Kembali Setelah Delapan Tahun, RUCI Art Wall Soroti Wajah Baru Seni Indonesia
Rabu, 12 Agu 2026, 11:25 WIBJAKARTA â Setelah vakum selama delapan tahun, RUCI Art Space kembali menggelar RUCI Art Wall (RAW) Vol. 2. Pameran kelompok ini mempertemukan 21 seniman terpilih dari lebih dari 300 proposal yang masuk melalui proses open submission.
Pameran yang berlangsung pada 9 Agustus hingga 27 September 2026 di RUCI Art Space, Jakarta, ini menjadi ruang bagi generasi baru seniman Indonesia untuk memperkenalkan praktik dan gagasan mereka kepada publik.
RAW pertama kali diperkenalkan pada November 2018. Program tersebut dirancang sebagai ruang awal bagi seniman yang tengah membangun praktik berkesenian, sekaligus memberikan kesempatan untuk mengalami secara langsung proses berpameran dalam ekosistem galeri seni rupa.
Kembalinya RAW dengan jumlah proposal yang mencapai lebih dari 300 menjadi catatan tersendiri bagi RUCI Art Space. Di tengah bertambahnya jumlah galeri dan pameran seni di Indonesia, tingginya antusiasme seniman menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap ruang pamer dan platform bagi seniman generasi baru masih cukup besar.
Setelah melalui proses kurasi dengan mempertimbangkan kekuatan visual, gagasan, serta konteks kekaryaan, sebanyak 21 seniman dipilih untuk berpartisipasi dalam RAW Vol. 2.
âRAW Vol. 2 mempertemukan dua bentuk âkemudaanâ: mereka yang masih muda secara usia, dan mereka yang mungkin telah lama berkarya namun baru memulai perjalanan berpamerannya. Yang kami lihat bukan sekadar perbedaan medium atau pendekatan visual, tetapi keberanian untuk mengangkat pengalaman yang paling dekat dengan diri mereka sendiri,â kata Rio Pasaribu, Gallery Director dan Co-Founder RUCI Art Space melalui keterangannya pada hari Rabu (12/8).
Dari Musik, Identitas hingga Ingatan
Karya-karya yang ditampilkan dalam RAW Vol. 2 menghadirkan beragam pengalaman personal dan kegelisahan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Musik, keluarga, identitas, ingatan, konsumsi, tubuh, serta pengalaman tumbuh dewasa menjadi sejumlah gagasan yang muncul melalui berbagai medium.
Salah satunya ditampilkan oleh Elfa Zulham, yang selama ini dikenal sebagai pemain drum jazz Indonesia dan bagian dari perjalanan kelompok seperti Tomorrow People Ensemble dan Batavia Collective. Dalam pameran ini, Zulham membawa kedekatannya dengan musik jazz ke dalam praktik seni rupa.
Ia menghadirkan figur musisi legendaris seperti Billie Holiday dan Miles Davis dalam komposisi yang memadukan referensi jazz dengan kultur populer. Kedua figur tersebut digambarkan mengenakan jersey basket dan dilukis di atas lembaran partitur dari karya musik mereka.
Pertemuan antara musik jazz, budaya populer, dan seni rupa tersebut menjadi bentuk penghormatan personal Zulham terhadap para musisi yang turut membentuk perjalanan musikalnya.
Eksplorasi terhadap ingatan hadir melalui karya Rosa Guerinoni, yang menggunakan kayu reklamasi dari rumah-rumah tua sebagai bidang lukisan. Material tersebut tidak hanya berfungsi sebagai media, tetapi juga membawa jejak kehidupan dan sejarah dari tempat asalnya.
âSetiap panel membawa jejak kehidupan sebelumnya. Lapisan cat, goresan, dan bekas perjalanan waktu menjadi bagian dari karya itu sendiri,â ujar Rosa.
Rosa sebelumnya menempuh pendidikan classical sculpture di Academy of Fine Arts di Florence, Italia. Dalam praktik seninya, ia mengeksplorasi hubungan antara material, figur manusia, identitas, dan memori.
Sementara itu, Labaika Adkha Maharani menghadirkan karya patung resin berjudul Belajar dari Yang Kecil. Karya tersebut menampilkan figur yang mengulurkan kedua tangannya seolah menawarkan sesuatu yang tidak terlihat.
Yang ditawarkan bukan benda, melainkan pengalaman-pengalaman sederhana yang perlahan dapat hilang ketika seseorang beranjak dewasa. Melalui gestur yang sederhana, karya tersebut mengajak pengunjung untuk kembali memperhatikan hal-hal kecil yang kerap dianggap sepele, tetapi turut membentuk cara seseorang memahami kehidupan.
