Tantangan Sekolah Swasta: Persaingan Semakin Berat

Kamis, 30 Jul 2026, 19:16 WIB

SLEMAN – Sejumlah sekolah swasta banyak yang tutup karena berbagai persoalan, utamanya kekurangan murid. Hal ini juga menerpa sekolah-sekolah yang berada di bawah Yayasan Kanisius. Maka, kalaupun ada sekolah Kanisius yang masih bertahan, perjuangannya tidak ringan. “Persaingan semakin berat,” tutur Kepala Sekolah Dasar Kanisius Babadan, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Rosalia Herni Nugroho, S.Pd, Kamis (30/1).

Menurut suami Markus Retnanto ini, persaingan tak hanya dengan SD negeri yang gratis, tetapi juga dengan internal SD Kanisius sendiri. Sebab ada beberapa SD Kanisius yang “berdekatan” dengan Babadan seperti SDK Sengkan, SDK Kadirojo atau Demangan Baru.

Ket. Foto: Kepala SD Kanisius Babadan Rosalia — Sumber: aloysius widiyatmaka

Secara berselorok Rosalia menyatakan bahwa ini juga keberhasilan program Keluarga Berencana. Bahkan orang sekarang maunya satu anak, tak mau dua. Jadi, makin sedikit anak yang lahir. Tak heran bila sedikit yang masuk SDK Babadan. Tahun ini meluluskan 28 siswa, menerima 16 siswa baru dan dua pindahan. Total ada 125 siswa.

Ibu dua anak ini sudah 18 tahun berada di Yayasan Kanisius, terakhir dari Demangan Baru dan kini ditetapkan sebagai Kepala SD Kanisius Babadan. Ibu pelajar SMA Negeri 2Yogyakarta Bonaventura Prabaswara Osora dan murid SD Kanisius Wirobrajan, Ignatia Embun Jingga Prameswari, tersebut baru kurang lebih satu bulan di SD Kanisius Babadan. “Saya sudah betah walau baru sebulan. Komunitasnya lebih sedikit, tak sebesar di Demangan Baru, Jadi, cepat akrab,” ucap alumna Ekonomi Akuntansi Universitas Sanata Dharma ini. Dia lalu mengikuti program studi PGSD di UT.

Lalu apa kiat Rosalia menghadapi berbagai tantangan tersebut? Ada beberapa langkah yang ditempuh, seperti menjalankan tugas-tugas gereja, memperbaiki mutu pendidikan, promosi ke Taman Kanak-kanak, dan tentu saja di media sosial. Sedangkan dari sisi guru, sudah ada agenda rutin dari Yayasan untuk program-program pelatihan. Di luar itu, dari Babadan sendiri mengirim ke pelatihan-pelatihan. Ini juga bisa kerja sama dengan swasta seperti penerbit Erlangga.

Menurut Rosalia, saat ini masih melanjutkan program-program pendahulu. “Masih melanjutkan agenda era Bu Tanti, kepala sekolah terdahulu,” tandasnya. Selama sebulan di Babadan dia menilai bahwa anak-anak sopan-sopan, setiap ada orang baru memberi salam. Demikian juga dengan orangtua, mereka sangat membantu.

Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DIY mewajibkan sekolah mengenakan “Gagrak Ngayogyakarta” setiap Kamis Pon. Tadi juga terlihat dikenakan murid-murid SD Kanisius Babadan. Sungguh keren, pelajar mengenakan adat jawa. “Ini untuk mengenalkan adat Jawa, agar setelah itu, mampu melestarikan,” jelas wanita kelahiran 10 Oktober 1980 ini.

Gagrak Ngayogyakarta adalah pakaian adat atau gaya busana tradisional khas Yogyakarta yang bersumber dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Ciri khas utamanya meliputi penggunaan baju surjan atau kebaya, kain jarik dengan wiru khas Yogya, serta blangkon ber-mondholan.

20260730191345_gagrak2.jpg

Murid SDK Babadan berpakaian Gagrak Ngayogyakarta

Sedangkan dikenakan tiap Kamis Pon didasarkan pada hari bersejarah berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat serta hari Sri Sultan Hamengkubuwono I pertama kali memasuki Kedhaton.

Pakaian adat ini mestinya menggunakan selop di kaki, namun ada juga yang mengenakan sepatu biasa. Pakaian Gagrak juga dikenakan saat-saat tertentu seperti ulang tahun DIY dan Sleman. Pada tanggal 17 Agustus, siswa mengenakan pakaian merah putih untuk upacara. “Saya orang baru, pengalaman baru, mohon bantuan,” tutup Rosalia.

  • SD Kanisius Babadan
  • Tantangan sekolah swasta

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.