Jejak Koleksi Seni Adam Malik dalam Buku “Lukisan-Lukisan Koleksi Adam Malik”
Jumat, 21 Agu 2026, 21:10 WIBPerhatian saya terhadap seni lukis nasional, yang berawal sebelum masa kemerdekaan pun, telah senantiasa terdorong bukan saja oleh apresiasi dari segi seni saja, tapi juga karena kesadaran betapa vitalnya daya seni lukis itu sebagai salah satu ekspresi cita-cita perjuangan nasional bangsa Indonesia dari zaman ke zaman," demikian kata Adam Malik dalam buku âLukisan-lukisan Koleksi Adam Malik, Wakil Presiden Republik Indonesiaâ, 1978.
Adam Malik (1917â1984) dikenal sebagai aktivis anti-kolonial, jurnalis dan salah satu pendiri Kantor Berita ANTARA, diplomat, dan kemudian Wakil Presiden Indonesia periode 1978-1983.
Namun, mungkin tidak banyak yang tahu bahwa ia juga kolektor seni. Dia membangun koleksi, yang kemudian disebut Koleksi Adam Malik, melalui persahabatan dengan para seniman, seperti S Sudjojono sejak 1940-an, yang merupakan tokoh kunci seni rupa modern Indonesia dan diberi sebutan "Bapak Seni Lukis Indonesia Modern".
Adam Malik bersahabat dengan para seniman, antara lain di Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi), Seniman Indonesia Muda (SIM), Pelukis Rakyat, bahkan dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra).
Jaringan persahabatan itulah yang kemudian membantunya membangun koleksi seni, khususnya lukis, sejak 1949. Kedekatan Adam Malik dengan peristiwa bersejarah dan dengan para senimannya membentuk koleksi lukisan yang khas.
Beberapa lukisan yang dia koleksi merekam kisah-kisah intim masyarakat yang berada dalam transisi antara tradisi dan modernitas, identitas dan perjuangan sosial di masa awal era Orde Baru.
Melalui pameran "The Adam Malik Collection" di Museum Seni Rupa dan Keramik (MSRK) Jakarta pada 15-23 Agustus 2026, kurator Farah Wardani dan Amir Sidharta memperlihatkan kekhasan koleksi lukisan sang diplomat kepada publik. Pameran ini, sekaligus menandai 50 tahun sejak pendirian Balai Seni Rupa Jakarta, pendahulu Museum Seni Rupa dan Keramik (MSRK) Jakarta, yang dibuka pada 20 Agustus 1976.
Total terdapat 22 lukisan yang dipamerkan, beberapa di antaranya pernah dihadirkan dalam pameran perdana "Se-Abad Seni Rupa Indonesia" (1876-1976), yang menyatukan 131 karya koleksi publik dan swasta, termasuk 15 dari Adam Malik.
Sejumlah lukisan dari Koleksi Adam Malik yang jarang dipamerkan juga dihadirkan, termasuk karya SÂ Sudjojono, berjudul "Maka Lahirlah Angkatan 66", yang merangkum kompleksitas dan arti penting koleksi tersebut, sekaligus memperlihatkan keterkaitan antara seni dan politik serta hubungan antara seniman dan patron.
Karya tersebut dilukis di tengah pergolakan politik tahun 1966, merekam suasana Jakarta ketika ruang publik dipenuhi slogan, grafiti, dan tuntutan perubahan.
Memperlihatkan seorang pemuda berjaket merah yang menggenggam kaleng cat, dikelilingi tulisan-tulisan protes yang merujuk pada peristiwa politik saat itu. Identitas sang pemuda sengaja dibiarkan ambigu, sehingga mengundang beragam penafsiran tentang perubahan dan ketidakpastian zaman.
Ini menjadi satu-satunya dan merupakan lukisan terakhir yang dibuat Sudjojono dengan narasi yang secara langsung merujuk pada situasi politik faktual negara.
Jakarta pada 1966 dipenuhi mobil dan sepeda motor di jalanan, orang-orang berkumpul, dan slogan muncul di berbagai sudut kota. Pada tahun 1966, mahasiswa turun ke jalan Jakarta dalam gelombang demonstrasi yang menuntut perubahan politik.
Karya tersebut tampaknya tetap relevan dengan zaman penuh gejolak saat ini. Kebijakan ekonomi, korupsi, dan kebebasan ruang sipil di era pemerintahan masa kini kembali memicu beberapa kali unjuk rasa dilakukan di Ibu Kota, khususnya oleh para mahasiswa yang berfokus pada kritik.
Tak melulu tentang politik, Adam Malik juga tertarik dengan kisah-kisah intim masyarakat yang berada dalam transisi antara tradisi dan modernitas.
Salah satunya lewat koleksi lukisan "Pasar Hewan" 1965 karya Roeliati Soewarjono (1930-2023), yang pernah menjadi bagian dari pameran "Se-Abad Seni Rupa Indonesia" tahun 1976.
Lukisan ini menangkap denyut kehidupan masyarakat agraris Indonesia. Pasar tidak hanya menjadi tempat jual beli ternak, tetapi juga ruang perjumpaan petani dan peternak untuk membangun hubungan sosial, mengobrol, serta menjaga kehidupan komunitas.
Pada koleksi lainnya, unsur tradisi menjadi perhatian Adam Malik, salah satunya "Sesaji" 1968 karya Rusli (1916-2005). Sesaji dalam lukisan merujuk pada ritual larangan sesaji, yakni menghanyutkan sesembahan ke laut, sungai, atau telaga, yang dipraktikkan di berbagai wilayah Jawa.
Melalui "Sesaji", diangkat tradisi persembahan sebagai ungkapan hubungan manusia dengan alam dan dunia spiritual.
Unsur tradisi juga dihadirkan Batara Lubis melalui karya "Pengantin Mandailing I" 1970, yang menggambarkan sepasang pengantin dari etnis Mandailing, Sumatera Utara, merupakan asal etnis sang pelukis.
Dengan menggabungkan elemen tradisional dengan bahasa visual modern, dia menunjukkan bagaimana seni Indonesia Modern mendapatkan kekuatan dari kekayaan tradisi lokal.
Batara Lubis membuat beberapa versi seri "Pengantin Mandailing", yang kini tersimpan di berbagai institusi dan koleksi pribadi.
Seri ini menjadi ciri khasnya, bermula dari dua karya yang dikoleksi Adam Malik dan kemudian dihibahkan ke Balai Seni Rupa Jakarta, yang kini menjadi Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta.
Ada juga "Dewi" 1962 karya Agus Djaya. Lukisan ini menggambarkan perempuan mengenakan busana dan perhiasan yang terinspirasi dari relief candi-candi Hindu-Budha di Jawa, menghadirkan kembali jejak sejarah dan spiritual dalam bahasa seni lukis modern. "Dewi" juga pernah dihadirkan dalam pameran "Se-Abad Seni Rupa Indonesia".
Lewat koleksi lukisannya, Adam Malik ikut merekam cerita masa lalu, yang mungkin bisa membangkitkan ingatan mereka yang hidup di masa itu dan masih hidup saat ini.
Mari menyelami sosok Adam Malik melalui koleksi sapuan kuas di atas kanvas karya para seniman tanah air lewat pameran âThe Adam Malik Collection" di Museum Seni Rupa dan Keramik (MSRK) Jakarta.
- Lukisan-lukisan Koleksi Adam Malik
Redaktur: Yebdi Trismar
Penulis: Yebdi Trismar
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.