- Home
-
- Luar Negeri
-
- Iran Diperkirakan Tidak Ku...
Iran Diperkirakan Tidak Kuat Menahan Lama Sanksi Ekonomi Baru dari AS
Rabu, 26 Agu 2026, 03:00 WIBWASHINGTON - Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS), Scott Bessent, pada Senin (24/8), memaparkan rencana âmencekik ekonomiâ Iran dengan memperluas ancaman sanksi sekunder Washington dan memperingatkan konsekuensi buruk bagi negara-negara yang tidak bergabung dalam kampanye tersebut.
Pengumuman itu disampaikan hampir enam bulan setelah dimulainya perang di Iran yang telah menemui jalan buntu, dengan perundingan perdamaian yang terhenti dan Teheran memblokir sebagian besar lalu lintas melalui Selat Hormuz.
Sebelumnya, Bessent mengatakan AS mendeklarasikan âHari-H ekonomiâ terhadap Iran, tetapi pengumumannya tidak menyebutkan negara tertentu selain Iran dan tidak menetapkan jangka waktu.
âDi seluruh dunia, tujuan kami adalah untuk memutuskan setiap jalur ekonomi yang menopang rezim tirani ini sampai Teheran berdiri sendiri,â kata Bessent kepada para wartawan.
âKami akan meminta pertanggungjawaban semua orang, dan ini adalah pencekikan ekonomi terhadap rezim ini,â katanya, menambahkan bahwa negara-negara yang tidak bergabung dengan sanksi AS akan âikut merasakanâ isolasi Iran.
Menurut Bessent, Presiden AS Donald Trump melakukan panggilan telepon kepada para pemimpin dunia dengan permintaan untuk menghentikan interaksi dengan Teheran.
Departemen Keuangan mengatakan sanksi sekunder yang diperluas akan menargetkan aset digital Iran, teknologi, emas, sektor penerbangan dan perkapalan.
Selain itu, pemerintah juga mengeluarkan sanksi baru terhadap 60 individu, perusahaan, dan kapal yang diduga membantu Iran dalam menghasilkan pendapatan minyak, pengadaan senjata, dan operasi siber. Sanksi tersebut berdampak pada berbagai entitas di seluruh dunia, termasuk di Uni Emirat Arab, Hong Kong, Tiongkok, Singapura, dan Eropa.
Bessent bersumpah bahwa entitas mana pun âyang memfasilitasi pencucian uang atas nama Iran akan dikeluarkan dari sistem dollar AS.
Iran telah menepis ancaman sanksi tambahan, dan pada 24 Agustus, menteri perekonomiannya memperkirakan âkekalahan lainâ bagi Washington.
âKami telah menunggu rencana ini sejak lama, dan pemerintah sudah siap dan memiliki rencana dua tahun untuk mengelola acara-acara ini,â kata Ali Madanizadeh.
Iran sendiri telah bertahan menghadapi sanksi selama beberapa dekade, menggunakan jaringan keuangan internasional yang kompleks untuk menghindari pembatasan.
Sebelum perang, negara itu terus mengekspor jutaan barel minyak, sebagian besar ke Tiongkok.
Ketika ditanya pada 24 Agustus apakah bank-bank Tiongkok akan menjadi sasaran sanksi baru tersebut, Bessent mengatakan bahwa âtidak ada seorang pun yang kebal terhadap jangkauan sanksi ASâ.
- sanksi ekonomi
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: AFP, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.