Bukan Sekadar Dibina, WBP Lapas Narkotika Samarinda Didorong Jadi Petani Mandiri

Kamis, 20 Agu 2026, 06:42 WIB

SAMARINDA - Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Kelas IIA Samarinda, Kalimantan Timur, menyemai kemandirian warga binaan pemasyarakatan (WBP) melalui program pelatihan agribisnis.

"Program pembinaan agribisnis ini menjadi upaya kami untuk membekali mereka dengan keterampilan kerja secara nyata," ujar Kepala Lapas Narkotika Samarinda Puang Dirham di Samarinda, Rabu.

Ket. Foto: Seorang warga binaan pemasyarakat (WBP) (kiri) bersama para petugas Lapas Narkotika Samarinda memanen sayuran kacang panjang. — Sumber: Antara foto/HO-Lapas Narkotika Samarinda

Dia menyampaikan pemberdayaan bidang pertanian serta perikanan tersebut dilakukan dengan memanfaatkan sisa lahan produktif pada area luar maupun dalam fasilitas lapas tersebut.

Dia menjelaskan para tahanan diajarkan beragam teknik budidaya modern seperti penanaman hortikultura menggunakan media tanam hemat ruang hingga tata cara pembesaran bibit ikan.

"Keberhasilan suatu program tidak hanya diukur dari jumlah panen, melainkan dari peningkatan kemampuan seluruh warga dalam mengembangkan kapasitas diri," ujarnya.

Menurut dia, bukti keberhasilan program pelatihan ini tampak jelas saat para WBP memanen puluhan kilogram sayuran segar terong dan sawi.

Selain komoditas sayuran hijau tersebut, lahan asimilasi berukuran terbatas itu juga mampu memproduksi panen cabai serta kacang panjang berkualitas baik.

"Melalui pengelolaan lahan produktif yang amat terbatas inilah akhirnya dapat ditumbuhkan benih keterampilan kemandirian untuk masa depan mereka kelak," paparnya.

Tidak cuma berfokus pada perkebunan sayur, pihak Lapas Narkotika Samarinda kini gencar mengembangkan kegiatan peternakan dan perikanan air tawar lewat penyebaran seribu benih ikan nila.

Dia mengatakan seluruh hasil panen melimpah dari kegiatan agribisnis tersebut langsung dimanfaatkan secara penuh guna memenuhi setiap kebutuhan konsumsi harian dapur lapas.

"Kegiatan budidaya terpadu ini secara otomatis juga mendukung kelancaran program ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan dari area dalam penjara," jelasnya.

Menurut dia, proses kerja mulai dari kegiatan penyemaian bibit unggul hingga tahapan pemeliharaan harian terbukti mampu mendidik nilai kedisiplinan individu.

Puang mengatakan sinergi yang bersama jajaran instruktur membuat sebuah keterbatasan ruang kurungan sama sekali tidak menjadi hambatan untuk mencetak karya.

"Kami amat berharap ilmu keterampilan bertani ini kelak benar-benar menjadi bekal hidup saat mereka kembali berbaur di tengah masyarakat," tuturnya.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Marcellus Widiarto

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.