Pergeseran Demografi Jadi Alarm, Produksi Pangan Tak Bisa Lagi Jalan Lambat

Jumat, 07 Agu 2026, 20:10 WIB

JAKARTA – Akselerasi produksi pangan menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah meningkatnya kebutuhan konsumsi dan tantangan perubahan iklim.

Upaya ini tidak hanya bergantung pada perluasan lahan tanam, tetapi juga pada peningkatan produktivitas melalui penggunaan teknologi pertanian, benih unggul, mekanisasi, serta perbaikan sistem irigasi dan distribusi.

Ket. Foto: Ilustrasi - Petani memasukkan gabah kering panen (GKP) ke dalam karung saat proses penyerapan hasil panen oleh Bulog Kantor Cabang Bogor di wilayah Bogor, Jawa Barat. — Sumber: ANTARA/ HO-Perum Bulog

Jika dilakukan secara konsisten, percepatan produksi pangan dapat menjaga stabilitas pasokan dan harga, mengurangi ketergantungan pada impor, serta meningkatkan kesejahteraan petani melalui produktivitas yang lebih tinggi dan rantai pasok yang lebih efisien.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/ Bappenas) Rachmat Pambudy menyatakan pergeseran demografi di Indonesia menuntut akselerasi produksi pangan.

“Indonesia tengah menghadapi pergeseran demografi besar menuju Indonesia Emas 2045, dengan proyeksi penduduk mencapai 324 juta jiwa dan 70,7 persen di antaranya berada pada usia produktif. Kondisi ini menuntut akselerasi produksi pangan melalui modernisasi dan penguatan logistik,” katanya dari keterangan resmi, di Jakarta, Jumat (7/8).

Berbicaradalam Musyawarah Nasional IV Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia (PISPI) bertajuk “Sarjana Pertanian dalam Arah Kebijakan Nasional: Memperkuat Kedaulatan Pangan dan Pertanian Berkelanjutan,” Menteri PPN mengatakan, ancaman Triple Planetary Crisis yang mencakup perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan hilangnya keanekaragaman hayat, berpotensi mengganggu stabilitas produksi pangan global.

"Strategi business as usual dinilai dapat menimbulkan kerugian ekonomi akibat dampak iklim dan penurunan kualitas lahan," katanya.

Di tengah tantangan tersebut, lanjutnya, terdapat optimisme atas capaian domestik pada 2025, khususnya produksi padi dan cadangan beras yang didukung kenaikan luas panen sebesar 12,9 persen serta peningkatan produktivitas.

Menurut dia, arah transformasi pangan jangka panjang yang termuat dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045 menekankan sistem pangan tangguh berbasis eco-region dan hilirisasi komoditas pangan daerah, serta dijabarkan melalui konsep Trisula Pembangunan.

"Para sarjana pertanian Indonesia diharapkan dapat memperkuat sinergi dan mengawal arah kebijakan nasional menuju Indonesia Emas 2045. Apresiasi tertinggi saya sampaikan kepada para sarjana pertanian Indonesia yang konsisten menjadi pilar penggerak transformasi, inovasi, dan produktivitas demi mewujudkan kedaulatan pangan serta pertanian yang berkelanjutan,” ungkap Kepala Bappenas.

Menteri PPN turut menegaskan pentingnya kerja sama seluruh pemangku kepentingan. “Kedaulatan pangan yang berkelanjutan tidak dapat dicapai secara parsial. Ini adalah kerja kolektif yang membutuhkan kolaborasi multi pihak dan afirmasi tata kelola sumber daya yang solid,” ucap Rachmat Pambudy.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.