Enam Provinsi Kritis Karhutla

Selasa, 11 Agu 2026, 03:07 WIB

JAKARTA - Pemerintah memfokuskan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di enam provinsi yang paling rawan, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat (Kalbar), Kalimantan Tengah (Kalteng), dan Kalimantan Selatan (Kalsel).

“Dari daerah yang kita waspadai sebagai daerah yang paling kritis ada enam provinsi yakni Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Riau,” kata Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Djamari Chaniago dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (10/8).

Ket. Foto: Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago (kanan) bersama Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni (tengah) dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto (kiri) bersiap mengikuti rapat koordinasi penanganan kebakaran hutan dan lahan di Gedung Utama Kemenko Polkam, Jakarta, Senin (10/8/2026) — Sumber: Antara

Menurut Djamari, enam provinsi tersebut menjadi perhatian karena memiliki kawasan lahan gambut yang rentan terbakar ketika kondisi kering pada musim kemarau dan diperparah pengaruh El Nino.

Selain enam provinsi tersebut, kebakaran juga terjadi di sejumlah kawasan lain, antara lain kawasan Gunung Bromo di Jawa Timur, Gunung Gede Pangrango di Jawa Barat, dan Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat.

Pemerintah mengerahkan sekitar 43 helikopter untuk membantu pemadaman karhutla dari udara di berbagai wilayah terdampak. “Kita mengerahkan sekitar 43 helikopter sampai dengan hari ini, ditambah dengan fixed-wing juga bisa antara 10 sampai dengan 15 sesuai dengan kebutuhan,” katanya.

Selain pemadaman melalui udara, pemerintah melakukan penanganan dari darat dengan menggunakan tangki fleksibel sebagai tempat penampungan air sementara untuk mendukung petugas di lapangan.

Djamari mengatakan pemerintah terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait untuk memastikan penanganan kebakaran berjalan secara terpadu.

Pemerintah saat ini menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda area seluas 107.000 hektare di sejumlah wilayah Indonesia.

Menurut Djamari, karhutla tersebut dipicu kekeringan dan fenomena El Nino yang sedang berlangsung. “Kita menghadapi El Nino yang kuat, yang sudah berlaku dan mulai berlaku sekarang sampai dengan awal September atau awal Oktober yang akan datang,” jelasnya.

Djamari mengatakan area yang terbakar seluas 107.000 hektare tersebut tersebar di sejumlah wilayah yang masuk kategori rawan dan tidak rawan karhutla.

Penanganan Maksimal

Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan penanganan karhutla secara maksimal dan terkoordinasi di tengah meningkatnya risiko kebakaran akibat kondisi kering dan penguatan El Nino.

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin, mengatakan Presiden memberikan arahan tersebut untuk mengantisipasi meluasnya karhutla di sejumlah wilayah Indonesia.

“Masa El Nino ini, masih banyak terjadi karhutla-karhutla di sebagian wilayah Indonesia. Beberapa yang sangat banyak jumlah titik api adalah di Kalimantan Barat dan di Kalimantan Tengah, dan yang cukup besar terjadi di Jawa Timur, di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru,” katanya.

Pemerintah, menurut Prasetyo, memberikan perhatian terhadap kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dengan memperkuat koordinasi bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur, TNI, Polri, Kementerian Kehutanan, dan pengelola taman nasional.

Koordinasi dilakukan untuk mempercepat pemadaman dan mencegah kebakaran meluas ke wilayah lainnya.

Selain mengoptimalkan pemadaman darat, pemerintah berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai kemungkinan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC).

Prasetyo mengatakan pelaksanaan OMC bergantung pada kondisi atmosfer sehingga tidak dapat dilakukan di setiap wilayah terdampak karhutla.

Pemerintah juga menyiagakan armada udara, termasuk helikopter dan pesawat untuk melakukan pemadaman dari udara pada lokasi yang membutuhkan penanganan tersebut. “Semua dimonitor, kemudian peralatan-peralatan termasuk water bombing, helikopter, dan pesawat-pesawat yang dapat membantu untuk mengatasi karhutla sesuai dengan petunjuk dan perintah Bapak Presiden tadi malam, hari ini semua kami koordinasikan,” katanya.

BMKG menyatakan penguatan El Nino pada periode musim kemarau meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Indonesia.

Pemerintah juga mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan serta menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran selama kondisi cuaca kering.

Terkait dengan modifikasi cuaca, Menko Polkam mengatakan upaya tersebut layak untuk dilakukan karena dianggap paling efektif untuk memadamkan api yang membakar lahan luas.

“Tetapi ada satu persyaratan yang harus kita hadapi, yaitu kita harus menemukan awan hujan. Selama awan hujan itu tidak bisa kita temukan, kita tidak akan bisa membuat hujan buatan,” kata Djamari.

Hingga saat ini, lanjut Djamari, pihaknya belum melihat adanya awan hujan di langit lokasi karhutla. Kendati demikian, dia meyakini awan hujan itu akan muncul dalam waktu dekat. Ant/S-2

Redaktur: Sriyono

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.