Dinas Perikanan: Kemarau Ganggu Budi Daya Ikan dan Udang di Cilacap
Kamis, 06 Agu 2026, 12:19 WIBCILACAP â Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Indarto menyatakan musim kemarau yang berlangsung cukup lama mulai mengganggu kegiatan budi daya ikan dan udang di wilayahnya akibat berkurangnya ketersediaan air dan perubahan kondisi perairan.
Saat ditemui di Cilacap, Jawa Tengah, Kamis (06/8), dia mengatakan dampak kemarau paling terasa pada sektor budi daya perikanan air tawar karena banyak pembudi daya menunda penebaran benih baru, sementara ikan yang sudah dipelihara mengalami perlambatan pertumbuhan.
Menurut dia, kondisi serupa juga mulai dirasakan pada budi daya udang di tambak akibat meningkatnya salinitas air.
"Berdampak banget karena sebagian daerah menjadi kekurangan air. Suhu udara cukup tinggi, kemudian muncul kondisi yang oleh pembudi daya dikenal dengan istilah bediding, sehingga pertumbuhan ikan menjadi lebih lambat," katanya.
Ia mengatakan keterbatasan pasokan air selama musim kemarau menyebabkan pembudi daya lebih berhati-hati dalam memulai siklus produksi baru.
Ia menilai kondisi tersebut meningkatkan risiko terhadap benih yang baru ditebar sehingga sebagian pelaku usaha memilih menunggu situasi lebih kondusif.
Selain penundaan penebaran benih, kata dia, ikan yang telah dipelihara juga mengalami pertumbuhan lebih lambat dibandingkan kondisi normal.
"Akibatnya, masa pemeliharaan menjadi lebih panjang sehingga biaya produksi berpotensi meningkat," katanya.
Ia mengatakan dampak kemarau tidak hanya dirasakan pembudi daya ikan air tawar, tetapi juga petambak udang, termasuk pembudi daya udang vaname yang menjadi salah satu komoditas unggulan di wilayah pesisir Cilacap.
Menurut dia, meningkatnya kadar garam atau salinitas air tambak selama musim kemarau turut memengaruhi laju pertumbuhan udang meskipun dampaknya tidak sebesar yang terjadi pada perikanan air tawar.
"Kalau tambak juga terpengaruh, walaupun pengaruhnya lebih sedikit. Salinitas sekarang cenderung tinggi sehingga pertumbuhan udang juga menjadi lebih lambat," katanya menjelaskan.
Di tengah perlambatan pertumbuhan tersebut, kata dia, harga udang vaname justru mengalami kenaikan di pasaran yang bergantung pada ukuran.
Menurut dia, kondisi tersebut dipengaruhi berkurangnya produksi sehingga pasokan menjadi lebih terbatas, sedangkan permintaan masih relatif stabil.
Kendati demikian, pihaknya belum dapat menyampaikan besaran penurunan produksi maupun nilai kerugian akibat kemarau karena pendataan di lapangan masih berlangsung.
"Hampir semua wilayah terdampak, tetapi data statistiknya belum selesai diverifikasi," katanya.
Selain sektor budi daya, kata dia, Dinas Perikanan Kabupaten Cilacap juga mencatat aktivitas perikanan tangkap belum menunjukkan peningkatan yang berarti.
Menurut dia, kondisi angin di perairan selatan Jawa masih memengaruhi aktivitas melaut sehingga hasil tangkapan nelayan belum meningkat secara signifikan.
Meskipun demikian, dia mengharapkan kondisi cuaca segera membaik agar nelayan dapat kembali melaut dengan lebih optimal karena musim kemarau biasanya menjadi salah satu periode meningkatnya hasil tangkapan sehingga aktivitas di tempat pelelangan ikan (TPI) ikut bergairah.
"Mudah-mudahan produksinya bertambah. Biasanya pada musim kemarau aktivitas di TPI mulai ramai karena hasil tangkapan nelayan meningkat," kata Indarto.
- Dinas Perikanan Cilacap
Redaktur: Bambang Wijanarko
Penulis: Antara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.