- Home
-
- Luar Negeri
-
- Ribuan Kapal Terjebak di S...
Ribuan Kapal Terjebak di Selat Hormuz Bisa Membawa Invasi Biologis ke Seluruh Samudra
Kamis, 30 Jul 2026, 00:00 WIBTEHERAN - Penutupan Selat Hormuz ternyata tidak hanya memicu gangguan rantai pasok global dan perdagangan energi. Para ilmuwan kini memperingatkan ancaman lain yang tak kalah serius, yakni potensi penyebaran besar-besaran spesies laut invasif ke berbagai belahan dunia akibat ribuan kapal yang terdampar selama berbulan-bulan di kawasan Teluk.
Dari The Guardian, dalam penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Biological Invasions, tim ahli biologi kelautan internasional menyebut situasi ini sebagai potensi "peristiwa penyebaran super invasi biologis" (biological invasion superspreader event), sebuah kondisi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah pelayaran modern.
Sejak Selat Hormuz ditutup pada 28 Februari setelah pecahnya perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran, lebih dari 1.500 kapal komersial terjebak di kawasan Teluk. Selama kapal-kapal tersebut tidak bergerak, bagian lambungnya menjadi tempat tumbuh berbagai organisme laut, mulai dari mikroba, alga, teritip, kerang, hingga berbagai invertebrata lainnya.
Menurut Mario Tamburri dari University of Maryland Center for Environmental Science yang memimpin penelitian tersebut, kondisi ini merupakan skenario terburuk bagi ekosistem laut dunia.
"Jika harus merancang skenario terburuk, saya tidak tahu apakah ada cara lain yang lebih buruk. Ini adalah badai yang sempurna," ujarnya.
Dalam kondisi normal, kapal biasanya hanya bersandar di pelabuhan selama satu hingga tiga hari sehingga organisme laut tidak sempat berkembang dalam jumlah besar. Namun, karena ribuan kapal di Teluk Persia telah diam selama berbulan-bulan, komunitas organisme laut tumbuh sangat padat di lambung kapal.
Ketika perdagangan kembali dibuka, organisme tersebut berpotensi ikut terbawa menuju berbagai pelabuhan di seluruh dunia. Akibatnya, spesies asing dapat menginvasi ekosistem baru, mengalahkan spesies lokal, menyebarkan penyakit, bahkan menyebabkan perubahan permanen pada lingkungan laut.
Tamburri menjelaskan bahwa perpindahan organisme ke habitat baru dapat menurunkan keanekaragaman hayati, bahkan memicu kepunahan lokal terhadap spesies asli yang kalah bersaing.
Selain mengganggu ekosistem, spesies invasif juga dapat merusak sektor ekonomi. Organisme tersebut mampu menghancurkan industri perikanan, menyumbat sistem pendingin pembangkit listrik, hingga menimbulkan biaya pengendalian yang mencapai miliaran dolar setiap tahun.
Teluk Persia sendiri telah lama dikenal sebagai salah satu pusat penyebaran spesies invasif laut. Penelitian sebelumnya menemukan puluhan spesies non-asli yang masuk melalui aktivitas pelayaran komersial.
Menurut Tamburri, suhu dan kadar garam yang sangat tinggi di Teluk membuat organisme yang hidup di sana memiliki daya tahan luar biasa.
"Mereka sudah terbiasa hidup di lingkungan ekstrem dengan suhu dan salinitas tinggi. Organisme yang mampu bertahan dalam kondisi seperti itu biasanya menjadi penjajah yang sangat efektif ketika memasuki wilayah baru," katanya.
Wilayah dengan karakteristik lingkungan serupa, seperti India dan Singapura, dinilai menjadi kawasan yang paling rentan menerima invasi biologis tersebut.
Penelitian juga memperkirakan setiap kapal telah melepaskan jutaan larva ke perairan Teluk selama masa tidak beroperasi. Saat kapal kembali berlayar, organisme yang menempel pada lambung kapal, hidup di air ballast, maupun berbagai parasit dan patogen yang ikut berkembang dapat menyebar dengan cepat melalui jaringan pelayaran internasional.
Karena itu, para peneliti mendesak pemerintah dan perusahaan pelayaran untuk melakukan pemeriksaan serta pembersihan lambung kapal sebelum meninggalkan kawasan Teluk. Pelabuhan tujuan juga diminta meningkatkan pemantauan terhadap spesies invasif dan menyiapkan sistem respons cepat.
Tamburri mengibaratkan penanganan ancaman ini seperti pengendalian wabah penyakit menular.
"Deteksi dini sangat penting. Pencegahan sebelum organisme tersebut menyebar jauh lebih efektif. Dalam banyak hal, penanganannya mirip seperti menghadapi flu atau Covid-19. Kita harus siap, mendeteksi sejak awal, lalu segera mengambil tindakan," ujarnya.
Organisasi Maritim Internasional (IMO) juga mengakui bahwa biofoulingâpenumpukan organisme pada lambung kapalâmerupakan salah satu jalur utama penyebaran spesies akuatik invasif. IMO merekomendasikan seluruh operator kapal mengikuti pedoman pengelolaan biofouling dan kini tengah menyusun aturan internasional yang mengikat untuk meminimalkan perpindahan spesies invasif melalui kapal.
Tamburri memperingatkan bahwa jika tidak ditangani, berbagai ekosistem laut bernilai tinggi seperti terumbu karang, padang lamun, hingga kawasan budidaya tiram dapat mengalami kerusakan permanen.
"Sebagian habitat laut paling berharga di dunia bisa terdampak, bahkan mengalami kerusakan yang tidak dapat dipulihkan. Ini merupakan versi 'penyebar super' dari cara kapal-kapal telah menyebarkan spesies invasif selama puluhan tahun," katanya.
Meski menegaskan bahwa keselamatan manusia tetap menjadi prioritas utama dalam konflik, Tamburri mengingatkan agar dampak ekologisnya tidak diabaikan.
"Konflik seperti ini memang membawa penderitaan manusia. Namun kita juga tidak boleh melupakan konsekuensi lingkungan yang dapat berlangsung jauh lebih lama," tutupnya.
- Blokade Selat Hormuz
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Pembagian daging kurban di Masjid Cut Meutia Jakarta
-
Microsoft dan Alunjiva Perluas Literasi AI Inklusif untuk Disabilitas dan Pemuda
-
PBB: Puluhan Juta Orang Berisiko Kelaparan karena Blokade Selat Hormuz Hambat Pengiriman Pupuk
-
Kota Tua Jakarta Bersiap Direvitalisasi
-
Ebola Kembali Meningkat, Perlu Tingkatkan Kewaspadaan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.