Jaring Pengaman Peternak Mikro Perlu Diperkuat
📅 Jumat, 21 Agu 2026, 06:30 WIB | Oleh: Tim PenulisSektor Peternakan
JAKARTA — Pemerintah berencana menambah kuota program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung hingga 150 ribu ton. Langkah itu untuk melindungi ekosistem peternak unggas nasional, terutama kepada peternak skala mikro yang rentan terhadap fluktuasi harga pakan.
Sebagai informasi, program SPHP jagung pakan pada 2026 dimulai sejak awal Mei lalu. Total kuota salur ditetapkan sebanyak 213,2 ribu ton yang terdiri dari kebutuhan jagung pakan bagi kelompok peternak skala usaha mikro, kecil, dan menengah.
Kuota sebanyak 138,65 ribu ton dengan asumsi kebutuhan 3 bulan bagi kelompok peternak mikro. Kemudian 50,37 ribu ton dengan asumsi kebutuhan 2 bulan bagi kelompok peternak kecil dan 24,17 ribu ton dengan asumsi kebutuhan 1 bulan bagi peternak menengah.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) secara resmi mengusulkan kepada Kementerian Koordinator Bidang Pangan untuk dapat diadakan Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas). Rakortas diharapkan dapat membahas dan memutuskan penambahan kuota program SPHP jagung pakan sebanyak 150 ribu ton.
“Beberapa waktu yang lalu Bapak Kepala Bapanas sudah mengundang seluruh asosiasi peternakan telur di Surabaya untuk memastikan bahwa pemerintah akan melakukan intervensi. Pada kesempatan tersebut sudah disepakati bahwa untuk mengendalikan harga, unlock-nya harga telur di tingkat produsen ini, Bapak Kepala Bapanas sudah memutuskan untuk menambah SPHP jagung sebanyak 150 ribu on,” papar Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa d di Jakarta pada Kamis (20/8).
“Nanti kita menunggu rakortas di Kemenko Pangan, sehingga dapat membantu peternak yang menghadapi kondisi relatif harga pakan agak naik sedikit. Kemudian DOC (Day Old Chicks) dan lain sebagainya. Dengan adanya tambahan SPHP jagung ini, harapan kita peternak masih bisa membeli pakan dengan harga yang relatif wajar,” tambah Deputi Bapanas Ketut.
Adapun realisasi salur SPHP jagung pakan per 18 Agustus mencapai 49,97 persen dari total target 213,2 ribu ton. Secara kuantitas sebanyak 120,31 ribu ton telah diakses peternak yang tersebar di 28 provinsi. Daerah dengan jumlah peternak tertinggi adalah Jawa Timur dengan 3.672 peternak dan Jawa Tengah 2.012 peternak.
“Oleh karena itu, dengan kendali-kendali yang kita lakukan, mudah-mudahan relatif harga telur baik di produsen maupun di konsumen, nantinya bisa terkendali dengan baik dan sesuai dengan harga acuan yang kita tetapkan,” sebut Ketut.
Eskalasi Harga
Terkait harga telur di tingkat peternak memang masih belum menyentuh Harga Acuan Pembelian (HAP) yang ditetapkan pemerintah di 26.500 rupiah per kilogram (kg). Upaya eskalasi harga terus dilakukan pemerintah agar level harga peternak dapat lebih membaik.
“Perkembangannya di sisi produsen ini masih rendah sehingga kami sedang mengupayakan penaikan di tingkat produsen. Mungkin akan berefek pada IPH (Indeks Perkembangan Harga) nantinya. Tapi kalau kita melihat di sisi konsumen memang juga masih di bawah 30.000 rupiah,” jelas Ketut.
Dalam pantauan Bapanas, per 19 Agustus rerata harga telur ayam tingkat peternak berada di 22.978 rupiah per kg atau 13,29 persen di bawah HAP dan ayam broiler tingkat peternak di 24.849 rupiah per kg atau 0,6 persen di bawah HAP.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!