedangkan musik digarap Trond Bjerknes.
Film ini diproduksi Hene Films dengan produksi bersama dari Norwegia, Kurdistan Irak, Uni Emirat Arab dan Swedia.
- Venice International Film Festival
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.