FIFA Bidik Dana 68,5 Triliun Rupiah dari Investor, UEFA Lontarkan Kritik Pedas
Rabu, 29 Jul 2026, 07:17 WIBZURICH â Rencana FIFA membentuk anak usaha komersial senilai 20 miliar dollar AS (sekitar 326 triliun rupiah) memicu gelombang kritik dari UEFA. Badan sepak bola Eropa itu menuding FIFA telah melewati batas dengan membuka peluang kepemilikan kepada investor swasta dan dianggap "menjual jiwa sepak bola."
Dalam pengumuman yang disampaikan Selasa (28/7) waktu setempat, FIFA mengungkapkan rencana membentuk perusahaan baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE) yang akan menangani seluruh aktivitas komersial dan penyelenggaraan turnamen FIFA, termasuk Piala Dunia.
Meski FIFA menegaskan tetap menjadi pemegang kendali penuh, organisasi yang dipimpin Gianni Infantino itu berencana melepas hingga 20 persen saham FFE kepada investor eksternal untuk menghimpun dana sekitar 4,2 miliar dillar AS atau setara 68,5 triliun rupiah.
Langkah tersebut dinilai sebagai salah satu perubahan terbesar dalam model bisnis FIFA sejak organisasi itu berdiri.
FIFA menjelaskan bahwa seluruh keuntungan bersih dari perusahaan baru tersebut akan dikembalikan untuk mendukung perkembangan sepak bola dunia.
Menurut Infantino, FIFA ingin memastikan pertumbuhan industri sepak bola tidak hanya dinikmati negara-negara elite, tetapi juga dapat dirasakan seluruh 211 asosiasi anggota.
"Sepak bola adalah olahraga paling populer di dunia dan merupakan penggerak luar biasa bagi pembangunan manusia serta masyarakat," kata Infantino.
"Sebagian dunia sepak bola telah mampu mengubah popularitas itu menjadi nilai komersial yang sangat besar. Kami menyambut keberhasilan tersebut karena memberikan manfaat bagi seluruh ekosistem sepak bola."
Ia menegaskan tugas FIFA adalah memastikan seluruh negara memperoleh kesempatan berkembang secara berkelanjutan.
"FIFA hadir untuk mendukung pembangunan sepak bola yang inklusif dan berkelanjutan di setiap penjuru dunia."
FIFA juga menegaskan bahwa perusahaan baru itu tidak akan memiliki kewenangan terhadap aspek olahraga. Seluruh keputusan mengenai regulasi, kalender pertandingan, penyelenggaraan kompetisi, hingga tata kelola sepak bola tetap sepenuhnya berada di tangan FIFA.
Penjelasan tersebut tidak mampu meredakan kekhawatiran UEFA. Dalam pernyataan resminya, organisasi yang dipimpin Aleksander Äeferin itu menyebut proposal FIFA telah melewati garis yang seharusnya tidak pernah disentuh oleh lembaga pengatur sepak bola.
"UEFA memandang persoalan ini dengan sangat serius. Demikian pula seluruh asosiasi nasional, liga, klub, pemain, suporter, pemerintah, dan siapa pun yang peduli terhadap masa depan sepak bola."
UEFA menilai tata kelola dan nilai-nilai sepak bola tidak boleh diperlakukan sebagai aset investasi.
"Jiwa dan tata kelola sepak bola bukanlah aset yang dapat diperdagangkan, terlebih tanpa transparansi mengenai siapa yang akan memperoleh keuntungan finansial. Tidak seorang pun memiliki sepak bola. Itu bukan sesuatu yang bisa dijual FIFA."
Pernyataan tersebut mempertegas memburuknya hubungan antara FIFA dan UEFA dalam beberapa tahun terakhir. Perselisihan kedua organisasi mencakup berbagai isu, mulai dari kalender pertandingan internasional, prosedur disiplin, penunjukan wasit, hingga penyelenggaraan kompetisi.
