Cukai Emisi Kendaraan Bebani Kelas Menengah Bawah

Kamis, 20 Agu 2026, 06:00 WIB

Ekstensifikasi Penerimaan - Potensi Cukai Emisi Kendaraan Roda Empat Capai Rp40,4 T

Tujuan pengendalian emisi jangan sampai memperlebar tekanan terhadap daya beli dan pengeluaran rumah tangga.

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

JAKARTA – Wacana pene­rapan cukai emisi kendaraan bermotor perlu dikaji secara hati-hati karena berpotensi menambah beban ekonomi masyarakat, ter­utama penggu­na sepeda motor dari kelompok menengah ke bawah. Kebijak­an ini sebaiknya diterapkan se­cara bertahap dengan mempertimbangkan kemampuan masyarakat, se­kaligus diiringi insentif dan skema transisi yang jelas. 

WRI Indonesia dan Indef Green Transition Initiative (GTI) menyoroti wacana pe­nerapan cukai emisi kendara­an bermotor, menyusul pelun­curan Ekosistem Motor Listrik Nasional (Molinas) oleh Pre­siden Prabowo Subianto pada 13 Agustus 2026. Program tersebut menandai arah pe­merintah untuk mengurangi kebergantungan pada ba­han bakar minyak (BBM) dan mempercepat elektrifikasi transportasi.

Head of Industrial and Transport Decarbonization In­def GTI, Andry Satrio Nugroho menilai transisi menuju ken­daraan listrik perlu dilakukan secara bertahap dan memper­timbangkan kemampuan eko­nomi masyarakat. “Cukai emisi dapat menjadi langkah awal yang lebih adil karena beban dikenakan berdasarkan emisi kendaraan,” kata dia di Jakarta, Rabu (19/8).

Indef GTI menyoroti ting­ginya kebergantungan masya­rakat terhadap sepeda motor. Berdasarkan Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional) 2025, tingkat penggunaan kendaraan pada kelompok masyarakat de­sil bawah 4 mencapai 95 per­sen.

“Menanggapi pernyataan Presiden mengenai pengenaan pajak karbon pada kendaraan roda dua, penerapannya perlu dilakukan secara bertahap dan disertai insentif bagi masyara­kat yang beralih ke motor lis­trik, termasuk melalui skema trade-in. Kebijakan ini perlu dirancang secara hati-hati agar tidak menambah beban masyarakat berpendapatan rendah dan menengah yang mengandalkan sepeda mo­tor sebagai moda transportasi utama,”ujar Andry.

Dia menambahkan, cukai emisi bisa menjadi alternatif yang lebih adil dibanding pajak karbon flat. Skema ini mem­bebankan fiskal sesuai tingkat emisi kendaraan, baik roda dua maupun roda empat.

Berdasarkan hitungan Indef GTI, potensi penerimaan cukai emisi dari kendaraan roda em­pat saja mencapai 40,4 triliun rupiah per tahun. Angka itu lebih besar dari gabungan po­tensi cukai plastik dan minum­an berpemanis. Dana tersebut disarankan dialokasikan untuk memperluas transportasi pub­lik serta memberi insentif bagi masyarakat yang beralih ke kendaraan listrik.

Peta Jalan

WRI Indonesia dan In­def GTI menilai Molinas bisa menjadi langkah awal stra­tegis. Namun agar tidak ber­henti sebagai program tung­gal, diperlukan tiga pilar, yakni orkestrasi kebijakan lintas sektor, kejelasan arah pasar dan penguatan industri, serta stimulus permintaan se­cara konsisten.

Senior Manager WRI In­donesia I Made Vikannanda menekankan pentingnya peta jalan terukur. “Presiden sudah menetapkan arah yang jelas mengenai masa depan elektri­fikasi transportasi Indonesia. Langkah berikutnya adalah memastikan visi tersebut diter­jemahkan ke dalam peta jalan yang terukur dan dapat dilak­sanakan lintas sektor. Dengan demikian, pemerintah dapat memberikan kepastian bagi industri sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional,” ujarnya.

WRI-Indef juga meng­ingatkan risiko kehilangan momentum. Penataan sub­sidi Pertalite akan mengubah struktur subsidi BBM, semen­tara insentif kendaraan listrik saat ini mendekati akhir. Jika keduanya berjalan tanpa peta jalan yang menyatukan, ma­syarakat berisiko tidak memi­liki alternatif kendaraan yang cukup murah.

“Subsidi yang direformasi tanpa alternatif yang cukup murah bagi konsumen, dan permintaan kendaraan lis­trik yang sudah tumbuh tan­pa kepastian kebijakan untuk mempertahankannya,” tegas laporan bersama WRI-Indef.

Elektrifikasi dinilai penting untuk ketahanan energi. Setiap liter BBM impor yang diganti­kan listrik produksi dalam ne­geri dapat meringankan APBN. ICCT memperkirakan pada 2025 penghematan belanja energi dari kendaraan listrik mencapai lebih dari 100 miliar rupiah.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

Berita Terbaru

The Dudas Minus One Go International! Siap Gelar Tur di Sejumlah Negara Asia

Dari Gedung Joang '45 ke Las Vegas, BMW Passato Karya Modifikator Indonesia Tembus Panggung SEMA Show 2026

Arsenal Capai Kesepakatan dengan Ezri Konsa, Transfer dari Aston Villa Tembus Rp1,1 Triliun

Bukan Sekadar Dibina, WBP Lapas Narkotika Samarinda Didorong Jadi Petani Mandiri

Verstappen Memburu Penutup Manis di Zandvoort

Bukan Sekadar Bisnis, Pertamina Serius Jaga Kelestarian Laut di Sulawesi

Prancis Dilanda Gelombang Panas Terparah, 7.307 Kematian Berlebih Tercatat Sepanjang 2026

Fantastis! KPK Telah Sita Aset Rp150 Miliar dalam Kasus Silmy Karim, Ini Penjelasannya

Gol-Gol Menegangkan! Barcelona Taklukkan Al Ahly 2-1 di Laga Pramusim

Jakarta Berawan Kamis Pagi, Simak Prakiraan Cuaca Lengkapnya

Pertemuan Menlu China dan Korsel Soroti Situasi Terkini Semenanjung Korea

Trump Ungkap Rencana Bertemu Kim Jong Un Tahun Ini, Bahas 57 Senjata Nuklir Korea Utara

Sistem Subak Bali Jadi Contoh Global Pengelolaan Sumber Daya Berkelanjutan

Kendala Distribusi Bantuan Warga Pulau Palue Pascagempa akibat Jalan Antardesa Terputus

Pedagang Kembali Berjualan di Pasar Tradisional Pascagempa NTT

Cukai Emisi Kendaraan Bebani Kelas Menengah Bawah

Ketahanan Pangan Bisa Tekan Kriminalitas? Ini Kata Gubernur Jawa Barat

Kemenhub Sebut BRT Mebidang Upaya Pemerintah Bangun Transportasi Perkotaan

NTT Kembali Diguncang Gempa M 5,7 pada Rabu Malam, Ini Informasinya

Karya Modifikator Indonesia Bakal Ditampilkan di SEMA Show 2026 Las Vegas

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.