Penguatan Sektor Pariwisata Coba Disatukan dengan Ketahanan Pangan

Jumat, 31 Jul 2026, 12:22 WIB

JAKARTA – Ketahanan pangan dan penguatan destinasi wisata coba disatukan. Kementerian Koordinator Bidang Pangan bersama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) mendorong pengembangan konsep "food forest" di Parapuar, Labuan Bajo, guna memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendukung pembangunan destinasi pariwisata berkelanjutan di Nusa Tenggara Timur.

Sekretaris Deputi Bidang Keterjangkauan dan Keamanan Pangan Kementerian Koordinator Bidang Pangan Dirhansyah Conbul dalam keterangan yang diterima dari Labuan Bajo, Jumat, mengatakan setiap program pemerintah harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di daerah.

Ket. Foto: pangan dan wisata — Sumber: ist

"Apapun yang kita lakukan dalam program pemerintah utamanya harus memberikan manfaat bagi masyarakat secara lebih luas di tingkat tapak. Masyarakat Kabupaten Manggarai Barat harus mendapatkan manfaat langsung dari upaya mengangkat pangan lokal berbasis hutan menjadi sumber pendapatan yang dapat meningkatkan perekonomian masyarakat," katanya.

Komitmen tersebut mengemuka dalam kegiatan Sunset Dialogue bertema "Food Forest dari Lanskap Wisata Menuju Lanskap Ketahanan Pangan" yang digelar di Natas Parapuar.

Dialog itu menjadi bagian dari rangkaian kunjungan kerja monitoring implementasi ketahanan pangan daerah Kementerian Koordinator Bidang Pangan di Kabupaten Manggarai Barat dengan melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, akademisi, komunitas dan masyarakat.

Sebelum dialog berlangsung, para peserta melakukan penanaman pohon secara simbolis di kawasan Parapuar sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian lingkungan sekaligus pengembangan konsep food forest.

Berbagai jenis tanaman buah bernilai ekonomi ditanam, di antaranya mangga Miyazaki, Nam Dok Mai, Agrimania, Kiojay, jambu Black Diamond, alpukat Aligator Jumbo dan sawo Jumbo Thailand.

Ia menilai pengembangan pangan lokal berbasis hutan dapat menjadi sumber ekonomi baru yang berjalan berdampingan dengan sektor pariwisata sehingga manfaat pembangunan tidak hanya dirasakan dari meningkatnya kunjungan wisatawan.

Pelaksana tugas Direktur Utama BPOLBF Andhy M.T. Marpaung dihubungi dari Kupang, Jumat, mengatakan sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas, pembangunan Labuan Bajo perlu mengintegrasikan aspek pariwisata, ketahanan pangan dan pelestarian lingkungan.

"Melalui konsep food forest, kita menghubungkan pengembangan destinasi dengan ketahanan pangan sehingga pelestarian lingkungan, pemanfaatan pangan lokal, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan secara beriringan. Inilah wujud pembangunan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan," katanya.

Andhy menjelaskan kawasan Parapuar dikembangkan dengan konsep Ethno-Eco-Edu-Culture-Nature Conservation, yang menggabungkan pelestarian alam, penguatan budaya, edukasi, serta pemberdayaan masyarakat.

Menurut dia, kawasan tersebut diharapkan menjadi contoh pengembangan destinasi yang tidak hanya menghadirkan pengalaman wisata, tetapi juga berfungsi sebagai ruang konservasi, sumber pangan lokal, sarana edukasi, dan penggerak ekonomi masyarakat.

Kegiatan tersebut turut dihadiri perwakilan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, Kamar Dagang dan Industri Kabupaten Manggarai Barat, peserta Floratama Academy 2026, pelaku UMKM, serta perwakilan Persemaian Modern Satar Kodi.

Melalui kolaborasi lintas sektor, konsep food forest di Parapuar diharapkan menjadi model pengembangan destinasi wisata yang produktif, tangguh, dan berkelanjutan sekaligus memperkuat ketahanan pangan berbasis potensi lokal.

  • ketahanan pangan nasional
  • wisata alam

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.