Ketegangan itu bahkan membuat Presiden UEFA Aleksander Äeferin memilih tidak menghadiri final Piala Dunia 2026.
FIFA mengungkapkan kelompok investor diperkirakan dipimpin Thrive Eternal, kendaraan investasi yang didirikan Joshua Kushner, adik ipar Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui kakaknya, Jared Kushner.
FIFA juga menggandeng JPMorgan Chase sebagai penasihat untuk mencari investor strategis. Sementara mantan CEO Liberty Media, Greg Maffei, ikut berperan sebagai penasihat komersial.
Thrive Eternal sendiri merupakan strategi investasi jangka panjang yang baru diluncurkan perusahaan modal ventura Thrive Capital. Tahun ini, perusahaan tersebut telah mengakuisisi saham minoritas klub bisbol San Francisco Giants.
FIFA menegaskan bahwa investor hanya akan memiliki kepemilikan minoritas dan tidak akan terlibat dalam operasional maupun pengambilan keputusan organisasi.
"Investor luar hanya akan memiliki saham minoritas di FIFA Forward Enterprise dan tidak akan memainkan peran operasional apa pun. Mereka berinvestasi pada anak perusahaan FIFA, bukan pada FIFA itu sendiri. Bagi FIFA, tidak ada yang berubah," demikian pernyataan resmi organisasi tersebut.
Penolakan terhadap rencana FIFA tidak hanya datang dari UEFA. Perdana Menteri Inggris Andy Burnham turut mengecam gagasan tersebut melalui media sosial X.
"Piala Dunia bukanlah sebuah produk. Itu adalah kompetisi olahraga terbesar di dunia dan tidak pernah menjadi milik siapa pun untuk dijual. Bungkus kesepakatan ini dengan cara apa pun, ketika Anda menjual sebagian darinya, berarti Anda telah menjual habis nilai yang dimilikinya."
Kritik serupa juga disampaikan profesor keuangan olahraga dari University of Notre Dame, Richard Sheehan, yang menyebut proposal tersebut sebagai upaya mencari keuntungan oleh kepemimpinan FIFA saat ini.
Menurut Sheehan, langkah tersebut bertentangan dengan status FIFA sebagai organisasi nirlaba yang seharusnya berfokus pada pengembangan sepak bola secara global.
Di sisi lain, FIFA berargumen dana yang diperoleh dari penjualan saham FFE akan digunakan untuk membentuk program pendanaan baru bagi seluruh asosiasi anggotanya. Melalui skema tersebut, setiap federasi nasional dapat mengakses bantuan modal hingga US$20 juta atau sekitar Rp326 miliar untuk pembangunan infrastruktur, pendidikan pelatih, pengembangan tim nasional, kompetisi domestik, sepak bola akar rumput, serta sepak bola putri.
Nilai bantuan itu direncanakan meningkat menjadi 24 juta dollar AS atau sekitar 391 miliar rupiah pada siklus 2035â2038.
Bagi Infantino, kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya "mendemokratisasi sepak bola dunia". Namun, bagi UEFA dan sejumlah pengamat, langkah itu justru berisiko mengubah wajah sepak bola internasional menjadi semakin bergantung pada kepentingan investor.
- Gianni Infantino
- FIFA
- Presiden UEFA
- Piala Dunia 2026
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Benny Mudesta Putra
Berita Terkait:
-
Spanyol Singkirkan Portugal 1-0, Gol Dramatis Mikel Merino Akhiri Karier Piala Dunia Cristiano Ronaldo
-
Harry Kane Cetak Dua Gol Dramatis, Inggris Lolos ke 16 Besar Piala Dunia usai Kalahkan RD Kongo 2-1
-
Profil Semifinalis Piala Dunia 2026, Semuanya Pernah Juara tapi dengan Karakter Berbeda
-
Piala Dunia, Prancis ke Semifinal, Deja Vu Kembali Atasi Maroko 2-0 seperti Tahun 2022
-
Piala Dunia, Andreas Schjelderup Kejutkan Inggris dengan Gol Spektakuler
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.