Sejahterakan Petani lewat Percepatan Hilirisasi Pangan
Jumat, 14 Agu 2026, 10:37 WIBLEBAK â Kondisi petani selalu dalam keadaan tidak sejahtera, andaipun harga-harga hasil panen meninggi. Untuk itu, perlu terobosan untuk meningkatkan kesejateraannya. Pemerintah Kabupaten Lebak, Banten, mendorong percepatan hilirisasi pangan guna meningkatkan nilai tambah produk dan menyejahterakan petani.
â"Kita meyakini hilirisasi pangan dapat mendongkrak pendapatan ekonomi petani," kata Wakil Bupati Lebak Amir Hamzah, Kamis. Selama ini, Kabupaten Lebak sebagai penghasil pangan terbesar Banten, namun belum berdampak luas bagi kesejahteraan petani. Ia juga mengatakan saat panen raya, banyak gabah dari Kabupaten Lebak dijual keluar daerah, seperti Subang, Karawang, Bogor hingga Lampung.
Dengan demikian, dia minta petani mendorong hilirisasi pangan agar gabah hasil panen tersebut tidak keluar daerah dengna dikelola sendiri. Kabupaten Lebak sebagai daerah produsen beras nasional memiliki luas tanam 150.000 hektare dengan tiga kali musim tanam dalam setahun.
Produksi gabah kering pungut (GKP) mencapai 500.000 ton setara beras. Sedangkan konsumsi beras masyarakat Lebak per tahun 148.000 ton. Jumlah penduduk Lebak 1,5 juta, sehingga terdapat surplus 320.000 ton. â"Kami berharap hasil produksi pangan itu dapat mendongkrak pendapatan ekonomi petani," katanya menjelaskan.
Menurut Amir, pemerintah Kabupaten Lebak memiliki komitmen untuk meningkatkan kesejahteraan petani dengan mendirikan perusahaan daerah bernama "Lebak Niaga" guna menampung hasil panen petani. Perusahaan daerah tersebut membeli gabah dari petani sesuai HPP, sehingga dapat memutus mata rantai tengkulak.
Saat ini, perusahaan daerah sudah memiliki RMUÂ berteknologi modern untuk memproduksi beras premium yang berkualitas. Produksi beras premium itu dipasok ke sejumlah daerah di Banten, Jawa Barat dan Jakarta. â"Kami minta ke depannya hasil panen petani ditampung oleh Lebak Niaga agar pendapatan ekonomi petani memiliki nilai tambah sehingga dapat menyejahterakannya," katanya.
Amir menandaskan, setiap kelompok petani diharapkan memiliki RMU skala kecil dan menampung gabah hasil panen anggotanya. Produksi beras kelompok tani tersebut nantinya bisa dijual ke luar daerah, sehingga Kabupaten Lebak memiliki branding produksi beras sendiri.
Pemerintah daerah berkolaborasi dengan kelompok tani, Perum Bulog, dan dinas terkait untuk menampung hasil produksi hilirisasi pangan. â"Kami yakin hilirisasi pangan dapat memperkuat daya saing sektor pertanian, sehingga menciptakan petani yang lebih mandiri sehingga bermuara pada kesejahteraan," katanya.
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Aloysius Widiyatmaka
Berita Terkait:
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.