21 Perspektif dalam Satu Ruang
RAW Vol. 2 tidak disusun berdasarkan satu tema tunggal yang harus diikuti seluruh seniman. Sebaliknya, pameran ini memberikan ruang bagi beragam perspektif dan pengalaman personal untuk hadir secara berdampingan.
Ke-21 seniman yang berpartisipasi dalam RAW Vol. 2 adalah Alfan Manthovani, Anady Aria, Anzi Matta, Bismar Siagian, Elfa Zulham, Jerojerrr, Fitra Rahardjo, Gusti Kade, Iqbal Dwi Priatna, Jaz Abraham Pratama, Labaika Adkha Maharani, Lowpop, M. Rizky Aditya, Raymond Gandayuwana, R. Dewa, Rosa Guerinoni, MivetBoi, Shavira Mada, Suwandi Waeng, Svkmatra, dan Trio Muharam.
Keberagaman tersebut menjadi bagian penting dari pendekatan RAW Vol. 2. Alih-alih menghadirkan satu narasi besar, pameran memberikan kesempatan kepada masing-masing seniman untuk berbicara melalui pengalaman, medium, dan bahasa visual mereka sendiri.
Bagi RUCI Art Space, proses open submission juga menjadi salah satu cara untuk memperluas akses seniman terhadap ruang pamer yang mungkin belum mereka dapatkan sebelumnya.
âJumlah proposal yang kami terima menunjukkan bahwa begitu banyak seniman memiliki karya dan gagasan yang ingin mereka sampaikan, tetapi belum tentu memiliki ruang untuk memperlihatkannya. Kami berharap semakin banyak galeri dan institusi seni yang membuka program seperti ini, sehingga semakin banyak pula pintu yang tersedia bagi seniman untuk memulai,â kata Neysa Soediro, Marketing Director RUCI Art Space.
Program tersebut, menurut RUCI, bukan semata-mata upaya untuk menemukan nama-nama baru dalam dunia seni rupa. RAW juga ditempatkan sebagai titik awal bagi seniman untuk mempertemukan karya dengan publik, membangun percakapan, dan mengembangkan perjalanan praktik mereka.
Ruang Tumbuh bagi Seniman
Didirikan pada 2014, RUCI Art Space mengawali perjalanannya melalui sebuah pameran yang digelar di ruang restoran yang telah ditinggalkan. Lebih dari satu dekade kemudian, RUCI berkembang menjadi ruang seni kontemporer di Jakarta Selatan dengan area pameran sekitar 200 meter persegi.
Nama RUCI merefleksikan fleksibilitas serta gagasan mengenai sumber cahaya, rasa, dan kenikmatan. Semangat tersebut kemudian menjadi bagian dari perjalanan RUCI dalam mempertemukan seni rupa dengan ekosistem kreatif yang lebih luas.
Selama lebih dari satu dekade, RUCI telah bekerja sama dengan seniman emerging maupun established dari Indonesia dan mancanegara. Kolaborasi tersebut berlangsung melalui pameran, partisipasi dalam art fair internasional, hingga kerja sama lintas disiplin dengan institusi, merek, ruang publik, dan kolektor privat.
Melalui RAW Vol. 2, RUCI kembali menempatkan ruang pamer bukan hanya sebagai tempat untuk melihat karya, tetapi juga sebagai titik pertemuan antara seniman, publik, dan berbagai gagasan yang berkembang dalam seni kontemporer Indonesia.
- Seni Rupa
- Pameran seni
- seniman Indonesia
- Seni Indonesia
- RUCI Art Wall
- RUCI Art Space
- Seni Rupa
- Seni Kontemporer
- RAW Vol. 2
- Seni Kontemporer Indonesia
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Kebakaran Hutan Prancis Menggila hingga Paksa 10.000 Orang Mengungsi
-
Scaloni Sampaikan Kabar Baik soal Messi, Berpeluang Tampil Sebelum Laga Perdana Piala Dunia
-
Belajar dari Jepang, Indonesia Diminta Bangun Makan Siang Sekolah Berbasis Petani Lokal
-
MR.D.I.Y. Indonesia Art Competition 2026 Umumkan Pemenang, Siap Wakili Indonesia di Ajang Regional
-
Fitur Username WhatsApp Resmi Meluncur: Cek Menu Pengaturan Akun untuk Reservasi
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.